Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Operasi


__ADS_3

...Semoga operasiku ini berjalan lancar, dan aku juga akan segera bertemu dan melihat rupamu nanti....


...___________...


...~Syafira Putri Syafi'i~...


.........


Kini, Syafira telah berada di pelantaran rumah sakit di mana dia akan melakukan operasi hari ini juga. Seorang suster yang telah menunggu di depan pintu masuk rumah sakit itupun langsung bergegas menghampiri mobil Hafidz, setelah Hafidz melambaikan tangannya kepada suster tersebut. Dan kini Hafidz tengah berdiri di luar mobilnya, atau lebih tepatnya di samping pintu jok mobil di mana Syafira duduk.


Setelah suster itu datang menghampirinya dengan sebuah kursi roda, Hafidz pun langsung mengangkat tubuh Syafira dan mendudukan Syafira di kursi roda tersebut. Lalu, Hafidz pun langsung menutup pintu mobilnya dan mendorong kursi roda Syafira memasuki rumah sakit tersebut dengan tuntunan dari suster tadi.


"Silahkan masuk Mas, oh iya kata dokter operasinya akan dilakukan sekitar 2 jam lagi ya, jika tidak ada masalah dengan kondisi pasien." jelas suster itu setelah mereka sampai di salah satu ruangan rawat pasien.


"Baik Sus, terima kasih banyak, ya." timpal Reval sambil tersenyum.


"Iya, kalau begitu saya pamit dulu, permisi." pamit suster itu dan langsung pergi setelah Hafidz menganggukkan kepalanya kepada suster tersebut. Dan setelah kepergian suster itu, Hafidz pun langsung mendorong kursi roda Sang Adik memasuki kamar rawat pasien yang tadi diberi tahu oleh suster tadi.


"Ayo, Dek. Sekarang Adek istirahat dulu, 'kan nanti Adek bakalan melakukan operasi." ujar Hafidz yang setelah itu membantu Syafira untuk bangkit dari kursi roda itu dan menuntun Syafira menuju brankar yang telah tersedia di ruangan itu.


...


Waktu pun berlalu, Sang suster yang tadi mengantarkan Hafidz dan Syafira sampai depan ruangan ini pun kembali datang. Namun, kali ini dia tidak sendirian, karena ada Sang Dokter di belakangnya dan seorang suster lagi di belakang Sang Dokter.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ujar Sang Dokter memasuki ruangan itu dan menghampiri Hafidz dan Syafira. Oh iya, posisi Hafidz kini tengah duduk di kursi yang ada di samping brankar Syafira, sedangkan Syafira sendiri kini dia tengah berbaring di atas brankarnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." jawab Hafidz dan Syafira serentak.


"Bagaimana, Adek udah siap buat operasi sekarang?" tanya dokter yang masih terlihat muda itu.


"Insya Allah, saya siap, Dok." jawab Syafira dengan menampilkan senyuman merekahnya.


"Yaudah, kalau gitu kita cek tekanan darahnya dulu, ya." ujar dokter itu yang langsung diangguki oleh Syafira.


Sang Dokter dan salah satu suster pun langsung melakukan pengecekkan pada tekanan darah Syafira saat ini. Dan setelah melihat hasil pengecekkannya, ternyata tekanan darah Syafira sekarang normal dan tidak akan masalah, jika melakukan operasi sekarang juga.


"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke ruang operasi aja, ya." ujar dokter itu. Dan Hafidz pun langsung membantu Sang Adik untuk bangun dan menuntun Sang Adik menuju kursi roda yang sudah disiapkan oleh salah satu suster tadi.


Dan akhirnya, setelah beberapa menit kemudian, Hafidz pun tiba di depan ruangan operasi bersama dengan Sang Dokter dan para suster tadi. Dan salah satu suster tadi pun langsung mengambil alih posisi Hafidz untuk membawa Syafira masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Hafidz, dia pun menunggu operasi tersebut sampai selesai di luar ruangan operasi itu.


...


Di lain sisi, kini Reval tengah berbaring di atas brankarnya, tanpa menggunakan alat bantu medis lagi, kecuali infus yang tadi kembali dipasang oleh salah satu suster yang sempat memeriksa keadaan Reval tadi. Dan kini, diruangan ini Reval hanya tidak sendirian, melainkan kini dia tengah ditemani oleh Sang Bunda yang sedang menyuapi bubur untuknya.


"Bunda," panggil Reval, setelah menelan bubur yang berada di dalam mulutnya pada awalnya.


"Iya, kenapa?" tanya Sang Bunda, yang memberhentikan aktivitasnya untuk menyuapi Reval dengan bubur.

__ADS_1


"Bun, sekarang gadis itu sudah mendapatkan donor matanya, bukan? Jadi, Reval mau kembali lagi ke asrama yang lama, Bun." pinta Reval yang menjelaskan.


"Loh, tapi kenapa, Nak? Kenapa nggak lanjut sekolah di sana, aja?" tanya Sang Bunda yang keheranan.


"Hmmm ... Reval nggak mau buat dia celaka lagi, Bun." terang Reval yang sudah menampakkan tatapan sendunya.


"Celaka? Maksud kamu?" tanya Sang Bunda yang semakin merasa heran.


"Iya, Bun. Syafira terluka waktu itu adalah karena kehadiran Reval di SMA Sanubari. Sebab, ada salah satu siswa yang tidak menyukai kehadiran Reval di sekolah itu. Sehingga, membuat dia nekat melukai orang-orang yang dekat dengan Reval, seperti Syafira. Dan untuk sekarang, Reval nggak mau lagi membahayakan nyawa gadis itu Bun, karena kehadiran Reval di sana." jelas Reval.


Awalnya, Riska memang terkejut mendengarkan perkataan Reval, namun keterkejutan itupun berganti dengan sebuah kekhawatiran akibat ketakutan yang dimiliki oleh Sang Putra.


"Astaghfirullah, sebegitu nekatnyakah, dia? Bunda nggak menyangka, ternyata remaja yang masih seusia kamu ini sudah mau melakukan pembunuhan terhadap temannya sendiri." ujar Riska yang merasa tidak percaya.


"Iya, Bun. Maka dari itu, demi keselamatan Syafira, Reval ingin kembali ke asrama aja, Bun. Mungkin, inilah satu-satunya cara agar Syafira tidak akan tersakiti lagi di sekolah itu." timpal Reval meyakinkan Sang Bunda.


"Hmmm ... yasudah, nanti biar Bunda yang bilang sama ayah kamu, semoga saja ayah kamu bisa mengerti itu semua." ucap Sang Bunda sambil mengelus kepala Sang Putra dengan sayang dan lembutnya.


"Terima kasih, Bun." timpal Reval yang membalas perlakuan Sang Bunda dengan tersenyum manis ke arahnya.


"Iya, Sayang. Yaudah, sekarang buburnya dihabisin dulu, biar cepat sembuh." ujar Sang Bunda, yang kambali melanjutkan aktivitasnya untuk menyuapi Reval dengan semangkok bubur. Reval pun melahap bubur yang disuapkan oleh Sang Bunda dengan rakusnya. Ntah, itu karena lapar, atau ntah karena buburnya yang memang terasa enak bagi Reval. Sehingga, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Reval untuk menghabiskan semangkok bubur itu.


Dan sekarang bubur itu tinggal sesuap lagi, Sang Bunda pun langsung menyuapkan sendokan terakhir itu ke dalam mulutnya Reval yang sudah dia buka lebar-lebar. Dan habislah sudah bubur di dalam mangkok itu sekarang. Riska pun langsung menyodorkan segelas air putih kepada Sang Putra dan membantu Sang Putra agar bisa meminum air tersebut. Dan setelah itu, Riska pun langsung mengelap mulut Sang Putra yang sedikit berlepotan dengan sebuah tisu yang tergeletak di atas nakas, samping brankar Reval.

__ADS_1


"Maaf Sya, gue harus pergi dan ninggalin lo sendirian di sekolah itu. Gue berharap, semoga lo akan baik-baik aja di sana. Gue yakin, sahabat lo dan sahabat gue pasti akan jagain lo dengan baik di sana. Gue pamit Sya, Assalamu'alaikum ...." lirihnya di dalam hati.


__ADS_2