Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Awal Mula


__ADS_3

...Tak ada maksud untuk menyalahkanmu, karena inilah kenyataannya. Dan kenyataan harus diterima, bukan disalahkan....


...…...


Hari telah berganti. Syafira yang awalnya kehilangan tujuan hidupnya, akhirnya kembali bersemangat untuk melewati semua rintangannya. Tak ada lagi kesedihan yang tersirat di wajahnya, melainkan hanya ada senyuman bahagia yang dia rasakan.


"Assalamu'alaikum Dek, apa kamu sudah selesai?" Syafira yang mendengar suara kakaknya di luar itupun langsung saja meraih tongkatnya yang berada di samping kakinya. Lalu, setelah mendapatkan tongkat itu, Syafira pun memukul-mukul tongkat itu ke lantai dan menuju pintu kamarnya.


Syafira pun meraih gagang pintu kamarnya dengan meraba-raba sekitarnya. Walaupun Syafira kehilangan indra penglihatannya, namun tidak dengan indra perabaannya. Malahan, kini Syafira memiliki indra perabaan yang sangat kuat. Dan tidak hanya itu, melainkan semua indra yang dia miliki, kecuali penglihatan, menjadi sangat kuat dari pada biasanya. Allahu akbar, inilah kuasa Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, kecuali atas izin-Nya, Wallahu a'lam bishshawab.


"Wa'alaikumussalam Bang. Iya, aku udah selesai kok, Bang." ujar Syafira yang tak luput dari senyuman merekahnya. Jujur, ketika melihat Sang Adik yang seperti ini, hati Hafidz serasa begitu hangat. Hafidz benar-benar bersyukur, karena akhirnya Sang Adik sudah bisa menerima kenyataan dan kembali menjadi Syafira yang dulu.


"Yaudah, kita sarapan dulu, habis itu baru berangkat, ya!" ajak Hafidz yang diangguki oleh Sang Adik. Dan akhirnya, mereka berdua beranjak dari sana dan menuju lantai bawah, yaitu ruang makan. Oh iya, perlu kalian tahu, kalau Syafira sudah menyandang tasnya sedari tadi, yaitu sebelum Hafidz memanggilnya, karena tadi Syafira tengah berada di tempat tidurnya sambil bermenung. Dan ya, sekarang Syafira menuruni anak tangga dengan dituntun oleh Sang Kakak yang berada di sampingnya.


Setelah tiba di ruang makan, Hafidz langsung saja membantu Sang Adik untuk duduk di kursi meja makan. "Makasih Bang, maafin Ara, karena udah buat Abang repot." ujar Syafira merasa tidak enak hati. Hafidz tersenyum mendengar itu dan dia juga langsung ikut duduk di samping adiknya. "Udahlah Dek, inikan sudah tugas Abang, jadi Ara nggak usah ngerasa tidak enak lagi." jelas Hafidz sambil mengolesi roti tawar dengan selai cokelat.


"Nih, sekarang kita sarapan dulu, nanti kamu telat, loh." Syafira pun menerima roti pemberian Hafidz yang sudah diolesi selai cokelat itu tadi. "Makasih Bang," ujarnya. Hafidz pun hanya tersenyum menanggapinya, meskipun dia tahu, kalau Syafira tidak akan bisa melihat senyuman itu.


...


Setelah sarapan tadi, Syafira dan Sang Kakak pun langsung berangkat ke sekolahnya Syafira. Dan sekarang mereka berdua pun sudah berada di depan gerbang SMA Sanubari.


"Bang, Ara berangkat sekolah dulu ya, Assalamu'alaikum." pamit Syafira sambil mencium punggung tangan kakaknya.


"Adek yakin mau masuk sendiri?" tanya Hafidz yang tampak khawatir. Syafira pun tersenyum mendengar kekhawatiran kakaknya ini. "Insya Allah, Ara yakin kok, Bang. Yaudah, Syafira masuk dulu ya, Bang. Takutnya keburu bel nanti." ujar Syafira meyakinkan, lalu keluar dari mobilnya Hafidz, meninggalkan Hafidz yang masih diselimuti rasa kekhawatiran.

__ADS_1


"Ara tau Bang, Abang pasti mengkhawatirkan Ara. Tapi, maafin Ara, Bang. Karena Ara hanya tidak ingin membuat Abang sedih lagi." ujar Syafira di dalam hatinya, sambil mulai berjalan memasuki pelantaran SMA Sanubari, dengan menggunakan tongkat yang dia pukul-pukulkan ke tanah.


Banyak bisikan-bisikan dan tatapan mencemooh yang dilontarkan oleh orang-orang kepada Syafira, namun sayangnya Syafira sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Syafira pun terus berjalan menuju kelasnya. Ntah, bagaimana bisa gadis itu mengetahui di mana letak kelasnya, sedangkan dia sendiri tidak bisa melihat sekitarnya. Wallahu a'lam bishshawab, hanya Allah yang mengetahui hal itu dan Dia-lah yang memberikan anugrah itu kepada Syafira.


Dan setelah lama memukul-mukul tongkatnya di tanah, akhirnya Syafira pun tiba di depan sebuah kelas yang berada di lantai tiga. Mungkin, kalian bingungkan kenapa Syafira bisa sampai ke lantai itu? Ya, jawabannya tentu sangat mudah. Ini adalah keajaiban dari Yang Maha Pencipta, dia memberikan kekurangan dan menganugerahkan kelebihan.


"Alhamdulillah," lirihnya begitu senang, karena akhirnya di berhasil sampai di depan kelasnya, yaitu kelas XI.IPA2.


Baru saja Syafira akan kembali melanjutkan langkahnya, tiba-tiba pekikan dari suara seseorang yang sangat dia kenal, mengejutkan dirinya dan menghentikan langkahnya.


"Syafira!" teriak Kayla begitu senangnya, ketika mendapati Syafira yang tengah berdiri di ambang pintu kelas. Kayla yang berada di dalam kelasnya pun langsung beranjak dari kursinya dan berlari menghampiri Syafira.


"Kamu kok sekolah, Fir?" tanya Kayla begitu saja, sehingga membuat Syafira mengernyitkan dahinya karena bingung. "Jadi, setelah aku buta, apa aku nggak boleh sekolah lagi?" tanya balik Syafira.


Kayla yang baru saja menyadari pertanyaannya itu, langsung saja menjadi bungkam. Dia takut, jika Syafira merasa tersinggung dengan pertanyaannya tadi. Dan Syafira yang merasakan keterbungkaman sahabatnya itupun juga langsung tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Kay, aku tahu, kamu nggak bermaksud untuk menyinggungku." ujar Syafira yang tak kunjung luput dari senyuman merekahnya.


Selang beberapa detik mereka berpelukan dan pada akhirnya, bel pertanda masuk pun berbunyi. Sehingga, Syafira dan Kayla menjadi terpaksa untuk melepaskan pelukan mereka dan memilih untuk segera duduk di bangku mereka masing-masing.


...


Di lain sisi, Reval yang baru saja keluar dari mobilnya yang sudah terparkir di pelantaran SMA Sanubari, malah langsung dikerumuni oleh para siswi. Dan tentu hal itu sangat membuat Reval kesal. Bagaimana tidak mau kesal coba? Di hari pertama masuk sekolah baru, dia malah menjadi kerumunan orang-orang, apalagi jika sudah lama bersekolah di sini.


Kringgg!!


Bel pun sudah menggema di penjuru sekolah ini, dan apa-apaan ini? Bukannya pergi, mereka malah semakin menjadi banyak dan meminta Reval untuk berfoto dengan mereka. Jujur, Reval benar-benar merasa kesal dengan mereka semua. "Huh ... seandainya saja gue mau nerima tawaran kak Reno buat nganterin gue, pasti semua ini nggak bakalan terjadi, Astaghfirullah ...." desahnya yang sudah sangat kesal.

__ADS_1


"Permisi!" ujarnya dengan tersenyum ramah. Bukannya Reval membuat suasana menghening, namun malahan dia semakin membuat suasana menjadi riuh.


"Aaaa ... senyumannya manis sekali."


"Iiihhhh ... senyumannya kok manis sekali, sih?"


"Ululu, ucul sekali."


"Ha? Dia tersenyum ke arah gue?"


"Pengeran gue woi!"


"Tampan sekali ...."


"Aduh, damagenya berasa sekali ...."


"Aaaa ... bisa-bisa gue meleleh sekarang juga."


"Astaga, jantung gue."


"OMG, kayaknya gue harus konsul ke dokter, nih."


Reval yang sudah tidak tahan dengan keriuhan itupun, akhirnya langsung saja menerobos para siswi itu, tanpa peduli. Ya, Reval tidak peduli, jika dia sudah menyenggol pundak dari beberapa siswi yang berkerumun itu. Karena yang dia peduli sekarang hanyalah, bagaimana dia bisa segera sampai di kantor kepala sekolah.


Para siswi yang melihat kepergian Reval pun langsung mengejar Reval. Dan apalah daya Reval, dia menjadi terpaksa harus berlari untuk menghindari para siswi itu. "Astaghfirullah, pagi-pagi aja gue udah disuruh maraton, apalagi kalau siang nanti? Nasib-nasib ...." desahnya di saat berlari.

__ADS_1


Reval pun terus berlari menghindari para siswi itu, namun sayangnya para siswi itu semakin bertambah. Karena di saat Reval berlari tadi, banyak para siswi yang ada di kelas mereka melihat itu dan kebetulan sekali, kalau para guru belum memasuki kelas mereka. Melihat hal itu, malah semakin membuat Reval mendesah kesal. "Kalau tahu bakalan kayak gini, mending nggak usah pindah guenya, mah." desahnya lagi dan terus berlari menuju ruangan kepsek yang sudah berada di depan matanya saat ini.


__ADS_2