
...Jangan terlalu mudah untuk percaya pada suatu hal baru, karena hal itu belum tentu yang terbaik untukmu....
.........
Hari ini hanya ada sebuah kemalasan bagi gadis berjilbab navi ini. Setelah tadi pagi dia sholat subuh, Syafira pun langsung membuatkan sarapan untuk dirinya dan Hafidz. Lalu, berlanjut dengan mencuci pakaiannya dan pakaian Hafidz yang sudah kotor, dan itupun juga sudah selesai. Dan setelah itu, Syafira pun berlanjut dengan aktivitas membersihkan rumah. Dan ya, aktivitas itupun juga sudah selesai sekarang.
Hari ini tidak ada jam kuliah, mangkanya seharian ini Syafira menghabiskan harinya di dalam rumah. Namun, dengan berada di dalam rumah dengan seorang diri ini malah membuat dirinya merasa kesepian dan kebingungan.
"Kalau ada bang Hafidz di rumah, pasti aku nggak bakalan kaya gini sekarang, deh. Huh ... mau ngapain, ya?" bingungnya Syafira yang sejak tadi selalu setia berada di atas kasur empuknya. Namun, kesetiannya itu hanya semenjak dia selesai menunaikan ibadah sholatnya tadi. Sekilas, Syafira pun menjadi kepikiran untuk berkunjung ke panti asuhan. Dan alhasil, dengan pemikiran yang tiba-tiba muncul itu, Syafira pun langsung meraih gawainya yang terletak di atas nakas, sebelah tempat tidurnya itu. Lalu, mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Assalamu'alaikum Bu," salam Syafira di saat sambungan teleponnya telah terhubung.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ... ada apa, Ra?" tanya seseorang yang ada di balik panggilan itu.
"Hmm ... Ibu dan adek-adek panti lagi nggak ke mana-mana, bukan?" tanya Syafira merasa sedikit ragu.
"Memangnya ada apa, Ra?" tanya orang itu, sepertinya kebingungan.
"Hmm ... Ara mau main ke panti, Bu." timpal Syafira lagi dengan ragu-ragunya.
"Oh, mau main ke sini toh. Hmm ... sebenarnya boleh-boleh aja sih, Ra. Cuma, kalau hari ini kayanya Ara jangan ke sini dulu, soalnya Ibu dan anak-anak panti mau pergi." ujar orang itu lagi.
"Oh, gitu ya, Bu. Yaudah, kalau gitu biar lain kali aja Ara main ke sananya. Ara tutup teleponnya dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum ...." Setelah ibu panti itu menjawab salam darinya, Syafira pun langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.
"Hmm ... trus kalau nggak ke panti, ke mana lagi, dong?" monolognya Syafira.
...
"Saya terima nikah dan kawinnya Syafira Putri Safi'i binti Almarhum Bapak Reza Juliando, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat, di bayar tunai." ujar Reval dengan begitu lantangnya, tatkala mengucapkan qobul terhadap akadnya ini.
"Masya Allah ...." lirih Kayla, yang benar-benar tidak menduga, jika yang Reval nikahkan adalah sosok sahabatnya sendiri. Dengan senyuman dan tangisan haru, Kayla pun langsung membekap mulutnya itu.
"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu, yang mana berada di samping Hafidz yang kini tengah menjabat tangan sosok Reval di hadapannya.
"Sah!" seru semuanya dengan begitu semangatnya. Di mesjid ini, tak hanya Reval, Hafidz, Kayla, dan bapak penghulu saja. Namun, di dalam mesjid yang begitu luas ini, kini dipenuhi oleh para tamu undangan yang merupakan orang-orang yang paling penting untuk diundang, termasuk para sahabat Reval sewaktu di SMA Sanubari dan Adiwiyata waktu itu. Ya, kini Yoga, Vino, Ekal, dan Rangga juga ada di sini, menyaksikan sosok sahabat mengucapkan qobulnya.
"Alhamdulillah ... Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir." ucap bapak penghulu itu yang langsung di aamiinkan oleh semua orang.
__ADS_1
Bahagia dan lega, ya itulah yang tengah dirasakan oleh sosok Reval pada saat ini. Reval benar-benar tidak mengira, jika kini dia telah sah menjadi suaminya Syafira.
"Wah ... Kay, Reval aja udah nikah noh sam Syafira. Trus, lo dan Babang Yoga kapan mau nyusulnya?" tanya Vino tanpa pertimbangan sedikitpun.
Plak!
Ya, seperti biasa, Ekal pun menoyor kepalanya Vino. "Lo liat noh, di sana udah ada calonnya. Dan Yoga udah kalah telak saat ini." ujar Ekal yang menjadi orang sok tahu, tanpa tahu apa kebenarannya.
"Eh, siapa bilang?" ujar Rangga spontan. Ya, kini Rangga memang duduk sederet dengan mereka berempat, yaitu di antara Yoga dan Kayla.
"Ya elo, lah." jawab Yoga dengan ketusnya.
"Hahaha ... santai, Bro. Gue cuma temannya Kayla sejak kecil, kok. Dan kami pun juga nggak ada hubungan apa-apa. So, lo masih ada kesempatan kok, buat nyusul Reval." jawab Rangga dengan begitu santainya. Sedangkan, Kayla yang mendengar itupun langsung menatap Rangga dengan tidak percaya.
"Lo apa-apaan sih Ga, gue masih mau kuliah ya, dan tujuan hidup gue masih panjang." jawab Kayla tidak suka dengan pernyataan Rangga tadi.
"Ouh ... masih panjang, gue kira udah pendek." jawab Rangga dengan santainya.
"Iihh ... lo apa-apaan, sih." gerutunya Kayla yang seketika itupun langsung memukul Rangga menggunakan tasnya.
"Hmm ... kalau nggak ada apa-apa, nggak usah mesra-mesraan gitu juga kali. Ingat, ini mesjid bukan tempat mesra-mesraan." sindir Yoga, yang seketika itupun langsung bangkit dari duduknya dan memilih untuk menghampiri Reval yang kini sedang asik berbincang-bincang dengan para tamu undangan.
"Yoi, dia cemburu, hahaha ...." timpal Ekal yang juga ikut tertawa melihat kecemburuan sosok Yoga.
"Biarin aja, palingan juga nanti dia baikan lagi." desah Kayla dengan begitu santainya, lalu bangkit dari duduknya dan ...
Drtt ... drtt ...
"Wa'alaikumussalam Fir, ada apa?" tanya Kayla ketika dia sudah menganggkat panggilan telepon dari Syafira.
"Kamu lagi sibuk, nggak?" tanya Syafira di seberang telepon sana.
"Hmm ... memang ada apa, Fir?" tanya Kayla dengan ragu-ragunya.
"Aku mau ngajakin kamu keluar, kamu mau?" tawar Syafira.
"Siapa Kay?" tanya Reval dengan lirihnya, yang tiba-tiba saja muncul dari hadapan Kayla. Sehingga, membuat Kayla sempat terkejut awalnya.
__ADS_1
"Istri lo," lirih Kayla dengan kesalnya.
"Dia mau ngajak lo pergi?" tanya Reval dengan datarnya.
"Iya," jawab Kayla yang tak kalah datarnya.
"Oh ... bilang aja nggak bisa." timpal Reval dengan datarnya lagi, namun kali ini terdengar lebih tegas daripada biasanya.
"Hmm ...."
"Kay? Kamu masih di sanakan?" tanya Syafira di seberang telepon itu, tatkala dia tidak mendapatkan jawaban dari Kayla.
"Oh iya, masih di sini kok, Fir. Hmm ... kayanya hari ini aku nggak bisa Fir, soalnya aku juga lagi sibuk hari ini, maaf yah. Assalamu'alaikum ...." ujar Kayla yang seketika itupun langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
...
"Oh iya, masih di sini kok, Fir. Hmm ... kayanya hari ini aku nggak bisa Fir, soalnya aku juga lagi sibuk hari ini, maaf yah. Assalamu'alaikum ...."
Tut ... tut ... tut ...
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." lirih Syafira sambil menatap bingung ponselnya itu.
"Kayla kenapa, ya? Nggak biasanya dia memutuskan telepon seperti ini, sebelum aku menjawab salam darinya." monolog Syafira yang seketika itupun langsung bangkit dari duduknya.
"Ah, sudahlah. Mungkin saja dia memang lagi sibuk, kali." monolognya lagi. Dan dengan segera Syafira pun bangkit dari atas kasurnya itu. Namun, baru saja dia akan beranjak dari sana, suara pesan masuk pun membuat niatnya untuk ke kamar mandi langsung menjadi urung seketika itu juga.
Pink!
0895*********
P
Temuin gue di taman *** sekarang juga, gue tunggu lo di sana.
~Reval
Pesan singkat dari nomor tidak dikenali itupun sontak membuat Syafira langsung mengernyitkan dahinya karena bingung.
__ADS_1
"Reval? Loh, dia dapat nomor aku dari mana? Trus, dia ngapain ngajakin aku ketemuan di taman?" bingung Syafira. Namun, tanpa berpikir panjang lagi, Syafira pun pada akhirnya langsung bergegas untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Ya, pada akhirnya Syafira pun menuruti perintah dari nomor tidak dikenali itu. Ntah, itu memang nomornya Reval atau bukan, tidak ada yang tahu. Karena hanya Allah dan pemilik nomor itulah yang tahu untuk saat ini.