Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Karena Doamu


__ADS_3

...Tak pernah terbayangkan, bahwa hadirmu akan membuatku selalu merasa rindu....


.........


Hari telah berlalu, dan kini tibalah waktunya Syafira akan pergi ke Bandung. Dengan wajah yang terlihat begitu sendu Syafira pun mendudukan dirinya di kursi roda dengan bantuan dari Sang Kakak dan seorang suster. Hanya ada perasaan tidak enak dan tidak rela di dalam hatinya, ketika dia harus pergi tanpa bertemu dengan Reval terlebih dahulu.


"Reval, aku pamit, maaf jika aku harus pergi tanpa bertemu dengan kamu dulu." ujar Syafira di dalam hatinya.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan rawat Syafira pun terbuka, menampilkan Alex dan Riska yang tengah berada di ambang pintu. Riska pun langsung menghampiri Syafira dan memeluk Syafira dengan penuh kehangatan.


"Selamat ya Sayang, akhirnya hari ini kamu akan melakukan operasi mata juga." ujar Riska setelah melepaskan pelukannya.


"Makasih, Bunda." timpal Syafira yang kini telah menampilkan senyumannya.


"Iya Nak, jaga dirimu baik-baik di sana, ya." ujar Riska yang kembali memeluk Syafira dengan begitu hangatnya.


"Iya Bunda, Bunda juga, ya."


"Iya Sayang,"


"Yaudah Tante, Om, Hafidz dan Syafira berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum ...." pamit Hafidz yang sudah bersiap akan mendorong kursi roda Syafira.


"Iya, Nak Hafidz, hati-hati ya, jaga Syafira baik-baik di sana ya, Wa'alaikumussalam." ujar Alex sambil tersenyum.


"Iya Om, Insya Allah."


"Yaudah Bunda, Ayah, Syafira pamit, Assalamu'alaikum ...." pamit Syafira sambil mencoba untuk mencium punggung tangan Riska dan Alex.


"Wa'alaikumussalam ...." timpal mereka berdua sambil menyodorkan tangan mereka kepada Syafira.


Lalu, setelah itu, Hafidz pun langsung mendorong kursi roda Syafira meninggalkan ruangan itu dan diikuti oleh suster, yang tadi sempat membantu Syafira untuk duduk di kursi roda, dengan membawa tas yang berisikan pakaian Syafira di dalamnya. Dan ya, setelah meninggalkan ruangan itu, Syafira kembali terlihat murung.


"Adek nggak usah sedih ya, 'kan setelah operasi kita akan kembali ke sini, lagi." ujar Hafidz menenangkan Sang Adik. Syafira yang mendengar itupun langsung menampilkan lengkungan manis pada bibirnya.


"Iya Bang," balas Syafira sambil tersenyum. Dan Hafidz pun terus saja mendorong kursi roda Syafira, sampai pada akhirnya mereka pun tiba di parkiran rumah sakit, di mana mobilnya tengah terparkir sekarang ini.

__ADS_1


Hafidz pun langsung memberhentikan aktivitasnya mendorong kursi roda Sang Adik, lalu menggendong Syafira dan membawa Syafira masuk ke dalam mobilnya. Bukan tanpa sebab Hafidz berlaku seperti ini pada Syafira, Hafidz hanya ingin adiknya baik-baik saja, walaupun ini terlihat begitu berlebihan, mungkin.


Setelah membawa Sang Adik masuk ke dalam mobilnya, Hafidz pun langsung mengambil alih tas yang berada di genggaman suster tadi.


"Terima kasih, Sus." ujarnya sambil mengambil alih tas itu.


"Iya Tuan, sama-sama." timpal suster itu dengan sopannya, lalu berlalu dari sana, setelah dia pun berpamitan kepada Hafidz.


Hafidz pun langsung memasukkan tas yang berisi pakaian Sang Adik ke dalam bagasi mobilnya. Dan setelah itu, barulah dia juga ikut masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya, meninggalkan kawasan rumah sakit itu.


Selama perjalanan, tak ada sedikit pun perbincangan yang tercipta antara kakak beradik itu. Hafidz yang sibuk dengan kemudinya dan Syafira yang sibuk dengan pikirannya.


Pikirannya tiba-tiba saja pergi kepada masa lalu, di mana semuanya berawal pada malam itu. Kecelakaan yang tidak pernah dia ketahui, bahwa akan berujung seperti ini. Awal pertemuan yang juga membuat hati Syafira merasa tidak rela, jika harus berpisah.


Memori pada waktu itupun kembali terngiang, di mana Reval menemuinya di hari pemakaman almarhum Sang Abi dan almarhumah Sang Ummy. Pertemuan pertama yang dibentengi oleh keegoisan masing-masing. Syafira tidak pernah menduga, bahwa Reval bakalan mampu membuat tameng di hatinya menjadi sedikit goyah. Dan dia pun merasa bingung, kapan rasa itu mulai hadir. Bahkan, dia sendiri tidak menyadari hal itu. Namun, untuk sekarang, Syafira harus bisa menerima segalanya, dan yang terpenting baginya adalah kesembuhan pada matanya sekarang. Dia berharap, semoga setelah penglihatannya kembali, Syafira bisa melihat wajah Reval yang selama ini selalu menjadi lelaki idaman para wanita di sekolahnya.


"Reval, kutitipkan salam lewat tangis ini, semoga kamu cepat pulih dari kondisi kritismu, aamiin ...." lirihnya dalam hati.


...


Tut ... tut ... tut ...


Seorang suster pun memasuki ruangan itu, sambil membawa sebotol infus di tangannya. Lalu, menghampiri brankar Reval dan mulai mengganti botol infus yang sudah hampir habis.


Setelah mengganti botol infus tersebut, Sang Suster pun mengecek monitor detak jantung, lalu beralih ke pergelangan tangan Reval yang tengah terlilit oleh selang infus. Di saat suster itu mengecek denyut nadi Reval, tiba-tiba saja jemari Reval bergerak. Membuat Sang Suster langsung melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Reval, lalu dengan sedikit berlari keluar dari ruangan itu.


Dan tidak lama kemudian, suster tadi pun kembali masuk bersama dengan seorang dokter di depannya. Sang dokter pun menghampiri Reval, yang perlahan-lahan sudah mulai membuka matanya dengan sayup-sayup.


"Sya-syafira ...." lirih Reval dengan begitu pelannya di balik masker oksigen yang tengah berada di hidungnya.


"Sus, tolong beri tahu keluarga pasien, bahwa pasien telah sadarkan diri, dan suruh salah satu keluarga pasien segera menemui saya di ruangan saya!" suruh dokter itu yang langsung diangguki oleh Sang Suster. Dan suster itupun langsung pergi dari sana, dan begitu juga dengan Sang Dokter. Sehabis mengecek perkembangan Reval saat itu juga Sang Dokter pun merasa sedikit lega, lalu meninggalkan Reval seorang diri diruangan rawat itu.


Sepeninggalan Sang Dokter, Reval pun tidak henti-hentinya memanggil nama Syafira. "Sya ...."


"Sya-syafira ...."

__ADS_1


"Sya ... lo di mana?" lirihnya lagi untuk kesekian kalinya.


Reval pun mulai menggerakkan tangannya ke arah masker oksigennya berada. Dengan tenaga yang dia miliki, Reval pun melepaskan masker oksigen tersebut. Lalu, tangannya pun beralih kepada alat-alat yang menempel pada tubuhnya dan melepaskannya dengan begitu kasar. Dan alat yang terakhir dia lepas adalah selang infus. Dengan menahan rasa sakit yang dia rasakan pada punggung tangannya, Reval pun melepaskan jarum infus itu dengan paksa, sehingga mengeluarkan sedikit darah, namun Reval sama sekali tidak menghiraukan itu. Karena pikirannya sekarang, hanya Syafira. Dengan bersusah payah, Reval pun mencoba untuk duduk dengan tubuh yang terlihat begitu lemas. Namun, karena keegoisannya, maka dari itu, Reval pun terus mencoba untuk duduk dan akhirnya dia pun berhasil.


Reval pun mulai menurunkan kakinya secara perlahan-lahan, lalu mencoba untuk turun dari brankarnya dan ...


Brughhh!


"Reval!!" teriak mereka semua, yaitu Yoga, Vino, Ekal, dan Kayla, ketika melihat Reval yang terjatuh dari brankarnya. Dengan cepatnya, mereka berempat pun langsung menghampiri Reval.


"Hikss ... Sya, maafin gue ...." lirih Reval yang sangat membuat mereka semua terkejut.


"Hei Val, lo nangis?" tanya Yoga tidak percaya.


"Ha? Benaran?" ucap Vino yang tak percaya.


"Seriusan?" ucap Ekal yang juga merasa tidak percaya.


"Di-di mana Syafira?" tanya Reval yang sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan sahabat-sahabatnya.


"Dia udah pergi Val," jawab Kayla dengan sedikit sendu.


Deg.


"Pe-pergi?" Reval benar-benar merasa tidak yakin dengan pernyataan Kayla ini. Pemikiran negatif pun mulai menghantuinya sekarang.


"I-iya, Syafira udah mendapatkan donor mata, dan tadi pagi dia sudah berangkat ke Bandung." jelas Kayla merasa bingung dengan reaksi Reval.


Lega, itulah yang tengah di rasakan oleh Reval, di saat dirinya mengetahui kebenarannya. "Astaghfirullah, ampuni hamba Yaa Allah, karena sudah berfikiran yang tidak-tidak tadinya." lirihnya dalam hati.


"Oh iya, kemarin Syafira nitip ini buat lo," ujar Kayla sambil meronggoh sebuah amplop di dalam tasnya, lalu menyodorkannya kepada Reval.


"A-apa ini?" tanyanya lirih sambil mengambil alih amplop tersebut.


"Lo baca aja sendiri," timpal Kayla sambil mengedikkan bahunya tidak tahu.

__ADS_1


Reval yang sudah merasa penasaran pun akhirnya meraih tepian brankarnya sebagai pegangan untuk berdiri. Ekal, Vino, dan Yoga yang melihat tindakan Reval pun langsung membantunya untuk berdiri tegap, lalu membawa Reval untuk duduk di atas brankarnya. Sejak amplop itu berpindah tangan pada dirinya, Reval tak henti-hentinya menatap amplop itu dengan penuh penasaran akan isinya.


Dan setelah dia terduduk di tepi brankarnya, Reval pun langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isi amplop itu yang berisikan 3 lembar robekan kertas buku diary, yang tak lain adalah buku diary milik Kayla.


__ADS_2