
...Ini hidupku, bukan hidupmu, jadi urus saja hidupmu sendiri dan biar aku urus hidupku sendiri juga....
...…...
Di lain sisi. Bukannya pergi ke kelas, tapi pemuda ini malah pergi ke kantin. Ya, pemuda ini adalah Reval Setia Darma, putra dari Alex Darma dan Riska Aulianda. Setelah keluar UKS tadi, Reval pun langsung pergi ke kantin, bukan ke kelas, berbeda dengan teman-temannya yang malah ngocar-ngacir ke kelas mereka.
Eh, tapi ada yang aneh lho di kantin ini. Padahal, sekarang adalah jam PBM antara guru dan murid, akan tetapi kantin ini malah dipenuhi oleh para siswa dan siswi.
"Aaaa ... pangeran gue datang, woi!!" teriak Quela senang.
"Idihhh ... pangeran lo, ya kali Reval mau sama lo, hahahaha ...." ejek seorang siswa yang berada di meja lain. Dan namanya adalah Rendra.
"Ihhh ... awas lo ya Rendra!" ujar Quela yang langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri meja di mana pemuda itu tengah duduk.
Byurrrr!
Quela pun langsung menyiram Rendra dengan minuman milik Rendra sendiri, sehingga membuat Rendra terkejut yang disertai amarah.
"*nj*rt, untung aja lo cewek, kalau kagak udah gue pukulin juga lo sekarang." ujar Rendra sambil menunjukan kepalan tangannya ke arah Quela.
"Kenapa? Ayo, pukul! Nggak berani lo, ha? Lagak lo kaya cewe sekali, judes, tau lo?" tanya Quela dengan angkuhnya.
"Huh ...." desah Rendra yang setelah itu langsung meninggalkan gadis itu dan teman-temannya yang tengah duduk di sana.
Reval yang melihat kejadian itupun hanya bisa geleng-geleng kepala saja, sebelum akhirnya dia pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunta tadi. Reval pun menuju ke salah satu penjual nasi goreng.
"Permisi Bu, saya pesan nasi goreng sama teh hangatnya satu ya, Bu." ujar Reval ketika sampai di sana.
"Eh iya, oke Den, ditunggu ya." ujar ibu penjual nasi gorong itu. Siswa dan siswi SMA Sanubari biasa memanggil beliau dengan sebutan Ombok Ijum. Namun, karena Reval belum mengenal lingkungan sekolah ini, mangkanya dia memanggil Ombok Ijum dengan sebutan ibu, seperti tadi.
Reval pun tidak memilih untuk duduk, namun dia lebih memilih untuk tetap berdiri dan menunggu di sana saja. Reval pun meronggoh ponselnya yang ada di dalam saku, lalu membuka ponselnya dan mulai menuju ke media sosial yang dia miliki.
...
Kayla, Yoga, Ekal, dan Vino terus saja berlari-lari menuju lantai tiga, yang lebih tepatnya menuju kelas mereka. Dengan perasaan takut, sekaligus was-was mereka pun berlari sekencang-kencangnya dan ...
"Assalamu'alaikum, mohon maaf Buk, kami terlambat." ujar Kayla saat tiba di ambang pintu, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sambil mencoba mengatur sesak nafasnya di dada.
Krik-krik ... krik-krik ...
"Hahahahaha ...." Tidak lama kemudian tawa pun menggelegar di kelas itu, membuat Kayla dan ketiga orang laki-laki itu langsung menoleh ke dalam kelas.
"Kalian kenapa, woi?" tanya Renata yang masih tertawa. Keempat murid itupun langsung menatap Renata dengan bingung. Dan bukannya menjawab, Kayla malah bertanya kepada gadis itu. "Lah, buk Jasmin mana?" tanya Kayla dengan polosnya.
__ADS_1
"Hahaha ... kalian dari mana aja, sih? Jelas-jelas hari ini kita free, karena guru ada rapat di aula." Bukan Renata yang menjawab, namun Fina lah yang menjawab untuk kali ini.
"Ha?" ujar keempat makhluk itu serentak.
"Kan tadi udah dikasih tau di grup, memang kalian nggak baca?" tanya Fina. Dan jawaban yang mereka dapatkan adalah gelengan.
"Huhhh ... percuma aja gue nulis sepanjang ntah, tapi nggak kalian baca sama sekali." ungkap Fina kesal.
"Hehehe ... sorry Beb, Ayang Vino tadi lagi ada urusan." ujar Vino cengar-cengir.
"Beb-yang, Beb-yang, lo kira gue pacar lo, apa?" ujar Fina kesal.
"Ya ... kalau Bebeb Fina mau, Ayang Vino siap, kok." ujar Vino dengan asal-asalan.
"Ogah!!" seru Fina dengan sedikit berteriak.
"Ng-" Belum sempat Vino melanjutkan perkataannya, Ekal sudah memotong pembicaraan pemuda itu terlebih dahulu.
"Eh, kalian liat Reval, nggak?" tanya Ekal kepada semua penghuni kelas. Dan jawaban yang dia dapatkan adalah gelengan dari mereka semua.
"Eh kadal, pantasan sedari tadi gue nggak ngerasa kedinginan." ujar Vino dengan polosnya.
"Lah, trus dia ke mana? Bukannya dia tadi ...." Kayla yang baru sadar akan sesuatu langsung saja berlari dari sana dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, meninggalkan ketiga pemuda itu.
"Ikutin, goblok lu pada, ah." celetuk Yoga yang langsung menyusul Kayla. Berbeda dengan kedua pemuda itu yang malah menatap Yoga dengan bingung.
"Kenapa, sih?" tanya Vino kepada salah satu sahabatnya yang masih ada di sampingnya ini.
"Udah ah, yang penting ikutin aja." celetuk Ekal yang langsung menarik kerah baju Vino dengan asalan.
"Eeeeh ... woi lepasin!" perintah Vino yang malah diacuhkan oleh Ekal. Malahan, dia terus saja menarik kerah baju sahabatnya itu.
"Iiihhh ... lepasin goblok!" perintah Vino sekali lagi yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Ekal dari kerah bajunya. Dan karena sudah lelah menyeret Vino dari lantai dua sampai lantai dasar ini, akhirnya Ekal pun melepaskan cengkramannya.
"Huh ... ternyata badan lo berat juga, ya." ujar Ekal setelah melepaskan cengkramannya.
"Ishhh ... tu lo tau, trus ngapain lo masih tarik-tarik baju gue, bangsul." timpal Vino yang menatap Ekal dengan kesal.
"Ya, biar elo nggak nempel mulu sama tu calon ibu anak-anak gue." ujar Ekal dengan entengnya.
"Woi, en-"
"Kalian?" tanya Reval yang tiba-tiba saja datang.
__ADS_1
"Lo?" ujar kedua pemuda itu serentak.
"Iya, ini gue." timpal Reval dengan dinginnya.
"Masih dingin aja, lo." gerutu Vino mendelik kesal.
"Taulah, ngapain kalian di sini, trus cewek itu sama siapa di sana?" tanya Reval mengernyitkan dahinya.
"Seharusnya, bukan lo yang nanya, tapi kami. Ke mana aja, lo? Pergi nggak bilang-bilang. Dan ini?" tanya Ekal yang diakhiri dengan menunjuk kantong kresek yang berisi nasi goreng kotak dan sekotak teh hangat.
"Bukan urusan kalian," jawab Reval enteng, lalu berlalu dari hadapan mereka semua, tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Eh Val, jawab dulu!" titah Ekal yang sama sekali tidak digubrisi oleh Reval. Dan akhirnya Ekal pun terpaksa mengikuti ke mana Reval pergi. Begitu juga dengan Vino yang terlihat begitu tidak bersemangat untuk sekarang ini.
"Haduhhh ... begini amat nasib gue hari ini, lelah gue." gerutunya dengan kesal. Namun, langkah demi langkah dia tetap menyusul kedua pemuda di depannya itu. Sampai pada akhirnya, mereka bertiga pun sampai di depan pintu UKS.
"Ha ... ini dia," ujar Yoga sambil berkacak pinggang menatap Reval.
"Kenapa?" tanya Reval dengan dinginnya.
"Lo ke mana aja, sih?" tanya Kayla dengan kesal.
"Bukan urusan lo," ujar Reval yang langsung meletakan bukusan yang dia bawa dari kantin tadi, ke atas nakas yang berada di samping brankar Syafira terduduk.
"Ya jelaslah ini urusan gue, kenapa lo tega-teganya ninggalin Syafira sendirian?" tanya Kayla dengan kesal.
"Lah, tadikan bukannya dia lagi bersama lo, mangkanya gue pergi." jawab Reval seadanya.
"Ya jelas nggaklah, dan lo dari mana aja? Kenapa nggak ngasih tahu kita kalau sekarang lagi free?" tanya Kayla yang masih merasa kesal dengan Reval.
"Ya ... gue pikir kalian udah tahu, mangkanya gue diam." ujar Reval seadanya.
"Ishhh ... dasar anak baru, baru dua hari aja udah berlagak sombong kaya gini, huh ...." gerutu Kayla begitu saja.
"Astaghfirullah Kayla, kamu nggak boleh kaya gitu, jangan ngehina orang lain, nggak baik." ujar Syafira menasehati sahabatnya ini.
"Tapi, Fir ...." keluh Kayla tidak terima.
"Lo ngehina gue? Yaudah, gue permisi dulu. Assalamu'alaikum ...." ujar Reval yang langsung menghentikan aktivitasnya tadi dan memilih untuk keluar saja dari ruangan itu.
"Iihhh ... gitu aja kok udah marah, banci sekali lo jadi orang." ungkap Kayla dengan menatap Reval jijik.
"Kayla!" peringat Syafira yang langsung membuat Kayla mendelik kesal. Sedangkan, ketiga pemuda yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam saja, dan setelah itu mereka pun memilih untuk pergi dari sana tanpa berpamitan terlebih dahulu.
__ADS_1