
...Tetaplah bertahan dan jangan pernah lemah, karena aku yakin kamu pasti bisa!...
.........
Sejak tadi, Hafidz tak henti-hentinya mondar-mandir di depan ruangan UGD, sampai pada akhirnya, Riska, Alex, Reno, dan Kanya pun tiba.
"Nak Hafidz, apa yang terjadi?" ujar Riska langsung. Tak lupa dengan air matanya yang telah mengalir membasahi pipinya.
"Saya juga tidak tahu Tan, tapi mungkin teman-temannya Reval bisa mengatakannya." ujar Hafidz yang tak kalah kusutnya dibandingkan dengan Riska.
Hafidz benar-benar merasa takut sekarang ini, dia takut jika nanti Sang Adik juga akan meninggalkannya seorang diri di dunia ini. Setelah mengatakan itu, Hafidz pun kembali mondar-mandir di depan ruangan UGD, sampai pada akhirnya, seorang suster keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa, sehingga mengabaikan pertanyaan yang Hafidz tujukan kepada suster itu.
Dan tak lama kemudian, suster tadi pun kembali lagi dengan sekantong darah di tangannya. Sehingga, membuat semua orang yang ada di sana menjadi semakin khawatir. Terlebih-lebih lagi Hafidz yang sebagai seorang kakak dari korban. Hafidz benar-benar terlihat begitu putus asa akan apa yang terjadi sekarang ini.
Dengan lemasnya, Hafidz pun mendudukan dirinya di kursi tunggu. Air mata yang sudah tidak tahan lagi untuk dibendung, akhirnya mulai keluar begitu saja. Diusapnyalah wajahnya dengan begitu kasar, menatap lurus tak tentu arah.
Reno yang merasa kasihan dan mengerti dengan kondisi sahabatnya sekarang pun langsung menghampiri Hafidz dan mencoba menguatkan Hafidz yang terlihat begitu frustasi.
"Fidz, lo harus sabar, adik lo pasti bakalan baik-baik aja, gue yakin itu, Fidz." ujar Reno menguatkan Hafidz. Hafidz pun menatap Reno dengan sendu, walaupun hanya untuk sebentar saja, karena Hafidz kembali menatap lurus tak tentu arah.
"Saya tahu No, tapi saya tidak yakin sama sekali. Dan saya takut No, saya takut." ujar Hafidz yang mulai terisak dengan tangisannya sendiri. Hafidz tak peduli sama sekali, jika dirinya akan dikatakan cengeng sekarang, karena yang paling penting baginya adalah kepulihan Sang Adik yang tengah melawan mautnya.
Hafidz merasa telah menjadi sosok kakak yang paling buruk, karena tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Hafidz benar-benar merasa kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tapi, apalah daya, semuanya telah terjadi dan nasi telah menjadi bubur. Dan sekarang dia hanya bisa pasrah saja atas apa yang akan terjadi nantinya.
__ADS_1
"Fidz, lo jangan seperti ini, jika Syafira tahu, dia pasti akan merasa sedih." bujuk Reno sambil mengusap pundak sahabatnya itu dengan lembut.
"Gue takut No, gue takut Syafira akan ikut meninggalkan gue di dunia ini. Gue nggak mau, jika hal itu sampai terjadi, gue nggak mau, No." ujar Hafidz sedikit membentak.
"Gue tau Fidz, tapi lo nggak boleh seperti itu, ingat Allah masih ada bersama kita, yakinkan saja semuanya pada-Nya!" ujar Reno menasehati. Hafidz yang mendengar hal itupun hanya bisa menelungkupkan kedua wajahnya pada kedua telapak tangannya. Dan Reno terus saja mengusap-usap bahu sahabatnya itu.
...
Di ruangan yang dipenuhi oleh bau obat-obatan ini, terdapat dua makhluk yang berbeda jenis kelamin. Mereka adalah Reval dan Syafira. Tak henti-hentinya Reval dan Syafira ditangani oleh para dokter sejak tadi. Para dokter terlihat begitu sibuk menangani kedua remaja itu. Meskipun, Reval sama sekali tidak terluka, namun ntah kenapa kondisinya juga menjadi drop seperti ini. Detak jantung Reval pun menjadi melemah sejak tadi. Maka dari itu, tak henti-hentinya para dokter memeriksa keadaan Reval sejak tadi.
Dan begitu juga dengan Syafira yang terus mengalami pendarahan yang luar biasa pada pinggangnya, sehingga membuat Syafira harus melakukan tranfusi darah. Sang Dokter dan para suster terus berusaha menjahit luka pada pinggang Syafira tersebut. Dan tak lupa, salah satu dokter dan juga perawat yang selalu melihat perkembangan detak jantung Syafira di depan monitor.
Kondisi kedua remaja ini benar-benar terlihat begitu buruk. Meskipun, mereka tidak sama-sama terluka, namun mereka sama-sama mempertaruhkan nyawa, itulah yang tengah mereka alami sekarang ini.
"Periksa denyut nadinya, Sus!" perintah dokter itu, yang tengah sibuk melihat monitir detak jantung Reval. Dengan segera saja suster tersebut meraih pergelangan tangan Reval dan memeriksa denyut nadi pria itu.
Perlahan-lahan tapi pasti, mata Reval pun sayup-sayup terbuka. Kini, arah pandangnya mengarah kepada Syafira yang terbaring lemah dengan berbagai alat di sekujur tubuhnya. Matanya begitu terlihat sendu, sampai air matanya sendiri tidak dia sadari telah menetes begitu saja.
"Sya bangunlah, kakak lo pasti nungguin lo di luar. Lo harus kuat Sya, lo harus kuat. Dan lo nggak boleh lemah, lalu ninggalin mereka semua. Gue yakin, lo pasti bisa, Sya." setelah mengatakan itu di dalam hatinya, tiba-tiba mata Reval pun kembali tertutup dan detak jantungnya tadi semakin melemah. Membuat para dokter dan suster langsung melakukan tindakan secepat mungkin kepada Reval.
...
Di ruangan yang gelap, Syafira duduk sendirian, antara takut dan bingung. Dia tak tabu berada di mana sekarang. Syafira pun melihat sekitarnya, mencari orang lain yang bisa membantunya. Namun, sayangnya di ruangan yang gelap ini sama sekali tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. Dan karena merasa ketakutan, akhirnya Syafira pun menangis begitu lirih.
__ADS_1
"Ummy ... Abi ... kalian di mana?" ujarnya di sela isak tangisnya.
"Ara takut, My, Bi." rintihnya lagi.
Sampai pada akhirnya Syafira mendengar samar-samar suara seseorang yang sangat dikenalinya selama ini.
"Sya bangunlah, kakak lo pasti nungguin lo di luar. Lo harus kuat Sya, lo harus kuat. Dan lo nggak boleh lemah, lalu ninggalin mereka semua. Gue yakin, lo pasti bisa, Sya." Syafira yang mendengar itupun langsung berdiri dari duduknya, mencari sumber dari mana suara itu berasal.
"Reval, kamu di mana?" tanya Syafira frustasi, ketika dia sama sekali tidak melihat dan menemui keberadaan Reval.
Lalu, tak lama kemudian, sebuah cahaya menyinari ruangan gelap ini. Syafira menatap cahaya itu dengan bingung sebelumnya, namun tidak lama kemudian, Syafira pun melangkah menuju asal cahaya itu dengan perlahan-lahan, sampai dia memasuki cahaya itu pada akhirnya.
...
"Dokter, detak jantung pasien semakin membaik," seru salah satu suster yang menangani Syafira.
"Terus pantau, Sus!" suruh dokter itu yang terus melakukan pekerjaannya. Dan suster tadi itupun langsung mengangguk kepada Sang Dokter.
Berbeda dengan Syafira, Reval sejak tadi sangatlah membuat para dokter merasa cemas, karena detak jantungnya yang semakin lama semakin melemah. Sampai pada akhirnya, detak jantung Reval berada di ambang hidupnya. Membuat para dokter dan suster yang menanganinya langsung mengambil tindakan cepat.
Sang Dokter pun langsung mengambil alat defibrilator untuk memacu detak jantung Reval yang tengah berada di ambang hidupnya. Sang Dokter pun menggosok-gosokan kedua defibrilator tersebut, lalu meletakannya di atas dada Reval, lebih tepatnya di bagian jantung seseorang berada. Mendapatkan panasnya defibrilator itu, seketika tubuh Reval langsung terlonjak terkejut.
Sang Dokter pun terus mengulangi hal itu, sampai pada saat mulai membaiknya detak jantung Reval, meskipun itu masih melemah, namun itu lebih baik dari pada detak jantungnya yang berada di ambang kehidupannya. Sang Dokter dan para suster pun akhirnya bisa bernafas lega, walaupun hanya untuk sementara.
__ADS_1