Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Persahabatan


__ADS_3

...Bukan soal waktu, tapi soal seberapa pedulinya seseorang....


...…...


Di sini, di bawah pohon besar, Reval hanya duduk sendirian termenung. Tubuhnya mungkin ada di sini, namun nyawanya berada di kejadian yang terjadi di kantin tadi.


Flashback on


Setelah mendapatkan pesanannya, Reval pun langsung membayar pesanannya itu dan langsung pergi dari sana. Awalnya, keadaan di saat Reval berjalan hanya baik-baik saja, sampai pada akhirnya di saat dia sudah tidak berada di kawasan kantin lagi, seorang siswa tiba-tiba memberhentikan langkahnya.


Reval pun sontak terkejut saat itu, apalagi siswa yang membuat langkahnya terhenti itu adalah Rendra, cowok yang sempat bertengkar dengan Quela tadi saat di kantin.


"Heh, lo murid baru itukan?" tanya Rendra dengan sinisnya kepada Reval.


"Iya," jawab Reval dengan dinginnya.


"Ha ... bagus deh, kalau kita ketemu di sini." ungkap Rendra sambil tersenyum sungging.


"Hmmm ...." Reval pun hanya berdehem sebagai responnya, karena tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Dingin amat lo, Bro." ungkap Rendra.


"Urusannya?" tanya Reval dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Huh ... sombong, lo. Lo nggak nyadar apa, kalau lo itu masih anak baru, jadi jangan sok-sok buat cari muka di depan cewek-cewek sini." jelas Rendra dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Reval hanya diam saja sambil menatap pria itu dengan tajam.


"Seharusnya, lo itu nggak ada di sini, cowok lemah kaya lo ini, nggak pantas ada di sini. Dan lo juga nggak pantas dipuja-puja oleh para cewek itu. Karena yang pantas dipuja-puja di sini itu adalah gue, bukan lo." jelas Rendra lagi, namun diakhiri dengan jari telunjuknya yang mendorong bahu Reval.


"Lo bisa santai aja nggak, sih? Ya, gue tau, gue ini anak baru, tapi seharusnya lo nggak kasar kaya gini sama gue." bentak Reval tidak terima di saat mendapatkan perlakuan Rendra seperti itu padanya.


"Huhh ... udah deh, lo jangan sok berani dan jangan belagu jadi orang." caci Rendra dengan menunjuk-nunjuk wajah Reval.


Reval pun langsung menangkap jari telunjuk Rendra yang mengarah ke arahnya. Sehingga, membuat Sang Pemilik jari menatap Reval dengan tajam.


"Gue udah peringatin lo tadi ya, jadi jangan salahin gue, kalau jari lo ini patah." ujar Reval yang langsung menekukan jari telunjuk Rendra, sehingga menimbulkan bunyi pergeseran antara tulang-tulangnya. Dan membuat Sang Pemilik Jari meringis kesakitan, namun Reval sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Reval pun langsung beranjak pergi dari sana bersama dengan kantong kresek yang sejak tadi berada di tangannya.

__ADS_1


Flashback off


Semua kejadian itu telah membuat Reval termenung begitu saja, apalagi perkataan dari Kayla yang membuat Reval sangat tersinggung. Dia tahu, dia hanya anak baru sini, lalu mengapa mereka semua malah menghina dirinya. Tidak bisakah mereka menghargai Reval yang notabenya sebagai anak baru di sekolah ini?


"Hei, lo kenapa Val?" tanya Yoga yang baru saja datang bersama kedua sahabatnya itu. Yoga, Ekal, dan Vino pun akhirnya ikut untuk duduk di sana bersama Reval. Reval yang menyadari kedatangan ketiga pemuda itupun hanya bisa diam tanpa memberikan sedikit respon.


"Lo kenapa, Val? Lo tersinggung sama perkataan Kayla?" tanya Ekal yang juga ingin tahu sahabatnya ini kenapa. Ya, ketiga pemuda ini memang sudah menganggap Reval seperti sahabatnya sendiri, meskipun mereka baru mengenal Reval dua hari ini.


"Iya Val, lo kenapa, sih?" tanya Vino yang juga merasa penasaran dengan masalah sahabatnya ini. Reval yang mendapatkan pertanyaan dari ketiga sahabatnya itupun akhirnya memperbaiki posisi duduknya dan menatap ketiga pemuda itu.


"Apa menurut kalian, gue ini memang nggak pantas ada di sekolah ini?" tanya Reval yang langsung membuat ketiga pemuda itu langsung saling menatap satu sama lain.


"Kenapa lo nanya kaya gitu?" tanya Yoga sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Nggak penting kenapa gue nanya kaya gitu, kalian cuma perlu jawab pertanyaan gue." ujar Reval dengan dinginnya.


"*njr*t, kok gue kembali ngerasain suasana dingin, sih." canda Vino.


"Nggak lucu Vin," ungkap Ekal dengan membeleng kepala sahabatnya itu.


"Val," lirih Yoga yang mengalihkan pandangannya ke arah Reval. Reval yang mendengar namanya di panggil pun hanya membalas tatapan Yoga.


"Menurut gue, nggak ada yang nggak pantas berada di sini, karena ini adalah sekolah dan sekolah itu di peruntukan untuk semua siswa dan siswi. Dan di sini itu, nggak ada peraturan yang melarang Reval Setia Darma untuk bersekolah di sini, kecuali lo berbuat ulah di sekolah ini. Mungkin, lo akan dikeluarkan dari sini. Tapi Val, gue percaya kok, kalau lo itu anak baik-baik dan lo pasti nggak bakalan dikeluarkan dari sekolah ini." jelas Yoga dengan mengusap-usap bahu sahabatnya itu untuk meyakinkan Reval.


"Hmmm ...." respon Reval dengan singkatnya.


"Val, lo kalau ada masalah cerita aja sama kami, mungkin kami bisa bantu lo. Jangan anggap kami seperti orang lain, karena lo itu sudah seperti sahabat kami sendiri, meski kami baru mengenal lo dua hari ini." tutur Yoga.


"Tapi, Ga ...." ujar Reval yang merasa bingung.


"Sahabat nggak mandang berapa lama kenal Val, tapi sahabat itu terlihat dari kepedulian seseorang." timpal Yoga yang langsung membuat Reval memeluk dirinya dengan gaya laki-laki berpelukan.


"Terima kasih Ga," lirih Reval yang begitu terharu akan perkataan sederhana dari Yoga.


Ekal yang tengah dikejar-kejar oleh Vino pun akhirnya berhenti berlari, karena melihat Reval dan Yoga yang berpelukan. Sehingga, membuat Vino yang sedari tadi mengincar kepala Ekal pun akhirnya berhasil dia dapatkan dan langsung saja Vino membalaskan belengan Ekal tadi.

__ADS_1


"Ishhh ... lo ini, ah." gerutu Ekal yang langsung memperbaiki rambutnya yang sempat terpegang oleh Vino.


"Salah lo," timpal Vino dengan santainya.


"Udahlah, liat noh!" tunjuk Ekal pada kedua pemuda yang tengah berpelukan itu.


"Tukan gara-gara lo sih, kita jadi ketinggalan cerita." gerutu Vino dengan menatap Ekal kesal.


"Bocah lo, ah." ungkap Ekal yang kembali membeleng kepala Vino. Dan setelah itu, dia pun langsung berlari ke arah kedua pemuda itu dan meninggalkan Vino yang kesal sendirian.


"Iiihhh ... lo liat aja nanti, Kal." peringat Vino yang memutuskan untuk menyusul Ekal yang sudah tiba di depan kedua pemuda itu.


"Ihhh ... kalian peluk-pelukan nggak ngajak-ngajak gimana, sih?" kesal Ekal yang membuat kedua pemuda itu langsung melepaskan pelukannya.


"Astaghfirullah, Yaa Allah, gue masih bocah, nggak pantas liat ginian." ujar Vino asal-asalan. Yoga yang mendengar hal itupun langsung melempari Vino dengan sebuah batu yang ada di dekat sana.


"Aduh, Babang Oga galak banget, pantasan Dedek Emes Kayla nggak pernah mau." ejek Vino sambil mengusap-usap kakinya yang terkena lemparan batu dari Yoga tadi.


"Bodo amat," jawab Yoga dengan acuhnya.


"Lo habis nangis, Val?" tanya Ekal yang sudah ikut duduk di samping Reval.


"Ha? Nggak kok," alibi Reval, karena padahal kenyataannya pria itu tengah menahan tangisannya, yaitu tangis kerinduan akan seorang sahabat yang dulu selalu membuatnya senang. Namun, karena kejadian pada malam itu, akhirnya Reval harus berpisah dari sosok sahabat dan berakhir di sini.


"Ayolah, lo jangan bohong Val, lo pasti tahu kalau bohong itu dosa. Gue tahu kok, lo habis nangis, tapi lo nangis kenapa?" jelas Ekal yang diakhiri oleh pertanyaan.


"Bukan habis nangis, tapi nahan tangisan." celetuk Yoga sambil terkekeh kecil. Ekal yang mendengar itupun langsung menatap Reval dengan bingung.


"Nggak, ketika gue ngelihat kalian, gue jadi keingat dengan seseorang yang dulu selalu mempedulikan gue, seperti kalian." jelas Reval yang langsung membuat ketiga pemuda itu memeluk Reval membentuk lingkaran.


"Aaaa ... terhura gue jadinya," ungkap Vino dengan lebaynya. Namun, kelebayan itu langsung mendapatkan gelak tawa dari mereka bertiga.


"Astaghfirullah, itu mereka pada sehat semuakan?" ujar seorang cewek yang lewat bersama dengan teman-temannya di hadapan keempat pria itu. Mendengar perkataan cewek itu pelukan mereka berempat pun langsung terlepas dan menatap ketiga orang gadis itu dengan datarnya. Sehingga, membuat ketiga wanita itu langsung pergi dari sana.


"Hahaha ...." tawa mereka berempat pun akhirnya pecah, tatkala melihat ketiga gadis itu yang berlari ngocar-ngacir.

__ADS_1


__ADS_2