
...Jika tidak bisa dengan mata, maka aku masih memiliki empat indra lagi....
...…...
"Sudah-sudah, kalian ini. Baiklah, Reval, sekarang kamu duduk di pojok kiri sana, di depan meja Syafira dan Kayla!" suruh guru tersebut menengahi gelak tawa yang tengah menggema di kelas itu.
"Baik, Buk." timpal Reval yang langsung beranjak ke tempat yang ditunjuk oleh guru tadi.
"Baiklah, ananda semuanya mari kita lanjutkan pembelajaran kita tadi." ujar guru itu memberi tahu. Dan akhirnya, proses belajar mengajar di kelas ini pun kembali berlangsung seperti sebelumnya, meskipun banyak dari mereka yang hanya memperhatikan Reval yang tengah fokus mendengarkan penjelasan gurunya di depan kelas. Dan Reval sama sekali tidak mempedulikan mereka semua. Karena Reval memiliki prinsip, jika seseorang sedang berbicara dengannya, maka dia harus mendengarkan orang itu dengan baik.
Waktu berlalu begitu cepat. Bel jam istirahat pun menggema di pelantaran sekolah ini. Para siswa dan siswi pun segera berhamburan dari kelas mereka masing-masing dan menuju kantin sekolah. Dan para guru yang tadi mengajar di kelas mereka masing-masing juga segera beranjak dari kelas itu dan menuju kantor. Suasana yang awalnya hening, akhirnya kembali bising. Apalagi suasana di depan kelas XI.IPA2. Ya, itu adalah kelasnya Reval dan Syafira.
"Eh Val, lo mau ikut kita ke kantin, nggak?" tanya Yoga, teman sebangkunya Reval.
"Pangeranku!!" Baru saja Reval ingin menjawab pertanyaan dari Yoga, namun sudah dihentikan oleh suara siswi-siswi yang ada di luar sana.
"Astaghfirullah, cobaan apalagi ini?" desahnya lagi, sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Berbeda dengan Syafira dan Keisya yang malah merasa bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
"Pangeranku! Tuan Putrimu ada di sini." ujar salah satu siswi yang ada di ambang pintu itu. Dia terus saja mendesak untuk masuk, namun salah satu siswi di kelas itu berusaha untuk mencegat mereka semua yang ada di luar kelas XI.IPA2.
"Iiihhh ... lo apa-apaan, sih? Minggir deh, jangan ngalangin gue!" bentak siswi itu, yang tak lain bernama Alya.
"Eh, seharusnya itu, kalian yang minggir dari sini, bukan gue. Bikin rusuh aja kalian!" ujar siswi yang mencegat semua siswi yang ada di luar kelasnya itu, namanya adalah Renata.
__ADS_1
"Eh, jangan mentang-mentang lo Wakil Osis, jadi lo bisa semena-menanya aja sama kami, Ren." ujar seorang siswi yang juga berusaha untuk menerobos memasuki kelas itu. Namanya adalah Giska.
"Ya, benar itu!" sorak mereka semua kepada Renata. Renata yang mendengar hal itupun langsung merasa jengah dan tak tahan. Dan akhirnya, Renata pun melepaskan cegatannya dan memilih untuk pergi dari kelas itu, dengan menerobos mereka semua yang tengah memenuhi pelantaran depan kelas XI.IPA2.
"Eitttsss ... kalian mau ke mana?" ujar salah satu siswi yang masih berada di dalam kelas XI.IPA2 itu, namanya tak lain adalah Fina. Para siswi yang tadi awalnya ingin masuk ke dalam kelas itu, seketika menjadi berhenti, karena perkataan dari Fina tersebut.
"Kenapa lagi sih, Fin?" tanya Alya dengan kesalnya. Sedangkan, Fina yang ditanya itu malah menampilkan cengiran kuda khas miliknya.
"Taman wisata aja kalau masuk harus bayar, masa ini ada cogan gak mau bayar dulu." ujar Fina dan langsung membuat semua siswi itu menyodorkan uang mereka ke arahnya.
"Oh, terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih ...." katanya sambil menerima semua uang yang disodorkan oleh para siswi itu dan akhirnya terjadilah kebisingan di dalam kelas ini dan tentu saja hal ini benar-benar membuat Reval kesal.
"Woi! Itu lo yang di sana, lo mau jadiin gue barang pajangan, apa?" bentak Reval kepada Fina. Fina yang dibentak seperti itupun langsung berlari dari kelas itu dan meninggalkan mereka semua yang sibuk berselfi ria dengan Reval yang terlihat begitu kesal sekali.
Syafira yang mendengar hal itupun hanya bisa geleng-geleng kepala di bangkunya. Berbeda dengan Kayla yang malah sibuk dengan gadgetnya. Ntah, apa yang tengah dilihat oleh gadis berpakaian syar'i itu, tapi yang jelas, Kayla begitu sangat serius menatap layar ponselnya itu, tanpa berkedip sedikitpun.
"Masya Allah ...." lirih Kayla tiba-tiba, sehingga membuat Syafira memutar kepalanya menghadap Kayla, namun tidak dengan pandangan matanya yang masih setia ke arah depan dengan tak tentu arah.
"Ada apa, Kay?" tanya Syafira. Kayla yang ditanya pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Syafira. "Ini, aku habis baca sebuah artikel dan isinya itu tentang perjuangan seorang tunanetra dalam menggapai impiannya. Kamu tahu nggak, apa yang terjadi sama orang ini?" jelas Kayla yang begitu serius menceritakan apa yang sudah dia baca dan Syafira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jadi, walaupun dia itu tunanetra, tapi tekad dan semangatnya untuk meraih cita-citanya tidak pernah pudar. Dan pada akhirnya, semangat dan tekad yang dia miliki selama ini, berakhir pada sebuah keberhasilan yang dia impikan selama ini, hebat sekalikan, Ra?" jelasnya lagi.
"Masya Allah, kisah orang ini seperti membuktikan padaku, kalau aku harus tetap semangat dalam keadaan buta seperti ini, dan aku nggak boleh mengeluh." ujar Syafira yang begitu termotivasi dengan ceritanya Kayla.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, bahwa sedari tadi mereka tengah diperhatikan oleh seseorang, yang tak lain adalah Reval. Ya, Reval sedari tadi sengaja memperhatikan kedua gadis yang tengah sibuk berbincang itu dan menghiraukan mereka semua yang meminta berselfi dengan Reval. Dan pada akhirnya, sebuah senyuman pun kembali terbit di wajahnya. "Mungkin, gue nggak bisa janji buat selalu jagain lo, tapi gue bisa berusaha untuk selalu menjadi mata, lo." ujar Reval di dalam hatinya.
Reval tak tahu, bahwasanya perkataan hatinya itu, bisa didengar oleh Syafira. Syafira pun sempat terkejut dengan apa yang barusan saja di dengarnya. "Suara hati, itu? Aku pernah mendengarnya, siapa dia?" lirih Syafira yang terlihat begitu bingung.
Dan lirihan dari Syafira inipun juga bisa didengar oleh Reval. Ya, seperti yang kalian ketahui, bahwasanya Reval bisa mendengar suara yang berfrekuensi rendah di bawah normal pendengaran manusia lainnya. Sama seperti Syafira tadi, Reval pun juga terkejut, namun ini sudah berbeda topik. Jika, Syafira terkejut karena bingung, sedangkan Reval terkejut karena Syafira bisa mendengar suara hatinya.
"Ke-kenapa dia bisa mengetahui isi hati gue?" tanya Reval kembali di dalam hatinya.
Ya, sama seperti tadi, Syafira pun terkejut kembali, namun berbeda keterkejutan. Dia terkejut karena Reval bisa mendengar lirihannya yang terbilang tidak bisa di dengar oleh siapapun.
"Kamu kenapa, Fir?" tanya Kayla, mengejutkan Syafira yang tengah keheranan.
"Ha? Eh, tidak ada." alibinya Syafira.
"Hmmm, okelah kalau tidak ada. Btw, kamu mau nitip sesuatu, nggak?" tanya Kayla yang sudah berdiri dari duduknya.
"Eh, kamu mau ke mana?" Bukannya menjawab, Syafira malah bertanya balik kepada sahabatnya itu.
"Ke kantin, Fir. Aku lapar, hehehe ...." cengirnya, namun sepertinya cengiran itu hanya sia-sia saja, kalau diperlihatkan untuk Syafira. Karena Syafira juga tidak akan bisa melihatnya. Namun, walaupun begitu, Syafira tetap tahu kalau sahabatnya tengah menyengir. Jika tidak dengan mata, maka indra pendengarannya yang akan berfungsi saat ini.
"Oh ... yaudah, nggak usah deh, Kay. Aku masih kenyang soalnya." jelas Syafira dengan menampilkan senyuman merekahnya.
"Oke deh. Kalau gitu, aku pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum ...." pamit Kayla yang langsung melenggang pergi meninggalkan Syafira bersama dengan penghuni kelas yang masih sangat ramai itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." Setelah menjawab salam dari Kayla, Syafira pun langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah dia duduki dan mencari kenyamanan di sana. Setelah kenyamanan itu dia dapatkan, Syafira pun meletakan kepalanya di kepala kursi itu dan mulai memicingkan matanya yang sama sekali tidak bisa melihat apapun itu.