Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Menyesal


__ADS_3

...Aku takut, jika kau tak bisa lagi kulihat di dunia ini....


.........


Reval yang meninggalkan kelima orang itupun pergi ke kantin seorang diri. Ntah, apa yang menjadi tujuan utamanya berada di sana sekarang. Namun, tidak lama kemudian, Yoga, Vino, dan Ekal pun datang. Mereka pun langsung duduk di hadapan Reval dan menatap Reval dengan penuh ketelitian.


"Ngaku Val, lo cemburukan?" ujar Vino asalan sambil menatap Reval dengan tajam.


"Apaan sih, lo?" ujar Reval mengabaikan.


"Lo ngelak, berarti memang iya." ujar Ekal asalan.


"Apaan sih? Gak jelas benar kalian," ujar Reval menatap ketiga temannya dengan tidak suka.


"Cieeee ... Babang Reval ngambek." ejek Yoga.


"Sekali lagi lo ngomong kaya gitu, habis lo, Ga." ancam Reval menatap Yoga dengan sengit.


"Perasaan gue, dari dulu lo selalu bicara kaya gitu, deh." ujar Vino dengan gaya berpikirnya.


"Ha ... benar tu, No." timpal Yoga dengan bangganya.


"Bang-"


Drrrttt ...


Ponsel Yoga yang tengah berada di dalam sakunya pun tiba-tiba saja berbunyi. Langsung saja Yoga meronggoh ponselnya itu, lalu melihat siapa peneleponnya tersebut.


"Dedek Emes?" seru Yoga bingung. Membuat Ekal dan Vino yang tengah duduk di sampingnya langsung menatap Yoga dengan heran.

__ADS_1


"Tumben tu anak nelfon, lo? Biasanya juga lo yang nelfon dia dan nggak diangkat," ujar Vino mengejek Yoga. Namun, Yoga sama sekali tidak mengubrisinya. Sedangkan Reval, dia hanya menatap datar ke arah ketiga temannya itu, sampai-sampai dia lupa, bahwa dia tidak boleh meninggalkan Syafira sendirian begitu saja, tanpa pengawasan darinya.


"..."


"Wa'alaikumussalam, iya kenapa Dedek Emes, tumben nggak baca salam dulu, dan tumbenan nelefon, padahal tadi baru aja ketemu?" ujar Yoga terkekeh di akhir perkataannya.


"Modus amat lo," sindir Ekal tak suka. Namun, sama sekali tidak diacuhkan oleh Yoga.


"..."


Tut ... tut ... tut ...


Sambungan teleponnya pun terputus membuat Yoga merasa sedikit kesal, ditambah lagi teman-temannya yang menertawakannya sekarang, kecuali Reval yang menatapnya dengan datar.


"Ada apa?" tanya Reval dingin.


"Gue juga nggak tahu Val, tapi Kayla kelihatannya sedang khawatir sekarang. Dan gue disuruh ke tempat tadi secepatnya." jelas Yoga. Mendengar penjelasan itu, seketika pikiran Reval langsung melayang kepada Rendra.


"Yaa Allah ... Sya, gue harap lo baik-baik aja, jangan sampai Rendra berhasil melukai lo." ujar Reval membatin, yang menuju taman, tempat di mana dia meninggalkan Syafira bersama dengan teman-temannya.


Reval pun terus berlari ke taman itu, sampai dia tidak sadar, bahwa ketiga temannya masih tertinggal jauh di belakangnya. Merasakan tidak ada siapa pun di sampingnya, Reval pun langsung menatap ke belakang dan benar saja, mereka bertiga sangat jauh tertinggal di belakang. Tanpa mempedulikan mereka bertiga, Reval pun terus berlari sekuat tenaganya dan akhirnya, Reval pun sampai di taman.


Langkahnya mulai memelan, di saat pandangannya jatuh pada seorang gadis yang telah terbaring di tanah, tak sadarkan diri. Rasa menyesal beserta kekhawatiran pun menjadi satu. Reval menyesal karena telah mementingkan egonya ketimbang keselamatan Syafira. Reval khawatir jika dia tidak bisa bersama dengan Syafira lagi di dunia ini.


Reval pun menghentikan langkahnya di saat sudah 6 meter berjarak dari tubuh Syafira. Air matanya begitu mendesak ingin keluar, sehingga membuat pipinya menjadi basah untuk saat ini. Ya, Reval menangis. Dia sangat menyesali semuanya, dia menyesal.


"Syafira!!" teriak Reval tak terima. Dengan cepat, Reval pun langsung mengguncang-guncang tubuh Syafira, sampai pada genangan darah mengalir di bawah lengan Syafira, membuat Reval sontak terkejut.


"Da-darah?" terkejutnya, begitu juga dengan Kayla yang melihat itu.

__ADS_1


Melihat cairan itu, seketika kepala Reval terasa berdenyut. Namun, Reval sama sekali tidak mempedulikan dirinya yang mengalami phobia darah. Reval pun langsung membawa Syafira duduk, lalu melepaskan tas Syafira yang berada di punggungnya dan sudah terkena noda darahnya. Lalu, Reval pun langsung mengangkat tubuh Syafira dan menggendongnya, lalu membawa tubuh Syafira pergi dari sana dengan penglihatan yang mulai berkunang-kunang, sehingga membuat Reval sedikit oleng-oleng ketika membawa tubuh Syafira.


"Tidak, gue tidak boleh lemah, gue harus kuat, gue harus bisa membawa Syafira ke rumah sakit, meski apa pun yang terjadi dengan diri gue." ujar Reval begitu egoisnya.


Kayla yang melihat Reval seperti itu pun sedikit merasa bingung, namun dia tidak mempedulikannya untuk saat ini, karena bagi Kayla yang paling penting itu adalah keselamatan Syafira. Kayla pun langsung mengemasi semua barang-barang yang tergeletak di tanah, yaitu tas Syafira, kue ulang tahun, dan tongkat milik Syafira.


Setelah itu, Kayla pun langsung mengejar Reval yang kesusahan dalam berjalan. Yoga, Vino, dan Ekal yang melihat Kayla mengejar Reval yang sudah kesusahan pun langsung menyusuli mereka dengan mempercepat lari mereka bertiga.


"Ayo Val, lo pasti bisa, dikit lagi Val, ayo, ayo Val." serunya menyemangati diri sendiri. Jujur, Reval sudah benar-benar lemas sekarang, akan tetapi karena keegoisannya Reval pun terus berusaha membawa tubuh Syafira menuju mobilnya. Sampai pada akhirnya, Reval pun menjadi semakin melemas dan penglihatannya semakin mengabur, sehingga ...


"Reval!!"


Bughhh!!


Reval pun terjatuh di lantai, sedangkan Syafira langsung di rebut oleh Sang Kakak, yaitu Hafidz.


Sejak tadi Hafidz sudah menunggu adiknya di parkiran, namun adiknya tak kunjung datang juga, meskipun keadaan sekolah ini sudah mulai sepi. Dan karena sudah satu setengah jam menunggu, akhirnya Hafidz pun memutuskan untuk melihat adiknya ke dalam pekarangan sekolah. Namun, saat dia berada di lorong, Hafidz malah melihat Syafira yang berlumuran darah di pinggangnya dan tengah berada di gendongan Reval yang terlihat oleng-oleng, seperti orang yang memaksakan dirinya untuk tidak pingsan.


Hafidz yang terlanjur khawatir dengan adiknya pun langsung berlari ke arah Reval. Dan di saat Hafidz berada di depan Reval, saat itulah Reval mulai berhenti berjalan dan ...


"Reval!!" teriak keempat orang di belakang Reval. Dan di saat itulah Hafidz langsung mengambil alih tubuh Syafira dari gendongan Reval.


Bughhh!!


Reval pun jatuh pingsan, tak sadarkan diri di lantai lorong sekolah ini. Dengan segera Yoga, Vino, dan Ekal pun langsung berlari ke arah Reval, begitu juga dengan Kayla yang mempercepat langkahnya menuju mereka semua.


"Dek, bawa ke mobil saya aja, biar sekalian di bawa kerumah sakit." ujar Hafidz yang langsung menggendong tubuh adiknya menuju parkiran, di mana mobilnya terparkir sekarang. Yoga, Ekal, dan Vino pun langsung menuruti perkataan Hafidz dan mengikuti Hafidz dari belakang sambil membopong tubuh Reval.


Setelah memasukkan tubuh Syafira ke dalam mobil di bagian jok belakang bersama dengan Kayla yang memangku kepala Syafira di pahanya, sedangkan Reval yang didudukan di jok sebelah kemudi, dengan langsung saja Hafidz mengemudikan mobilnya, menancapkan gas, meninggalkan pelantaran sekolah. Yoga, Vino, dan Ekal yang memiliki kendaraan sendiri pun langsung mengikuti mobil Hafidz dari belakang, menuju rumah sakit.

__ADS_1


Di balik tembok itu, pria itu tersenyum seringai menatap kepergian mereka semua.


"Akhirnya, keinginan gue terwujudkan, Val?" ujarnya begitu angkuh, Rendra.


__ADS_2