
...Perubahan pasti akan terjadi seiring berjalannya waktu....
.........
Satu tahun telah berlalu, meninggalkan kisah seorang gadis yang begitu berubah drastis. Gadis yang sebelumnya telah kembali ceria, namun harus kembali merasakan kepergian seseorang. Syafira, ya dialah gadis itu. Kini, Syafira telah lulus dari masa abu-abunya dengan nilai yang sangat memuaskan sekali. Dan di hari inilah Syafira akan menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus yang terkenal di kota kelahirannya ini.
Dengan wajah yang selalu terlihat cool dan datar, pakaian yang begitu tertutup, dan tas yang diselempangkan di bahunya, dia pun berjalan gontai menuruni anak tangga satu persatu. Sesampainya di lantai satu, Syafira pun langsung menuju ruang makan. Di sana telah ada sosok kakak yang tengah menikmati sarapannya dengan begitu lahapnya, sampai-sampai Hafidz tidak menyadari keberadaan Syafira saat ini.
"Assalamu'alaikum ...." salam Syafira dengan begitu datarnya.
"Uhuk ... uhuk ...." Ntah, apa penyebabnya Hafidz tersedak saat ini. Hafidz pun mencoba untuk meraih gelas yang sedang berada di depan matanya, namun sayangnya jarak gelas itu dengan dirinya sedikit jauh. Syafira yang merasa kasihan dengan kondisi kakaknya inipun langsung mengambilkan gelas di depannya dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu, menyodorkan gelas itu kepada Sang Kakak.
"Mangkanya, kalau makan itu pelan-pelan aja, Bang. Jangan buru-buru!" ujar Syafira sambil mengolesi roti dengan selai cokelat kesukaannya. Sedangkan, Hafidz yang tengah dia ajak bicara hanya menyengir kuda dengan memperagakan deretan gigi putihnya.
"Oh iya, Bang. Nanti, sehabis pulang kampus, Ara izin ke panti asuhan ya, Bang." ujar Syafira. Hafidz tampak sedikit berfikir awalnya, namun akhirnya dia menganggukan kepalanya pertanda setuju.
"Okeh, tapi nanti pulangnya biar Abang yang jemput, ya." ujar Hafidz menyetujui, dan kalian tahu apa balasan dari Syafira? Yaitu, hanya anggukan kepala saja.
...
"Assalamu'alaikum ...." salam seorang pemuda yang bertubuh tinggi itu, di depan pintu rumahnya Alex.
"Wa'alaikumussalam ...." Riskalah yang menjawab salam itu dan membuka pintu rumahnya. Riska pun menatap pemuda itu tak percaya, mulai dari ujung kakinya sampai pada topi yang pemuda itu kenakan.
"Buka maskermu!" perintah Riska dengan tegasnya. Lalu, dengan begitu cepatnya pemuda itupun melepaskan maskernya. Terlihat jelas, bahwa pemuda itu tengah tersenyum haru kepada Riska.
"Reval!" jerit Riska yang langsung memeluk Sang Putra dengan begitu hangatnya. Reval pun membalas pelukan Sang Bunda dengan tak kalah hangatnya.
"Ke mana aja kamu?" tanya Riska dengan nada kesalnya.
"Nggak ke mana-mana kok, Bun." ujar Reval dengan begitu polosnya.
__ADS_1
"Ih ... kamu mah, udah satu tahun nggak ada balik-balik. Betah banget di asrama, sampai lupa keluarganya sendiri." sindir Riska yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maaf, Bun." ucap Reval merasa tidak enak.
"Ah, sudahlah. Untung aja Bunda masih ada anak, jadi nggak kesepian walaupun kamu nggak ada." bangga Riska.
"Nah, 'kan kak Kan ada, Bun." sambung Reval, yang ngikut-ngikut saja tanpa mengerti apa maksud Bundanya.
"Iihh ... bukan kakak kamulah." elak Riska tidak setuju.
"Lah, trus siapa, dong? 'kan anak Bunda cuma kami berdua." tanya Reval. Dan bukannya menjawab, Riska malah meninggalkan Sang Putra di luar rumah dan masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Eh Bunda, Revalnya kok ditinggalin, sih? Jawab atuh pertanyaannya Reval."
"Ouhh ... apa jangan-jangan Bunda masih punya anak lain, tapi Bunda sembunyiin dari kami?" ujar Reval ngasal. Reval terus saja mengejar Sang Bunda yang malah pergi ke dalam kamarnya dan memaksa Sang Bunda untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Bunda, jawab dong!"
"Bunda ...."
"Iiihhh ... Bunda, mah."
"Ayolah Bun, jawab!"
"Bunda-" panggilan Reval pun berhenti di saat Sang Bunda telah berdiri tegap di hadapannya dengan sebuah bingkai foto.
"Bun ...?" bingung Reval menatap bingkai foto itu. Di foto itu, terdapat sosok Syafira yang tengah berselfi ria di sebuah taman bersama dengan anak-anak kecil.
"Ya, selama kamu nggak ada, Syafira lah yang menemani Bunda. Dan Syafira juga sering ngajakin Bunda buat berkunjung ke panti asuhan. Kamu tahu, di sana Bunda jadi belajar, bagaimana seharusnya Bunda bersyukur akan semua yang Bunda miliki saat ini. Jujur, Bunda senang bisa kenal dengan Syafira. Karena dia adalah sosok gadis yang penyabar dan pemurah hati. Seandainya Bunda bisa jadi mertuanya suatu hari nanti, pasti Bunda bakalan senang sekali."
Deg.
__ADS_1
"Me-mertua?" terkejut Reval.
"Hahahaha ... ekspresimu, Val." Reval yang semulanya terkejut, pada akhirnya menjadi salah tingkah dan mengembalikan ekspresinya seperti biasa lagi.
"Udahlah, Bunda cuma bercanda. Lagian, nggak yakin aja kalau Syafira bakalan jadi mantu Bunda, bukan? Yaudah, lebih baik sekarang kamu beres-beres aja dulu. Habis itu turun ke bawah buat makan, karena Bunda udah masakin makanan kesukaan kamu tadi." ujar Riska, yang setelah itu kembali masuk ke kamarnya dan membawa bingkai foto itu. Dan tidak lama kemudian Riska pun kembali keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan rapat-rapat.
"Eh, kok masih bengong di sini?" ujar Riska yang langsung menyadarkan Reval dari lamunannya.
"Eh iya, Bun." sahut Reval, yang langsung berlalu dari sana dan meninggalkan Sang Bunda yang hanya geleng-geleng kepala menatapnya.
"Bunda tahu Nak, kamu pasti merindukannya, bukan? Sama seperti Syafira yang juga merindukanmu selama ini." lirih Riska. Dan tentu saja, bakat Reval dalam mendengarkan suara yang berfrekuensi bunyi dibawah batas normal itu masih ada. Dengan seuntai senyuman, Reval pun terus melanjutkan langkahnya sampai ke kamarnya.
...
"Ara berangkat dulu ya, Bang. Assalamu'alaikum ...." pamit Syafira.
"Iya Dek, hati-hati. Wa'alaikumussalam," balas Hafidz, sambil mengusap lembut kepala Sang Adik yang tengah tertutup khimar panjangnya, di saat Syafira mencium punggung tangannya.
Syafira pun langsung keluar dari mobil Sang Kakak dan memasuki pelantaran kampus yang terlihat ramai dengan para mahasiswi dan mahasiswa berjas kuning. Eh, maksudnya almet kuning, wkwkqkwk. Dengan pandangan yang terus menelusuri penjuru kampus ini, Syafira pun terus berjalan mengitari kampus ini. Sampai pada akhirnya, Syafira pun menemukan Kayla yang tengah berbicara dengan seorang pemuda.
Tanpa menunggu lama, Syafira pun langsung menghampiri kedua manusia yang tengah berbicara itu. "Assalamu'alaikum ...." sapa Syafira. Kayla dan pemuda yang mendengar salam dari Syafira itupun langsung menghentikan pembicaraannya dan menolehkan tatapan mereka kepada Syafira. "Wa'alaikumussalam ...." jawab mereka serentak.
"Eh Fir, kamu udah datang?" tanya Kayla begitu polosnya. Masih dengan ekspresi datar, Syafira pun menganggukkan kepalanya.
"Eh, ini siapa, Kay?" tanya pemuda itu yang membuat Kayla dan Syafira langsung mengalihkan pandangannya ke arah pemuda itu.
"Oh iya, ini Syafira yang aku ceritain tadi, Ga." jelas Kayla.
"Ouhhh ... ini toh orangnya, cantik." ujar pemuda itu dengan santainya, yang bernama Rangga. Sedangkan, Syafira yang puji hanya bisa menundukkan wajahnya tanpa peduli sedikitpun.
"Oh iya, kenalin gue Rangga." ujar Rangga mengulurkan tangannya. Syafira yang melihat uluran tangannya Rangga itupun hanya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, sambil berkata, "Syafira." Singkat dan dingin, ya itulah Syafira yang sekarang. Semenjak kejadian waktu itu, di rumahnya Alex, Syafira pun mulai menjadi gadis yang pendiam. Tak banyak yang membuat gadis itu kembali ceria seperti sebelumnya, melainkan hanya ada wajah datar tanpa ekspresi yang dia tampilkan setiap harinya.
__ADS_1