
..."Kamu pamit, aku juga pamit, Assalamu'alaikum ...."...
...__________...
...~Reval Setia Darma~...
.........
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ......
...Hai Reval!...
...Aku yakin, saat ini surat ini telah ada di tanganmu. Dan kamu pasti sudah sadar dari masa kritismu, bukan? ...
...Oh iya, terima kasih ya, karena sudah menolongku pada hari itu. Dan maaf, karena diriku kamu harus mengalami masa kritis, karena kambuhnya phobia darahmu. Sungguh, aku benar-benar merasa bersalah pada saat mengetahui kenyataan itu, Val. Andai aku tahu kalau kejadian itu bakalan terjadi, mungkin kamu tidak akan seperti ini sekarang. Hmm ... maaf, Val....
Membaca lembaran pertama dan halaman pertama ini, seketika membuat Reval langsung menerbitkan senyumannya. Sehingga, membuat keempat manusia yang tengah memperhatikan Reval langsung merasa kebingungan terhadap dirinya. Namun, sama sekali tidak dihiraukan oleh Reval, melainkan dia hanya membalik kertas yang ada di genggamannya itu dan melanjutkan bacaannya.
...Oh iya, kabar kamu bagaimana sekarang? Udah baikan, kan? Aku harap iya....
"Untuk sekarang aku sudah baikan, Sya," lirihnya begitu pelan, sambil tersenyum-senyum membaca surat dari Syafira tersebut.
"Ha? Lo ngomong apa sih, Val? Dan lo kenapa, senyum-senyum sendiri nggak jelas?" tanya Yoga merasa heran.
__ADS_1
"Ha?" terkejut Reval yang langsung memasang wajah dinginnya.
"Cik, nggak ada pengulangan." kesal Yoga, yang langsung beranjak dari posisinya dan menuju kursi sofa yang berada di ruangan ini.
"Yaudah," jawab Reval cuek dan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membaca surat tadi.
...Hmmm ... Val, aku minta maaf banget karena aku selalu marah sama kamu, padahal niat kamu yang sebenarnya itu baik. Dan aku baru mengetahui kebenaran itu dari bunda. Bunda menceritakan semuanya, tentang kamu yang dipaksa untuk masuk ke SMA Sanubari. Jujur, awalnya aku sempat marah sama bunda dan ayah, serta termasuk kamu. Akan tetapi, aku sadar, jika kamu tidak ada di sana, belum tentu nyawaku sekarang masih selamat. Terima kasih Val, karena sudah hadir di dalam hidupku, memberikan bantuan dan pertolongan tanpa aku sadari. Dan terima kasih juga, karena sudah mengawasi diriku selama ini....
Setelah selesai membaca halaman kedua, Reval pun langsung menukar lembaran kertas itu dengan yang baru dan mulai membaca halaman pertamanya.
...Hmmm ... aku merasa, kalau kamu pasti lelah, bukan? Selalu mengawasi dan menjagaku setiap waktu di sekolah. Hmmm ... Insya Allah, setelah ini aku nggak akan buat kamu lelah lagi Val, untuk menjaga dan mengawasiku setiap waktu di sekolah. Sebab, sekarang aku sudah mendapatkan donoran mata. Doakan aku ya Val, semoga operasinya berjalan lancar, aamiin .... Hmmm ... kalau boleh jujur, sih. Sebenarnya, aku merasa nggak enak dan nggak rela pergi tanpa berpamitan dan bertemu dengan kamu dulu, Val. Namun, apalah dayaku ini. Jika, aku tidak pergi ke Bandung dalam waktu dekat ini, maka peluang untukku bisa melihat juga akan menghilang. Maka dari itu, aku harus pergi di saat kamu belum juga sadarkan diri, maaf Val .......
Lagi-lagi Reval pun tersenyum di saat membaca surat di lembaran yang kedua halaman pertama ini.
...Sampai kapan pun, semua kebaikan yang kamu berikan sama aku, akan selalu aku ingat, Val. Karena itu sangat berarti untukku. Maaf karena selama ini aku hanya bisa marah dan cuek sama kamu, dan bahkan aku telah menuduhmu yang tidak-tidak, serta sudah membuatmu susah selama ini. Aku berharap, semoga di saat aku kembali nanti, aku bisa melihat wajahmu yang selama ini selalu menjadi kekaguman bagi para kaum hawa di sekolah....
...Jujur, aku penasaran dengan dirimu, Val. Akan tetapi, aku sadar, kamu nggak mungkin menyukaiku, bukan? Karena aku yakin, kamu menolongku selama ini, itu hanya karena keterpaksaan saja. Tapi, nggak pa-pa Val, aku udah senang kok, kalau masih ada orang lain yang mau membantuku di saat kesusahan....
"Terima kasih Sya, tapi maaf karena kamu tidak akan melihatku lagi setelah kepulanganmu dari Bandung. Dan kamu salah Sya, kalau aku boleh jujur, seharusnya akulah yang bertanya seperti itu padamu." lirihnya, yang kali ini di dalam hatinya.
"Eh, Val. Lo baik-baik aja, kan? Sejak tadi gue perhatiin, kerjaan lo itu senyum-senyum sendiri dan berbicara nggak jelas." ujar Vino menatap Reval dengan sangat teliti. Reval yang diajak bicara pun langsung menatap Vino dengan sangat tajam, membuat Vino langsung bergidik ngeri.
"Astaghfirullah, kenapa ya, setiap kali gue ditatap kayak gitu, gue seperti ngerasa tengah ditatap oleh malaikat maut, aja?" ujar Vino asalan, yang langsung beranjak dari posisinya yang tengah berdiri sejak tadi dan menuju sofa di mana Yoga tengah tiduran dengan memakai satu sofa panjang untuk tempat tidurnya.
__ADS_1
"Lo kaya nggak tahu gimana rasanya kasmaran aja, No." celetuk Yoga, yang tengah menutup matanya dan dengan tangan yang terlipat di atas dadanya.
"Eh kadal, gue kira lo udah tidur. Ternyata oh ternyata lo masih aja ngupingin pembicaraan kita." ungkap Vino dengan sedikit mendramatis sambil mendudukan dirinya di sofa singgle.
"Lu kaya nggak tahu si kebo aja," ucap Ekal yang juga ikut duduk di sofa singgle satunya lagi, namun sebelum itu dia menepuk kaki Yoga dengan bantal sofa, sehingga membuat Yoga langsung membuka matanya dan menatap Ekal dengan sangat tajam. Sedangkan, yang di tatap hanya acuh saja, tanpa mempedulikan Yoga yang merasa terganggu.
"Kalian bisa diam, nggak?" tanya Reval tiba-tiba dengan dinginnya. Sehingga, membuat ketiga pria itu langsung menatap Reval dengan cengiran.
Eh, btw si Kayla ke mana? Kok nggak ada ikut campur? Buat kalian yang nanya kaya gitu, jawabannya Kayla udah duluan pamit kepada Reval, di saat ketiga pemuda itu tengah sibuk berbicara.
"Eh, Dedek Emes gue ke mana?" tanya Yoga yang langsung menyadari ketidak adanya kehadiran Kayla di sini. Sehingga, membuat dia langsung bangkit dari posisi tidurnya.
"Dia udah pulang," jawab Reval singkat dan setelah itu, dia pun kembali melanjutkan bacaannya tadi, yaitu pada lembaran ketiga halaman pertama.
...Oh iya Val, selama ini ada hal yang selalu membuat aku bingung dengan diri kamu, yaitu ketika aku berbicara dengan sangat lirih dan tidak ada yang bisa mendengarnya dan bahkan hanya aku dan Allah saja yang mendengarnya, namun kamu selalu menjawab perkataanku itu. Apakah kamu memiliki kemampuan untuk mendengar suara yang memiliki frekuensi bunyi di bawah batas normal manusia pada biasanya?...
"Iya, kamu benar sekali Sya, dan gue yakin lo pasti juga bisa mendengar suara hati orang lain, bukan? Termasuk gue," tanyanya di dalam hati.
...Hmmm ... yasudah Val, mungkin hanya ini yang dapatku sampaikan, aku berharap semoga kita bisa bertemu di saat aku balik ke Jakarta nanti, aamiin ......
Salam sehat dariku, Syafira
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ... maaf Sya, sepertinya harapan lo tidak akan terwujud kali ini. Maaf Sya, gue juga pamit, Assalamu'alaikum ...." Setetes air mata pun menitik begitu saja dari pelupuk mata Reval, namun sebelum teman-temannya mengetahui itu, Reval sudah duluan menghapus air matanya tersebut.