
...Kebahagian terbesarku adalah ketika kau telah ditakdirkan untuk selalu bersama dengan diriku sampai pada Jannah-Nya....
.........
"Allaahu akbar, Allaahu akbar!"
Suara adzan dari majid rumah sakit inipun menggema begitu saja. Menandakan waktu subuh telah tiba. Dan Reval yang tengah terbaring dibatas brankarnya itupun seketika langsung membuka matanya secara perlahan-lahan. Dan kalian tahu, titik fokus pertamanya Reval untuk siapa? Ya, untuk sosok istri kecilnya yang kini tengah tertidur pulas di samping tangannya.
Reval pun mencoba untuk mengelus lembut kepala Syafira menggunakan sebelah tangannya yang sedang terinfus.
"Jujur Sya, gue benar-benar merindukan lo selama ini. Namun, lo juga harus tahu Sya, selama kerinduan gue untuk lo, gue juga merasakan sebuah perasaan untuk lo. Dan jujur, gue benar-benar mencintai lo, Sya." lirihnya begitu pelan sekali, sambil terus mengusap lembut kepalanya Syafira. Dan sampai pada akhirnya, Syafira pun membuka matanya.
"Reval," lirih Syafira ketika dia menegakkan kepalanya menatap Syafira.
"Iya, Sya. Ada apa?" tanya Reval dengan begitu lembutnya.
"Udah adzan, ya?" tanya Syafira yang seketika itupun langsung menatap jam dinding ruangan rawat Reval.
"Iya, udah. Lo mau sholat jamaah dengan gue?" Ntah itu sebuah ajakan, atau malah sebuah pertanyaan. Sungguh, Syafira merasa bingung untuk menjawab. Karena, sebenarnya Syafira sangat ingin sholat berjamaah bersama dengan Reval, namun ketika mengingat Reval tengah sakit saat ini, Syafira menjadi mengurungkan niatnya untuk sholat berjamaah dengan Reval.
"Hmm ... kamu lagi sakit Val, sebaiknya kamu sholat di sini aja. Biar aku bantu untuk tayamumnya, ya." putus Syafira.
"Nggak Sya, gue nggak mau sholat di sini. Gue maunya sholat berdiri bareng lo, nggak ada penolakan." ujar Reval dengan tegasnya.
"Tapi Val, kondisi kamu belum stabil." kukuh Syafira menolak. Dan Reval tetaplah Reval, dengan tak kalah kukuhnya Reval pun menggelengkan kepalanya.
"Gue udah baikan kok, Sya...yang."
Blush ...
Pipi cubby nan putih itupun langsung mengeluarkan semburat merahnya. Syafira malu, dia benar-benar malu sekarang. Bolehkah dia terbang saat ini?
"Ciee ... blushing," ejeknya Reval, ketika melihat semburat merah itubpada pipinya Sang Istri.
__ADS_1
"Iih ... apaan, sih. Udah ah, aku mau panggilin suster dulu, biar bisa bantuin buat lepasin infusnya." ujar Syafira yang langsung pergi dari sana dan memanggil seorang suster untuk membantunya melepaskan infus Reval untuk sementara ini saja.
Dan tidak lama kemudian Syafira pun kembali masuk ke dalam ruangan rawatnya Reval bersama dengan seorang suster di belakangnya. Suster itupun langsung melepaskan infus yang tengah berada di tangannya Reval itu. Dan setelah tugasnya selesai, Sang Suster pun langsung berpamitan untuk pergi dan diangguki oleh kedua pasutri itu.
Sepeninggalan suster itu, Syafira pun langsung membantu Reval untuk bangkit dan menuntun Reval menuju kamar mandi yang ada di ruangan rawatnya ini.
"Loh, kok cuma sampai sini? Memang lo nggak mau barengan aja apa?" tanya Reval bingung.
"Nggak," jawab Syafira dengan cepatnya.
"Loh, kenapa?" tanya Reval lagi dengan bingungnya.
"Udah ah, Val. Sana cepatan masuk, nanti keburu waktu subuhnya habis, loh." ujar Syafira yang seketika itupun langsung memaksa Reval untuk masuk ke dalam kamar mandi itu. Sedangkan, Reval yang telah berada di dalam kamar mandi itupun hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.
"Assalamu'alaikum ...." seru seseorang yang tiba-tiba saja memasuki ruangan rawatnya Reval.
"Wa'alaikumussalam, eh Bang Hafidz? Loh, kok Abang datangnya pagi-pagi banget?" tanya Syafira merasa bingung.
"Hmm ... iya, Dek. Maaf ya, semalam Abang ketiduran, jadi lupa bawain kalian makanan dan pakaian buat kamu." jelas Hafidz merasa sangat bersalah.
"Abang curiga sama kamu, Dek. Ngapain aja kalian semalam? Kok, bisa sampai lupa sama Abang sendiri?" tanya Hafidz mencoba menyelidiki adiknya ini dari atas sampai bawah.
"Ha? Ihh ... Abang!!" rengeknya Syafira yang seketika itupun langsung memukul-mukuli kakaknya sendiri.
"Aw, aw, aw ... sakit, Ra. Ara udah ah, ihh ... Ara, udah kata Abang!" jerit Hafidz yang terus berusaha untuk menghindar dari pukulan adiknya itu.
"Ekhem ...." dehem Reval yang kini telah keluar dari dalam kamar mandi, dengan penampilan rambut yang basah dan bahkan, beberapa helai rambutnya terjurai dengan air wudhu yang akan menetes dari rambutnya itu.
Syafira yang mendengar deheman itu, seketika langsung memberhentikan pukulannya terhadap Hafidz. Dan menatap Reval dengan begitu takjubnya. "Masya Allah ...." lirihnya Syafira begitu takjubnya.
"Alhamdulillah, thanks Val, karena udah nyelamatin gue. Dan sekarang gue pamit ke masjid dulu ya, bye!" ujar Hafidz yang seketika itupun langsung berlari dari ruangan rawatnya Reval.
"Iihh ... Abang!" gerutunya Syafira yang benar-benar merasa kesal saat ini.
__ADS_1
"Apa?" tanya Syafira dengan begitu ketusnya, di saat Reval menatap dirinya. Dan dengan kesalnya Syafira pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan ...
Bruk!
Dengan kasarnya Syafira pun langsung menutup pintu kamar mandi itu dengan sedikit kerasnya. Reval yang tengah berdiri di depan pintu itupun sontak langsung menutup telinganya, karena baginya suara dobrakan itu bukanlah kecil, namun sangat keras sekali.
"Astaghfirullah Yaa Allah ... Sya, lain kali jangan nutup pintunya kaya gitu! Telinga gue jadi sakit, Sya." ujar Reval memberitahu, sambil mengusap-usap telinganya yang terasa mendenging. Syafira yang mendengar hal itupun sontak langsung membuka pintu kamar mandinya dan keluar dari kamar mandi itu dengan perasaan khawatir.
"Kamu nggak pa-pakan, Val?" tanyanya mulai khawatir.
"Udah ambil wudhu?" Bukannya menjawab, namun Reval malah mengajukan pertanyaan balik kepada Syafira.
"Tunggu bentar!" ujar Syafira yang sontak langsung berlari lagi memasuki kamar mandi itu. Melihat tingkah lucu istrinya itupun Reval hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Syafira.
Setelah Syafira selesai mengambil wudhunya, langsung saja kedua insan itu menunaikan kewajibannya untuk melaksanakan sholat subuh secara berjamaah. Rakaat demi rakaat mereka lakukan. Damai, ya itulah yang terasa di dalam lubuk hat mereka. Setelah sekian lama penantian penjang itu mereka lalui dan kini pada akhirnya, takdir pun telah mempersatukan mereka dengan sebuah ikatan halal. Yang insya Allah nya akan membawa mereka menuju Jannah-Nya dan menggapai ridho-Nya, Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin ....
"Assalamu'alaikum warahmatullah ...."
"Assalamu'alaikum warahmatullah ...."
Selesai sudah sholat berjamaah mereka saat ini. Dengan cepatnya Reval pun langsung membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Syafira. Dengan senyuman yang merekah Reval pun menyodorkan tangannya untuk dicium oleh Syafira.
Ragu, ya itulah yang terjadi pada Syafira, karena ini adalah kali pertamanya Syafira mencium tangan seorang laki-laki selain abi dan kakaknya sendiri. Dan dengan gugupnya, pada akhirnya Syafira pun meraih tangan Reval. Lalu, mencium punggung tangan suaminya itu dengan begitu harunya. Sehingga, tak terasa air mata Syafira pun langsung menetes di saat itu juga.
Sedangkan Reval, dia tetap tersenyum dan mulai mengangkat tangan kirinya yang tengah terperban itu dan mulai melafadzkan doa untuk Sang Istri. "Bismillaahirrahmaanirrahiim ... Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin ...."
Setelah melafadzkan doa itu untuk Sang Istri, langsung saja Reval pun memegangi kepala Syafira menggunakan kedua tangan, lalu mulai mendekatkan wajahnya kepada kening Syafira.
Damai, tenang, haru, bahagia. Ya, itulah yang kini mereka berdua rasakan. Dengan buliran bening yang menyiratkan akan keharuan seketika itupun langsung luruh begitu saja dari kelopak mata mereka berdua. Dengan sigapnya Syafira pun langsung berhamburan ke dalam pelukannya Reval. Dan Reval yang mendapatkan perlakuan itupun dari Syafira, langsung saja membalas pelukannya Syafira dengan begitu hangatnya.
"Ana uhibbuki Fillah, Zaujatii." ujar Reval tepat di telinganya Syafira.
"Ahabbakalladzi Ahbabtani Lah." jawab Syafira dengan begitu lirihnya, lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sang Suami. Sehingga, membuat Reval langsung terkekeh geli melihat tingkah istrinya ini.
__ADS_1
"Semoga aku bisa membawamu dan membimbingmu sampai kita bisa sama-sama menggapai ridho-Nya, Sya. Dan semoga, kita memang ditakdirkan untuk terus bersama sampai pada Jannah-Nya, nanti. Aamiin ...." ujarnya Reval di dalam hatinya. Dan tentu Syafira bisa mendengarnya dengan begitu jelas. Dalam diam pun Syafira mengaminkan doa Reval tersebut dan tersenyum di dalam pelukan suaminya itu.