Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Salah Saran


__ADS_3

...Maaf, aku sudah salah memberikan saran. Tapi, aku mohon, jangan pernah menangis di depanku....


.........


"Uuuuuu ...."


Sebelum memasuki lirik Syafira pun mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghentikan aktivitasnya yang awalnya memutar-mutar kursi ke kanan dan ke kiri. Reval yang masih berdiam diri di pintu sejak tadi tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik Syafira, karena ini adalah kali pertamanya Reval akan mendengarkan dan menyaksikan Syafira bernyanyi dengan suara merdunya.


"Sebuah kisah hidup. Ku ... alami, menghancurkan keluargaku. Meredupkan hangat kasih sayang, karena sebuah perceraian ...."


Menyanyikan lirik itu, seakan-akan membuat pikiran Syafira melayang pada masa-masa di mana dia dan keluarganya selalu dalam karunia kebahagian dari-Nya.


"Kumenangis, dalam tidurku. Merindukan seperti dulu. Tapi ayah ... dan juga ibu, tak bisa untuk bersatu ...."


Hancur sudah pertahanan Syafira untuk tidak menangis, karena bayangan pada kejadian itu, berhasil membuatnya meluncurkan air mata begitu saja. Rasanya, Syafira tidak kuat lagi untuk melanjutkan lirik berikutnya, namun dia tetap saja egois demi yang lainnya. Karena jika Syafira tidak melanjutkan lirik ini, bisa-bisa semua orang merasa kecewa dengan Syafira.


Reval yang melihat gadis itu menangis pun ikut merasa bersalah, karena sudah memberikan saranan lagu yang pastinya akan membuat Syafira merindukan ummy dan abinya.


"Seperti ... i ... nikah ... jalanku ... yang harus kutempuh."


Syafira sempat terkejut dengan suara itu, sebab itu bukanlah suaranya, melainkan suara seorang pria, yang tak lain adalah Reval. Reval pun bernyanyi dengan begitu merdunya sambil berjalan memasuki ruangan musik. Membuat semua siswa dan siswi yang berada di sana merasa takjub dengan dirinya. Namun, berbeda dengan Syafira yang masih saja meneteskan air matanya, dan kepala yang dimiringkan mengikuti arah berjalannya Reval.


"Mengapa ... oh Tuhan ... Kau beri ... cobaan ini untukku."


Syafira pun akhirnya ikut dalam bernyanyi, walaupun rasa bingung tetap menghantuinya dan air mata yang masih saja mengalir dengan begitu derasnya. Sedangkan Reval, kini dia sudah berdiri di sampingnya Syafira, bersama dengan microfon yang ada di depan wajahnya.


[Musik]


Syafira pun menghapus air matanya dengan kasar. Lalu, kembali menarik nafasnya dengan dalam-dalam.

__ADS_1


"Kumenangis, dalam tidurku. Merindukan seperti dulu. Tapi ayah ... dan juga ibu, tak bisa untuk bersatu ...."


Lalu, setelahnya, Reval yang melanjutkan lirik selanjutnya. Sedangkan, Syafira terus saja menangis akan bayangan-bayangan di mana kejadian pada malam itu terjadi begitu saja.


"Seperti ... i ... nikah ... jalanku ... yang harus kutempuh. Mengapa ... oh Tuhan ... Kau beri ... cobaan ini untukku."


Setelah Reval menyelesaikan liriknya, Syafira pun kembali bernyanyi bersama dengan Reval.


"Yaa Allah ... Yaa Tuhanku.


Kuatkan ... hati kecil hambamu. Kupasrah ... kan padamu. Semoga ... hikmah menghampiriku ...."


Setelah menyanyikan lagu itu, Syafira pun langsung menangis tersedu-sedu. Rasa takut akan malam itu kembali menghantuinya. Kenyataan pahit yang selama ini sudah dia usahakan untuk melupakannya dan hari ini semuanya kembali terbuka.


Dengan tangan yang dijadikan tumpuan untuk menangkupkan wajahnya, Syafira pun terisak begitu pilu. Reval yang melihat itupun langsung menghampiri Syafira. Begitu juga dengan Kayla yang langsung menghampiri sahabatnya.


"Iya Fir, ummy dan abi pasti akan merasa sedih, kalau mereka melihat kamu menangis seperti ini." ujar Kayla membenarkan perkataan Reval dengan mengusap-usap punggung sahabatnya itu.


Kini, semua orang yang berada di ruangan ini sudah mengelilingi ketiga manusia yang berbeda jenis itu. Mereka merasa kasihan dengan Syafira yang tiba-tiba saja menangis ketika menyanyikan lagu itu. Dan bahkan, mereka semua tidak akan mengira, bahwa lagu tersebut akan membuat Syafira seperti ini pada akhirnya.


"Hikss ... hikss ... hikss ...." Syafira sama sekali tidak mempedulikan bujukan dari kedua orang itu, melainkan dia terus saja menangis dengan begitu pilunya.


"Sya, gue minta maaf, ini salah gue. Seharusnya gue nggak nyaranin lagu itu buat lo. Gue mohon Sya, maafin gue." lirih Reval yang benar-benar merasa bersalah dengan saran yang telah diberikannya tadi. Sampai-sampai dia tidak menyadari, bahwa dia telah memanggil nama Syafira, dan nada dingin yang biasanya kini telah berubah dengan nada yang menghangatkan.


Awalnya, saat memberikan saran itu, Reval juga sempat merasa bingung, ntah kenapa dirinya tiba-tiba teringat dengan satu judul lagu itu. Dan beginilah akhirnya, sebuah penyesalan akan saran yang diberikannya berujung dengan sebuah penyesalan.


Syafira tetap saja menangis, walaupun kini Kayla sudah memeluknya dengan sangat erat. Reval benar-benar bingung akan apa yang harus dia lakukan sekarang, agar Syafira bisa mereda dari tangisnya. Sebab, Reval benar-benar tidak tahan, jika ada seorang wanita yang menangis di hadapannya ini.


"Sya, gue mohon. Lo jangan nangis lagi, gue nggak tahan liat lo yang kaya waktu itu." lirih Reval di dalam hatinya. Seperti biasa, Syafira pasti akan mendengar setiap perkataan hati orang-orang yang berada di sekitarnya saat itu juga.

__ADS_1


"Fir, udah. Nanti kepala kamu sakit lagi," bujuk Kayla yang masih saja tetap tidak dihiraukan oleh Syafira.


Reval benar-benar tidak tahu lagi akan berbuat apa untuk saat ini. Akan tetapi, yang jelas sekarang Reval benar-benar tidak menyukai tangisan seorang wanita, dia sangat membenci itu.


Bughh!


Reval pun memukul lantai dengan keras tanpa mempedulikan tangannya yang memerah karena pukulan itu. Lalu, dengan amarah yang menggebu Reval pun pergi dari sana dan keluar dari ruangan itu. Sehingga, membuat Syafira terdiam saat itu juga. Memori di saat Reval marah ketika Syafira yang sama sekali tidak mau berhenti menangis kembali terngiang di kepalanya. Syafira tidak pernah tahu, apa penyebab pria itu bisa marah dengan tiba-tiba seperti itu.


Syafira pun menghapus air matanya, lalu bangkit dari duduknya. Namun, sebelum itu, Syafira terlebih dahulu mengambil tongkatnya yang tergeletak di lantai, di bawah kakinya. Syafira pun berdiri tegap, lalu mulai memukul-mukulkan tongkatnya ke lantai dan langsung berjalan meninggalkan semua orang yang kini tengah menatap Syafira dengan bingung.


Syafira pun terus berjalan dengan bantuan tongkatnya keluar dari ruangan ini, meninggalkan semua orang yang ada di sana. Dan bahkan teriakan dari Kayla sama sekali tidak dihiraukannya. Sekarang fokusnya Syafira hanya ada pada satu orang, yaitu Reval. Syafira ingin bertanya kepada pria itu, mengapa dia selalu marah ketika melihat Syafira menangis.


Dengan sedikit mempercepat jalannya, Syafira pun terus memukul-mukulkan tongkatnnya kelantai. Perasaan ingin tahunya kini begitu membuat dirinya merasa egois untuk bertanya dan menemui Reval, di mana pun pria itu berada.


Bughhh!


Tanpa sengaja, Syafira pun tertungkai oleh sebuah batu, ketika dia akan menuju parkiran yang berada sudah tidak jauh lagi dengan posisinya sekarang ini.


"Astaghfirullah ...." lirihnya sambil memegangi lututnya yang benar-benar terasa sakit untuk sekarang ini.


Kayla yang sejak tadi berusaha mengejar Syafira pun akhirnya datang menghampiri Syafira. Kayla pun membantu Syafira yang ingin sekali untuk berdiri. Dengan rasa sakit yang luar biasa pada lututnya, Syafira pun berusaha untuk menahan rasa sakit itu dan tetap kukuh untuk berdiri.


Dan pada akhirnya, Syafira pun berhasil berdiri dengan bantuan Kayla. Namun, karena keegoisannya, Syafira pun pergi ke parkiran, berusaha mencari keberadaan Reval. Namun, Syafira sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Reval di parkiran ini.


Tittt ...


Klakson mobil itu seketika membuat Syafira membalikkan badannya dan langsung menepi dari sana. Sedangkan, di dalam sana ada sosok Reval yang tengah di rundung amarah mengemudikan mobil.


"Reval, jangan pergi dulu!" ujar Syafira yang menyadari akan satu hal. Namun, sayangnya Reval sama sekali tidak mempedulikan perkataan Syafira, melainkan dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah itu dan meninggalkan kedua gadis yang satunya menatap Syafira dengan iba dan yang satunya lagi menatap kecewa akan kepergian Reval, meskipun arah pandangnya bukan kepada mobil itu.

__ADS_1


__ADS_2