
...Setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya, jadi kalau kita ditimpa musibah, janganlah bersu'udzon terhadap kejadian itu....
.........
Setelah perjalanan yang panjang ke bukit ini, akhirnya Reval menemukan satu-satunya bangunan gedung tua yang bertingkat tujuh di depan matanya sekarang. Dengan cepatnya Reval pun langsung keluar dari dalam mobilnya itu, lalu langsung memasuki bangunan gedung tua itu.
Sunyi dan pengap, ya itulah yang kini tengah di rasakan oleh Reval ketika memasuki gedung itu. Dengan langkah yang terus berlari ke sana dan ke mari, Reval pun mencari keberadaan Syafira di setiap lantai gedung ini. Namun, ini sudah pada lantai ke tujuh, dan dia sama sekali belum juga bertemu dengan Syafira. Membuat Reval menjadi semakin ketakutan sekarang ini.
"Yaa Allah ... Syafira, lo di mana?" lirihnya Reval yang begitu frustasi saat ini. Namun, selang beberapa detik kemudian, Reval pun samar-samar mendengar jeritan seseorang.
"Lepasin saya!"
"Syafira?" lirih Reval, yang seketika itupun langsung memfokuskan pendengarannya pada arah suara yang dia dengar tadi. Dan dengan cepatnya, Reval pun langsung berlari menuju tangga yang bisa membawanya ke lantai paling atas, yang tak lain adalah roftop. Dengan langkah yang begitu cepatnya, Reval pun langsung menaiki anak tangga itu satu demi satu.
Dan pada akhirnya, Reval pun berhasil sampai di roftop itu. Dengan pandangannya menelusuri, Reval pun mencoba mencari keberadaan Syafira di sini. Dari balik tembok, ke balik tembok, Reval pun terus mencari keberadaan Syafira dan sampai pada akhirnya ...
"Syafira!"
"Aaa ...." teriak Syafira yang pada saat itu langsung terhuyung ke belakang dan alhasil ...
"Jangan lepaskan tangan gue, Sya!" ujar Reval yang saat itu juga telah menggenggam erat tangannya Syafira dan begitu sebaliknya.
Grasella yang melihat kehadiran Reval di sini pun, seketika itupun langsung menatap Reval dengan benci. Dia benci Reval, dia benci dan dia sangat membencinya. Karena ulah pemuda itu, Grasella menjadi kehilangan kasih sayang ayahnya dan dia juga harus berjauhan dengan Rendra, Sang Kakak.
"Argh! Gue benci lo, Reval!" teriak Grasella yang seketika itupun langsung melayangkan pisaunya ke arah Reval.
Reval yang mendengarkan teriakan itu dan merasakan suatu hembusan angin dari sebuah layangannya itupun langsung mengangkat tangannya dan menangkap benda yang ingin mengenai punggungnya itu.
__ADS_1
Dengan begitu terkejutnya, Grasella pun tetap tidak mau membiarkan Reval. Dengan tenaga sekuatnya, Grasella pun trus memaksakan pisau itu agar mengenai punggungnya Reval. Namun, sayangnya, Reval yang tengah berusaha untuk membantu Syafira itupun tetap berusaha sekuat tenaga menahan pisau yang mengarah pada punggungnya itu.
Titik demi titik, darah segar pun mulai bercucuran dari telapak tangannya Reval. Namun, darah itu sama sekali tidak di hiraukan oleh Reval yang kini tengah berusaha untuk melindungi dirinya sendiri dan juga istrinya.
Dor!
Bunyi tembakan pistol pun menggema di roftop ini. Sehingga, membuat Grasella yang tengah memaksakan dirinya untuk menusuk Reval langsung berhenti dan membalikkan badannya ke belakang.
"Angkat tangan kalian!" ujar seorang polisi. Dan kini, di sana telah berdiri beberapa orang polisi bersamaan dengan sebuah pistol di tangan mereka masing-masing, yang mereka arahkan ke arah Grasella beserta para pria yang bertubuh tegap itu.
Di saat seperti ini, Reval pun langsung memanfaatkannya untuk menarik Syafira kembali ke atas roftop. Dengan satu tarikan dan dengan tenaga yang tersisa, Reval pun langsung menarik tubuh Syafira.
"Akh!" teriak Reval yang berusaha untuk menarik Syafira. Sedangkan, Grasella kini benar-benar ketakutan. Dia tidak ingin masuk penjara, dia tidak ingin. Dan dengan begitunya, sebuah ide licik pun muncul di benaknya. Seketika itupun, Grasella langsung berlari menjauh dari sana dan ...
"Tidak!" teriak semuanya, ketika Grasella malah menerjunkan dirinya jatuh ke bawah gedung itu. Berbeda dengan Syafira, yang pada saat itu malah langsung masuk ke dalam pelukannya Reval.
Lemas, pusing, mual. Ya, itulah yang Reval rasakan pada saat ini. Dia yakin, jika phobianya ini pasti akan kambuh. Namun, Reval yang keras kepala tidak akan mudah menyerah begitu saja. Dengan penglihatan yang sudah sayup-sayup, Reval pun mengusap-usap punggung Syafira dengan begitu lembutnya.
Para polisi itupun langsung saja menangkap para pria yang bertubuh tegap itu. Lalu, membawa mereka pergi dari sana untuk di tahan dalam penjara. Dan soal Grasella, maka polisi juga yang akan mengurus semuanya.
Hafidz yang sudah berada di sana pun langsung saja menghampiri Reval dan Syafira yang tengah berpelukan itu.
"Ekhem ...." dehemnya Hafidz dengan sengaja. Dan Syafira yang baru saja menyadari akan tindakannya inipun sontak langsung mendorong Reval. Namun, bukannya pelukan itu terlepas, Reval malah semakin mempererat pelukannya.
"Biarkan seperti ini dulu, Sya. Gue merasa sedikit tenang, jika lo meluk gue kaya gini." bisik Reval yang masih saja memeluk Syafira dengan eratnya.
"Astaghfirullah ... Reval!" teriak Hafidz, ketika pandangannya mengarah pada tangan Reval yang sudah mengeluarkan banyak darah, dan bahkan kini darah itu sudah mengenai pakaian Syafira sendiri.
__ADS_1
"Ada apa, Bang?" terkejut Syafira yang pada saat itu sontak langsung mendorong tubuh Reval dengan begitu kuatnya. Sehingga, membuat Reval terhuyung ke belakang.
"Astaghfirullah ... Ara, apa yang kamu lakukan, Dek?" terkejut Hafidz yang seketika itupun langsung menghampiri Reval yang sudah mulai berkurang kesadarannya.
Jujur, Syafira benar-benar tidak mengerti sekarang. Bukankah tadi kakaknya marah di saat Reval memeluknya lagi? Lalu, mengapa ketika dia melepaskan pelukan itu, kakaknya malah memarahinya dan langsung merasa khawatir dengan pemuda yang kini hampir kehilangan kesadarannya itu.
"Syafira jangan diam aja, cepat bantu Abang!" marahnya Hafidz, di saat Syafira malah termenung dan bukan membantu dirinya yang kini sudah berdiri bersama dengan Reval. Dengan keadaan Hafidz yang berniat ingin membopong tubuhnya Reval menuju mobil yang ada di bawah.
"Bang, udah. Jangan marahin istri Reval terus, kasihan dianya masih ketakutan, Bang." ujar Reval yang tak pernah memudarkan senyumannya.
"Tapi, Val ...." timpal Hafidz merasa tidak setuju dengan larangan Reval.
"Udah Bang, kasihan." ujar Reval sekali lagi.
"Sya, cepatan!" suruh Hafidz lagi tanpa menghiraukan perkataan Reval. Dan Syafira yang dipanggil itupun hanya bisa menurut dengan langkah terpaksa. Dan di dalam hati kecilnya dia pun memohon maaf kepada Allah, karena telah menyentuh laki-laki yang bukan mahramnya.
Langkah demi langkah pun mereka turuni anak tangga itu secara persatu-satu. Sampai pada akhirnya, mereka bertiga pun sudah sampai di luar gedung itu. Dan dengan segera, Hafidz pun langsung membantu Reval untuk masuk ke dalam mobilnya itu.
"Ra, kamu temani Reval di belakang, dan jangan membantah!" tegas Hafidz, sebelum Syafira menolak dan mengatakan "tapi" padanya.
Kalau sudah mendengar ketegasan dari Sang Kakak, maka Syafira sudah tidak bisa membentak lagi. Dan dengan terpaksa, Syafira pun akhirnya duduk di samping Reval, meskipun memberikan jarak di antara mereka berdua.
"Sya," lirih Reval dengan pelannya.
"Apa?" jawab Syafira dengan begitu ketusnya.
Reval pun tersenyum menatap sosok istrinya itu dan ...
__ADS_1
"Reval!"