Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Kenapa?


__ADS_3

...Hidup itu bukan untuk disesali, namun hidup itu untuk dipelari, sebab pembelajaran bakalan ada hikmahnya, ketika kita ambil dari pengalaman hidup....


.........


Kriiinggg!!


Akhirnya, jam istirahat yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh semua siswa dan siswi pun akhirnya datang. Mereka semua pun langsung berhamburan keluar kelas setelah para guru keluar dari kelas mereka masing-masing.


"Fir, kita ngantin, yuk!" ajak Kayla. Syafira yang tengah memasukkan bukunya ke dalam tas pun langsung menatap Kayla.


"Oke, tunggu bentar, ya." ujarnya yang kembali melanjutkan aktivasnya tadi.


"Yaudah, ayo!" seru Syafira lagi, setelah akhirnya dia pun selesai memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas miliknya. Kayla dan Syafira pun akhirnya meninggalkan kelas yang sudah sepi itu, dan menuju kantin yang sudah ramai akan para penghuninya.


Melihat kedatangan Kayla dan Syafira, Yoga yang tengah melahap baksonya pun langsung menepuk-nepuk tangan Vino yang ada di sampingnya. Dan bakso yang baru saja akan masuk ke dalam mulutnya Vino itupun seketika terjatuh tanpa sengaja. Vino pun menatap Yoga dengan sangat kesal.


"Ada apa, sih? Liat noh, gara-gara lo pentol gue berkurang satu." ujar Vino dengan sangat kesalnya.


"Ipu aba Payla ban Capila," ujar Yoga sambil mengunyah bakso yang ada di dalam mulutnya dengan bersusah payah.


"Lo ngomong apaan, sih? Kagak jelas banget," gerutu Vino yang menjadi semakin kesal.


"Tau, kalau mau ngomong itu mulut lo dikosongin dulu, jangan ngomong sambil makan, nanti tersedak baru tahu rasa, lo." timpal Ekal dengan nada suara yang sedikit ditinggikan.


"Huhhh ... goblok kalian semua," ujar Yoga setelah berhasil menelan baksonya tadi. Yoga pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kedua temannya yang tengah menatapnya dengan aneh.


"Ke mana 'tu bocah?" tanya Vino yang masih saja merasa kesal dengan Yoga. Dan Ekal yang ditanya pun hanya mengedikkan bahunya tidak acuh, lalu kembali fokus pada ponsel yang sempat dia anggurin tadi.


"Eh, itu Syafira, bukan?" tanya Vino yang spontan membuat Ekal langsung mengalihkan arah pandangnya kepada arah tunjuk tangan Vino, yaitu ke arah Yoga, Syafira, dan Kayla berada sekarang.


"Eh iya, memangnya dia udah balik, ya?" tanya Ekal asalan.


"Eh soblang, kalau dia belum balik, nggak mungkin dia ada di depan mata lo sekarang." ujar Vino yang tak pernah lupa dengan toyorannya pada kepala Ekal.


"Bangsul lo, ini kepala gue, woi. Enak aja lo main toyor-toyor, kalau jatuh mahkota gue gimana?" ujar Ekal yang kembali asalan dan malahan dia bergaya seperti sosok raja yang tengah memperbaiki mahkotanya yang hampir terjatuh.


"Cik, mahkota. Ngehalu mulu kerjaan, lo." ejek Vino dengan menampilkan ekspresi yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya langsung tertawa.

__ADS_1


"Biarin, dari pada Reval, yang nggak pernah mau mendengarkan ucapan sahabatnya sendiri. Dan malah memilih untuk memutuskan persahabatan kita, serta meninggalkan kita semua." tutur Ekal lagi.


"Eh sob-"


"A-apa?"


Deg.


Mendengar suara seseorang yang sangat dikenali oleh mereka berdua, spontan langsung membuat mereka berdua terkejut dan seketika itu juga, Vino langsung mendongakan kepalanya menatap Syafira yang kini telah berada di depannya atau lebih tepatnya di belakang Ekal, bersama dengan Yoga dan Kayla yang tengah menatap Vino dengan marah.


"Sya-syafira?" ucap Vino spontan. Vino bisa melihat air mata itu keluar dengan begitu saja dari pelupuk mata Syafira. Rasa bersalah pun mulai menghantuinya sekarang. Dan tidak hanya itu, bahkan rasa takut pun juga telah mengelabuinya.


Begitu juga dengan Ekal yang sudah mengetahui siapa pemilik suara itu awalnya, namun dia hanya tidak berani membalikkan badannya menghadap ke arah Syafira. Dia takut, dan dia merasa bersalah sekarang akan perkataannya tadi. Seandainya, dia bisa menahan amarahnya terhadap Reval, mungkin rasa takut dan rasa bersalah ini tidak akan menghantuinya sekarang.


"A-apa maksudmu, Ekal?" tanya Syafira dengan sangat lirihnya.


"Fir, kamu nggak usah dengerin perkataan Ekal, ya. Ekal memang selalu begitu, dia selalu bercanda nggak jelas." ujar Kayla mencoba untuk menenangkan Syafira.


"Ha ... iya Fir, gue cuma bercanda. Udahlah, lo nggak usah nangis lagi." timpal Ekal yang langsung membalikkan badannya dan memberanikan diri menghadap Syafira yang tengah menatap dirinya dengan penuh kesedihan.


"Iya Fir, Ekal mah, orangnya selalu gitu." timpal Vino dan diangguki oleh Yoga.


"Jawab!!" bentak Syafira dengan begitu marahnya. Air mata yang awalnya tidak terlalu deras, akhirnya menjadi sangat deras sekarang. Membuat keempat manusia itu saling menatap ketakutan. Berbeda dengan orang-orang yang malah menyaksikan kejadian ini dengan begitu santainya.


"Wihhhhh ... sepertinya nanti malam gue nggak perlu nonton sinetron lagi, nih." ujar seorang siswi yang setelah itu langsung meminum minuman sprit yang berada di atas meja, di hadapannya.


"Duar ... duar ... kayanya bakalan ada yang rusak nih, guys." ujar salah satu siswi lagi yang kali ini menampilkan gaya seperti orang yang tengah menembak lawannya.


"Asik ... hubungan mereka hancur!!" teriak salah satu siswi lagi yang membuat semua orang langsung menutup telinganya, kecuali kelima manusia yang tengah menjadi sorotan itu, karena mereka sama sekali tidak mengubrisi perkataan semua orang.


"Fir, de-dengerin ka-"


"Kenapa Kay? Kenapa kalian tidak memberitahu aku? Kenapa? Hiksss .... aku juga berhak tahu Kay, bagaimana pun aku pernah berhutang budi dengannya Kay, hiksss ...." jelas Syafira di sela-sela isakan tangisnya.


"Iya Fir, sebenarnya kami juga ingin memberitahumu, namun kami tidak bisa melihatmu terluka nantinya." jelas Kayla sambil menatap Syafira dengan sendu.


"Malahan, dengan tidak memberitahuku seperti ini, kalian sudah semakin membuatku terluka." timpal Syafira yang setelah itu langsung berlari meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


"Fir, tunggu!" teriak mereka berempat yang berusaha mencegah Syafira, namun sayangnya Syafira sama sekali tidak mempedulikan panggilan keempat manusia itu. Melainkan, dia hanya terus berlari menerjang kerumunan yang menatap Syafira, sambil mengejeknya.


...


"Iya Bun, Insya Allah, Reval akan jaga diri Reval baik-baik di sini." ujar Reval sambil tersenyum ke arah Sang Bunda. Kini, Reval telah berada di asramanya dulu. Asrama yang adalah sekolah swasta yang menempatkan murid khusus laki-laki. Oh iya, asrama ini bukanlah sekolah islam. Namun, asrama ini adalah sebuah sekolah yang sama seperti sekolah-sekolah lainnya, hanya saja sekolah ini memiliki sebuah asrama yang bisa ditempati oleh para siswa yang bersekolah di sini.


Sang Bunda pun mencium kening Sang Putra dengan begitu lembutnya. "Nak, apa kamu yakin dengan pilihanmu ini?" tanya Sang Bunda, yang ntah keberapa kalinya. Sebab, selama perjalanan menuju asrama ini, Sang Bunda tidak pernah berhenti untuk menanyakan hal itu kepada Sang Putra.


"Iya, Bun. Ini adalah keputusan Reval, dan keputusan Reval tidak bisa diganggu gugat lagi." tutur Reval. Sang Bunda pun menjadi semakin lesu sekarang.


"Yasudah, semoga ini memang yang terbaik untukmu, Nak. Semoga berhasil," ujar Sang Bunda menyemangati.


"Terima kasih, Bun. Yasudah, kalau gitu Reval masuk dulu Bun, Yah. Assalamu'alaikum ...." pamitnya sambil mencium punggung tangan Sang Ayah dan Sang Ibu.


"Wa'alaikumussalam ...." Reval pun mulai melangkah meninggalkan kedua orang tuanya dan memasuki pelantaran asrama yang terlihat sedikit ramai. Dan setelah melihat kepergian Sang Anak, akhirnya Riska dan Alex pun juga ikut meninggalkan pelantaran asrama. Dan kembali pulang ke rumahnya.


Waktu pun terus berlalu dan akhirnya, Riska dan Alex pun telah sampai di rumahnya. Namun, mereka benar-benar bingung, ketika mendapati Syafira dan Hafidz yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan cepatnya Riska dan Alex pun langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Hafidz dan Syafira yang kini tengah menangis. Tak henti-hentinya tangan kekar itu terus saja mengusap-usap lembut bahu Sang Adik.


"Eh, Nak Hafidz dan Syafira?" ujar Riska merasa bingung.


"Iya Tante, Assalamu'alaikum Om, Tante." ujar Hafidz sambil menyalami kedua pasang suami istri itu.


"Wa'alaikumussalam ...." jawab Riska dan Alex hampir berbarengan.


"Nak Hafidz dan Syafira kapan pulangnya? Kok Bunda nggak tahu?" tanya Riska.


"Udah seminggu, Tan. Oh iya, maaf Tan, Hafidz belum sempat ngasih kabar soalnya." jelas Hafidz.


"Ouhh ... yaudah gak pa-pa. Oh iya, ayo masuk dulu, masa kita ngobrolnya di luar kaya gini." ajak Riska. Namun, Syafira langsung menggeleng.


"Ti-tidak Bun, Syafira cuma mau tanya, kenapa Reval pergi tanpa memberi kabar kepada Syafira?" tanya Syafira langsung. Dan membuat Riska langsung sadar, kalau Syafira kini tengah menangis.


"Ra, kita masuk dulu yuk, Nak." ajak Alex lagi. Namun, Syafira masih kokoh. Dia tetap tidak mau masuk ke dalam rumah, sebelum mereka berdua menjawab pertanyaan Syafira.


"Syafira nggak mau, Yah. Syafira cuma mau Bunda dan Ayah jawab pertanyaan Syafira." jelas Syafira.


"Ra, maafin Bunda." lirih Riska yang juga ikut merasa bersalah sekarang.

__ADS_1


"Bunda nggak bisa mencegah Reval pergi, maafiin Bunda, Fir." lirih Riska, yang kini telah menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah. Syafira yang melihat Riska seperti ini pun langsung memeluk Riska dengan begitu eratnya. Melihat Riska yang merasa bersalah seperti ini, seolah-olah membuat Syafira juga ikut merasa bersalah sekarang, karena telah membuat Sang Bunda merasa sedih.


"Maafin Ara, Bun." ujar Syafira di saat memeluk Riska. Riska pun membalas pelukan Syafira dengan begitu leganya, karena pada akhirnya, Syafira pun bisa mengerti keadaan lagi.


__ADS_2