Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Tidak Mengerti


__ADS_3

...Ada hal yang mudah untuk dimengerti di dunia ini, namun hanya beberapa diantara kita yang bisa mengerti itu semua....


.........


Hari-hari pun berlalu seiring berjalannya waktu. Dan tak hanya itu, sifat Reval yang biasanya tidak terlalu dingin, kini malah bertambah dingin. Dan bahkan, Reval tidak terlalu mempedulikan Syafira lagi, seperti sebelumnya. Dan masalah para kaum hawa yang selalu mengagumi Reval sebelumnya, kini sudah tidak terlalu heboh seperti biasanya. Reval pun merasa lega dengan hal itu, karena hidupnya tidak merasa terusik lagi.


Butiran-butiran keringat itupun mengalir begitu saja di wajahnya, namun sama sekali tidak menjadi penghalang dalam kelincahan Reval memantul-mantulkan bola itu.


"Wahyu!" teriak Reval yang langsung melempar bola itu dengan teknik dalam permainan basket, ke arah salah satu anggota timnya. Dan bola itupun berhasil di tangkap oleh pemuda yang bernama Wahyu itu.


Wahyu pun membawa bola itu dengan memantul-mantulkannya ke lantai, lalu melemparkannya ke arah Reval yang sudah berdiri di bawah ring basket. Reval pun menangkap bola itu dengan cepat, membuat semua siswi-siswi yang ada di sana langsung menjerit histeris. Namun, jeritan itu sama sekali tidak digubrisi oleh Reval, melainkan dia terus memantul-mantulkan bola itu ke lantai dan di saat dia sudah merasa tepat, akhirnya Reval pun melemparkan bola itu ke dalam ring basket. Bukannya memasuki ring, namun bola itu malah memantulkan dirinya ke papan ring dan ...


Bughhh!


Syafira yang tengah berjalan di sana seorang diri, tiba-tiba terkena pukulan dari bola basket. Sehingga, membuat semua orang langsung terpelonjak kaget, termasuk Reval sendiri.


"Astaghfirullah," lirih Syafira yang langsung terduduk di lantai. Reval yang melihat hal itupun langsung menghampiri Syafira dengan wajah khawatirnya.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Reval dengan penuh kekhawatiran.


"I-iya," gugup Syafira yang masih memegangi kepalanya, sambil menahan rasa sakit yang bergejolak di kepalanya itu. Sepertinya, bola itu telah mengenai bekas luka yang ada di kepala Syafira pada saat kecelakaan itu, mangkanya sakitnya begitu terasa.


"Maafin gue, gue nggak sengaja." ujar Reval merasa bersalah.


"Iya, nggak pa-pa." timpal Syafira. Di saat kesakitan seperti ini, Syafira masih tetap menampilkan senyumannya kepada Reval. Sehingga, membuat jantung Reval tak beraturan dalam berdetak.


"Tapi, lo ...."


"Saya nggak apa-apa, " jawab Syafira yang langsung memotong perkataan Reval dan mengambil tongkatnya yang tergeletak di samping kakinya. Lalu, Syafira pun berusaha untuk berdiri sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Awalnya, Reval ingin membantu Syafira, namun Syafira menolak hal itu, karena dia tidak ingin disentuh oleh yang bukan mahramnya.


"Afwan, saya permisi dulu, Assalamu'alaikum." pamit Syafira yang langsung memukul-mukulkan tongkatnya ke lantai dengan memegangi sebelah kepalanya yang terasa nyeri. Reval pun hanya bisa menatap kepergian Syafira, tanpa ingin melakukan sesuatu.


"Val," ujar Yoga yang menepuk bahu sahabatnya itu. Reval pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan mendapatkan Yoga yang kini telah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Lo kenapa?" tanyanya menatap Reval dengan khawatir.


"Ha ... nggak, gue nggak apa-apa." alibinya Reval. Reval pun langsung mengambil bola basket yang tergeletak di bawah kakinya itu dan mulai memantul-mantulkannya ke lantai, serta meninggalkan Yoga yang tengah merasa bingung dengan dirinya.


...


Kringggg!!!


Jam pulang sekolah pun akhirnya datang, para siswa dan siswi pun langsung meninggalkan kelas mereka masing-masing setelah para guru keluar dari kelas mereka tersebut.


"Kayla, biar aku saja." pinta Syafira yang sedari tadi sama sekali tidak dihiraukan oleh Kayla.


"Udah deh Fir, kamu diam aja dulu, biar aku aja. Kepala kamu 'kan lagi sakit, jadi biar aku aja yang masukin semua buku-buku kamu. Anggap aja ini sebagai tanda maafku sama kamu, karena aku nggak bisa jagain kamu tadi." ujar Kayla sambil memasang resleting tas Syafira.


"Yah, kamu mah gitu, ah." ujar Syafira sambil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.


"Udah nih, yuk kita keluar sekarang!" ajak Kayla yang langsung diangguki oleh Syafira. Syafira pun langsung meraih tongkatnya yang bersandar di dinding sampingnya. Lalu, Syafira pun berdiri dari duduknya dan mulai keluar dari kelas dengan tuntunan dari Kayla yang setia berada di sampingnya sejak tadi.


"Kay, kita langsung ke ruang musik atau gimana?" tanya Syafira di saat menuruni anak tangga bersama dengan Kayla.


"Boleh, lagian ini kayanya udah 10 menit habis bel pulang berbunyikan? Pasti anak-anak yang lain udah ada di sana." ujar Syafira.


"Hmm ... yoi," Dan mereka berdua pun terus berjalan menuju ruang musik yang sudah tidak jauh lagi dari mereka sekarang ini.


Akhirnya, 3 menit kemudian. Syafira dan Kayla pun sampai di ruangan musik, di mana ruangan itu telah dipenuhi beberapa siswa dan siswi. Langsung saja mereka memasuki ruangan itu dengan membaca salam, namun kedatangan Syafira malah membuat mereka semua berbisik-bisik. Dan tentu hal itu sangat menyinggung perasaan Syafira.


"Mohon maaf, di sini adalah tempat latihan, bukan tempat ghibah." ujar Kayla dengan tegasnya dan langsung membuat semua orang terdiam.


"Udah Kay, aku nggak apa-apa, kok." kata Syafira yang meyakinkan Kayla.


"Nggak Fir, sampai kapanpun aku nggak akan terima kalau sampai ada yang menyakiti kamu, baik itu fisik ataupun batin kamu. Karena kalau mereka menyakiti kamu, itu sama saja mereka telah menyakiti aku, Fir." jelas Kayla dengan serius.


"Ah, udah ah. Kamu ini jadi buat aku nangis aja." ungkap Syafira yang langsung mengusap air matanya yang hampir saja keluar.

__ADS_1


"Ihhh ... kok malah jadi nangis, sih? Udahlah yuk, kita tes vokal dulu!" ajak Kayla yang langsung menuntun Syafira ke sebuah kursi yang di depannya sudah ada microfon.


"Yang lain, ayo ambil posisi kalian masing-masing! Ingat, satu minggu lagi kita akan tampil, dan penampilan kita harus terlihat baik untuk kali ini." jelas Kayla yang langsung diangguki oleh semua orang.


"Kak, lagunya apa kali ini?" tanya seorang siswa yang kini berada di posisi sebagai pemukul drumb.


"Jalan Hidupku, gimana?" Bukan Syafira yang menjawab, namun sosok Reval lah yang kini tengah berdiri diambang pintu bersama dengan teman-temannya, Yoga, Vino, dan Ekal.


Semua mata langsung mengarah ke arah Reval dan ketiga sahabatnya, namun berbeda dengan Syafira yang hanya menatap lurus ke depan, namun telinganya fokus ke arah Reval.


"Reval?" lirihnya, yang sama sekali tidak bisa di dengar oleh orang lain, namun bisa di dengar oleh Reval. "Iya, ini gue. Kenapa?" tanya Reval di dalam hatinya.


Syafira benar-benar bingung saat ini, dia bingung apakah Reval mendengar suaranya yang padahal tidak bisa di dengar oleh siapa pun. Namun, kebingungannya langsung terjawab dengan memori lamanya di saat hari pertama Reval bersekolah di sini.


"Kak Reval?" terkejut salah satu siswi yang langsung berlari menghampiri Reval dan meninggalkan posisinya yang sebagai pengisi suara kedua.


"No," tegas Reval yang langsung mundur, ketika ada siswi itu ingin menyentuh tangannya.


"Ma-maaf Kak," gugup siswi itu dengan menundukkan kepalanya.


"Kania, kembali pada posisimu!" suruh Kayla yang kini sudah berada di hadapan keempat lelaki itu. Siswi yang bernama Kania itupun menuruti perintah Kayla untuk kembali pada posisinya, sehingga menyisakan kelima manusia yang berbeda jenis di sana.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Kayla dengan ketusnya.


"Kami mau gabung," jawab Reval dengan dingin.


"Ha?" Semua orang yang mendengar hal itupun langsung terpelongo terkejut akan perkataan Reval yang ingin gabung dalam grup musik mereka.


"Hahahaha ... udah ah, yang lain ayo mulai." ujar Kayla yang setelah itu langsung kembali ke tempat posisinya, yaitu sebagai pemain piano.


"Jadi, lagunya apa, Kak?" tanya siswa yang tadi, namanya adalah Farel.


"Jalan Hidupku saja," jawab Syafira dan diangguki oleh semuanya.

__ADS_1


Farel pun mulai memainkan musiknya sebagai intro dan begitu juga dengan yang lainnya. Sedangkan Syafira, dia mencoba untuk memasuki suasana lagunya, sambil sedikit memutar-mutarkan bangkunya yang tengah dia duduki sekarang ini.


__ADS_2