
...Aku tak pernah tahu, siapa pemilik hatiku kelak....
.........
"Kamu?" tanya Hafidz ketika mendapati keberadaan Reval di sana. Reval pun hanya tersenyum tipis sebagai responnya tanpa berniat ingin membuka suaranya.
"Kamu anaknya om Alex, bukan?" tanya Hafidz sekali lagi.
"Iya, Kak." jawab Reval dengan biasa saja, malahan ekspresi coolnya kembali terpasang di wajahnya itu.
"Kamu juga sekolah di sini?" tanya Hafidz sekali lagi, karena saking keponya untuk saat ini.
"Baru pindah, kak." jawab Reval lagi, tanpa eskpresi.
"Lho, kenapa kamu pindah?" tanya Hafidz sekali lagi.
"Hmmm ... ka-"
Drttt ... drtttt ... drtttt ...
Belum sempat Reval menjawab pertanyaan Hafidz, namun ponsel di dalam saku celananya Hafidz sudah berbunyi terlebih dahulu. Hafidz pun meronggoh ponselnya di dalam saku dan mengisyaratkan Reval untuk menunggu sebentar. Setelah itu, barulah Hafidz mengangkat telepon tersebut.
" ... "
"Ya, wa'alaikumussalam."
" ... "
"Oh baiklah, saya akan segera ke sana."
" ... "
"Iya, Wa'alaikumussalam." Setelah mengakhiri sambungan telpon itu, Hafidz pun menatap adiknya. "Dek, kita pulang sekarang aja, ya?" ajak Hafidz kepada Sang Adik.
__ADS_1
"Abang mau ngantor lagi, ya?" tanya Syafira memastikan.
"Iya dek, nggak pa-pakan?" jawab Hafidz yang hanya diangguki oleh Sang Adik.
"Yaudah, kalau gitu kami duluan, ya. Assalamu'alaikum," pamit Hafidz yang langsung pergi bersama adiknya meninggalkan kelas. Dan jadinya, tinggallah Reval dan Kayla di sini. Namun, selang beberapa detik, Kayla juga berpamitan kepada Reval untuk segera pulang. Dan jadinya, hanya Reval yang tinggal di kelas ini sendirian. Namun, karena merasa tidak ada yang penting lagi di sini, akhirnya Reval juga memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.
...
"Hahahaha ...." Gelak tawa pun tercipta di kediaman Alex. Mereka semua tertawa karena mendengarkan semua keluhan Reval ketika di sekolah tadi.
"Hahaha ... kesihan sekali dirimu, wahai Adik Ipar, hahahaha ...." ejek Reno yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Reval.
"Mangkanya Val, besok-besok ini pakai masker aja lagi." beritahu Riska yang sudah berhenti tertawa.
"Nah, betul kata bunda itu, Dek." setuju Kanya, kakak kandungnya Reval, istri dari Reno.
"Hmmm ... kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, sih." ungkap Reval yang mencoba memikirkan saran dari Sang Bunda dan Sang Kakak.
"Sekalian pakai kacamata, hahahaha ...." Dan mendengar saran dari Reno, seketika itupun tawa di ruang keluarga ini langsung kembali pecah. Reval benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir kakak iparnya ini. Memang sebegitu parahnya, kah? Sehingga, harus ditutupi semuanya.
"Hahahaha ... jangan ngambek-ngambek melulu, Dek. Nggak malu apa, sama umurnya? Hahaha ...." Bukan Reno yang mengejeknya kali ini, namun Sang Kakaklah, yaitu Kanya. Sedangkan, Reval yang mendengar hal itu hanya diam saja sambil meneruskan tujuannya, yaitu kamar.
Setibanya di dalam kamar, Reval tidak langsung tidur, melainkan dia malah menatap plapon kamarnya sambil memeluk bantal guling yang berada di atas badannya. Ntah, apa yang tengah menghinggap di pikirannya saat ini. Satu kata untuk aktivitas Reval kali ini, yaitu bermenung.
"Wait, wait!" seru Reval yang tiba-tiba saja bangun dari posisi tidurnya.
"Jangan-jangan, gadis itu memiliki kemampuan untuk mendengar kata hati orang lain dan termasuk kata hati gue?" monolognya.
"Arghhhh ... bodohnya gue!!" erang Reval sambil menarik rambutnya dengan asal.
Reval benar-benar terlihat frustasi sekarang ini. Terlihat sekali dari pandangan dan ekspresinya yang begitu kusut. Reval pun kembali membaringkan badannya dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, sampai pada akhirnya mata itu tidak bisa lagi untuk menahan kantuknya lebih lama. Ya, pada akhirnya Reval pun terlelap dan menuju dunia mimpinya.
...
__ADS_1
Kini, malam pun telah berganti dengan pagi. Seperti biasanya, Hafidz akan menghampiri kamar Sang Adik untuk memanggil Sang Adik keluar dari kamarnya.
"Ara! Apa kamu udah selesai?" tanya Hafidz di balik pintu kamar Syafira. Dan tidak lama kemudian pintu itupun terbuka, menampilkan Syafira yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Namun, ada yang berbeda dengan Syafira kali ini. Syafira terlihat begitu pucat untuk saat ini.
"Adek, kamu nggak apa-apa?" tanya Hafidz khawatir akan keadaan Sang Adik.
"Hmmm ... iya Bang, Ara nggak apa-apa, kok." ujar Syafira dengan lesunya.
"Tapi Dek, wajah kamu pucat sekali." Sampai kapanpun tidak ada seorang kakak yang tidak akan khawatir kepada adiknya, bukan? Dan itulah yang tengah di alami oleh Hafidz kali ini. Mungkin, seorang kakak pernah membuat adiknya menangis. Namun, ingatlah mereka tetaplah kakak kita, orang yang menjadi pengganti dari kedua orang tua kita, bila mereka telah pergi menemui Yang Maha Kuasa. Dan sampai kapanpun, seorang kakak tidak akan pernah rela, ketika melihat adiknya menangis karena orang lain. Ya, memang begitulah mereka. Bahkan, mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi melindungi adik mereka sendiri.
Jadi, jangan lagi kita menganggap, bahwa kakak kita yang selalu membuat kita menangis tidak pernah menyayangi ataupun menyukai kita. Karena sampai kapanpun kasih sayang seorang kakak tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan apa yang kita miliki.
Oke next ...
"Udah, Abang nggak usah khawatir, Ara baik-baik aja, kok." timpal Syafira meyakinkan Sang Kakak.
"Tidak, Dek. Sebaiknya, hari ini kamu tidak usah masuk, biar Abang izinin." saran Hafidz dan Syafira pun menggeleng mendengar itu.
"Tidak Bang, Syafira baru satu hari masuk sekolah setelah berminggu-minggu libur, Syafira tidak mau ketinggalan pelajaran lagi, Bang. Karena beberapa bulan lagi Syafira akan ujian akhir semester, Bang." tolak Syafira dengan menampilkan ekspresi memohonnya. Ketika Sang Adik sudah seperti ini, maka Hafidz juga merasa tidak tega dengan adiknya ini.
"Tapi Dek ...."
"Abang nggak usah cemasin Ara, Insya Allah, Ara akan baik-baik aja kok, Bang." ujar Syafira yang kembali meyakinkan Sang Kakak.
"Hmm ... yaudah, tapi kalau nanti ada apa-apa, langsung kabari Abang, ya!" nasehat Hafidz yang akhirnya menuruti kemauan Sang Adik.
"Iya Bang, Adek pasti akan ngabarin Abang, kok. Yaudah sekarang kita sarapan dulu, nanti kita telat lagi." kata Syafira yang langsung diangguki oleh Sang Kakak. Dan akhirnya, mereka mulai menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai dua dengan lantai satu. Syafira pun dibantu oleh Hafidz untuk menuruni anak tangga itu. Ya, walaupun sebenarnya Syafira bisa sendiri dengan bantuan tongkatnya, namun Hafidz tidak akan pernah membiarkan adiknya kesusahan selama masih ada dirinya di samping Sang Adik.
Dan di sinilah mereka sekarang, di meja makan yang hanya tersedia dua piring nasi goreng di atas meja makan. Langsung saja Syafira dan Hafidz melahap sarapan yang sudah dibuat oleh Hafidz sendiri tadi, sampai habis tanpa menyisakan sebutir nasi di dalam piring itu.
"Adek udah selesai?" tanya Hafidz, setelah menghabiskan minumnya.
"Sudah, Bang." jawab Syafira yang juga baru selesai menghabiskan minumnya.
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu kita berangkat sekarang aja, yuk!" ajak Hafidz yang langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Sang Adik yang tengah meraba-raba keberadaan tongkatnya. Hafidz pun membantu menyodorkan tongkat Sang Adik kepada Syafira. Lalu, setelah itu, seperti tadi, Hafidz pun kembali menuntun Sang Adik menuju mobilnya.