
...Ada hal yang kadang kala begitu mudah untuk diterima, namun ada kalanya juga kau tidak menyadari betapa Dia menginginkan kau untuk kembali pada-Nya....
.........
"Reval!" teriak Syafira yang seketika itupun langsung merasa khawatir dan panik, apalagi di saat itu dia baru menyadari telapak tangan Reval yang berdarah. Tanpa sadar, air mata Syafira pun keluar begitu saja.
"Tapi boong," seru Hafidz dengan begitu santainya, tanpa mempedulikan Syafira yang kini tengah menatap kakaknya itu dengan bingung. Dan bahkan, musik lagu pale-pale pun dia mainkan di dalam mobilnya itu. Membuat Syafira menjadi semakin bingung akan kakaknya ini.
"Udah, jangan nangis lagi. Lo jelek kalau nangis terus." ujar Reval yang tiba-tiba saja membuka suaranya, sambil memberikan usapan lembut pada pipinya Syafira yang basah terkena air mata.
Mendengar suara Reval dan mendapatkan perlakuan itu, seketika itu juga Syafira langsung menatap Reval dengan tidak percaya. Namun, ntah mengapa saat ini Syafira merasa lega di saat Reval memperlakukannya seperti ini.
"Reval," lirih Syafira, sambil terus menatap sosok Reval yang tengah lemas itu.
"Iya?" jawab Reval dengan sangat lembutnya.
"Maaf," ujar Syafira yang seketika itupun langsung menjauhkan tangan Reval dari wajahnya dan kembali memberikan jarak di antara mereka berdua.
"Dek," panggil Hafidz yang masih fokus menyetir. Syafira yang merasa terpanggil itupun langsung menatap kakaknya melalui kaca spion depan mobil.
"Adek jangan marah ya," ujar Hafidz dengan begitu lembutnya. Jujur, Syafira benar-benar merasa bingung sekali saat ini. Karena, bukankah tadi Hafidz terlihat begitu marah padanya? Lalu, mengapa sekarang Hafidz malah berbicara lembut padanya.
Syafira tidak menjawab, dia hanya menatap keluar jendela, sambil menahan tangisan yang ntah kenapa sangat ingin sekali untuk keluar.
"Hei, jangan nangis, Dek!" ujar Hafidz di saat dia melihat adiknya mulai berkaca-kaca sekarang.
"Maaf Bang, Ara tahu, Ara sudah menyentuh yang bukan mahram Ara. Tapi, tadi Ara ketakutan, Bang. Mangkanya, tanpa sengaja Ara udah meluk Reval. Hikss ...." Runtuh sudah pertahanan Syafira untuk tidak menangis saat ini.
Dengan memaksakan dirinya, Reval pun berusaha untuk bangkit dari sandarannya itu. Lalu, berusaha untuk merangkul tubuh mungil wanitanya itu.
__ADS_1
"Sini, peluk gue dulu!" ujar Reval begitu lembutnya, sambil menepis jarak duduk di antara mereka berdua. Syafira tidak membalas perlakuan Reval tersebut dan juga tidak menolak perlakuan Reval tersebut, namun yang dia lakukan adalah diam dan menatap nanar ke bawah kursi kemudi Hafidz.
"Abang nggak marah Ra, dan bahkan jika kamu melakukan hal yang lebih dengan Reval, Abang juga nggak akan marah."
"Maksud, Abang?" terkejut Syafira yang seketika itupun langsung bangkit dari dalam dekapannya Reval.
"Kalian sudah halal, Ra. Dan Abang nggak ada hak buat ngelarang kamu lagi. Karena kamu udah jadi tanggung jawabnya suami kamu, Reval." jelas Hafidz yang seketika itupun langsung membuat Syafira menatap Reval dengan tidak percaya. Dan tidak hanya itu, bahkan air matanya menjadi semakin deras untuk keluar saat ini juga.
"Hikss ... hikss ... hikss ... Aku rindu, Val." ujar Syafira spontan. Terkejut? Tentu, tentu saja Reval dan Hafidz pun langsung terkejut melihat tingkahnya Syafira ini. Namun, di balik keterkejutan itu, mereka berdua pun langsung tersenyum bahagia, apalagi Reval. Dengan senyuman yang masih merekah dan keterharuan, Reval pun kembali merangkul Syafira dan membawa Syafira ke dalam dekapannya.
"Gue juga, Sya. Udah sekarangkan udah sah, jangan ngambek dan nangis lagi, ya. Cukup kaya gini aja dulu, karena gue ingin ilangin phobia gue dekat lo." ujar Reval yang tak lupa dengan memberikan kecupan hangat pada keningnya Syafira. Sedangkan, Syafira yang diperlakukan seperti itupun hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil melepaskan kerinduannya selama ini dengan memeluk Reval dari samping.
"Hargai yang single fisabilillah!" ujar Hafidz dengan begitu datarnya.
"Itu masalah Abang, bukan Ara." timpal Syafira begitu dinginnya.
"Mangkanya, Abang cepat nyusul dong, Bang." ujar Reval yang juga ikut-ikutan mengejek Hafidz.
"Reval! Yaa Allah ... Abang, ihh ... Abang bicaranya!" kesal Syafira, yang terus berusaha untuk mencoba membangunkan Reval. Namun, kali ini Reval sedang tidak bercanda, karena dia memang benar-benar pingsan. Hafidz yang melihat itupun akhirnya tidak menduga, jika Reval benar-benar akan pingsan hanya dengan suruhannya itu. Masya Allah ....
...
"Apa? Astaghfirullah ... kenapa bisa, Ra?" tanya Riska yang tengah menelepon itu. Alex yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itupun seketika langsung terkejut.
"Ada apa, Ka?" tanya Alex begitu lembutnya sambil menghampiri Sang Istri yang sepertinya sedang khawatir.
"Re-reval, Mas." lirih Riska dan menjauhkan teleponnya dari telinganya itu.
"Ha? Reval kenapa, Ka?" tanya Alex.
__ADS_1
"Reval masuk rumah sakit, Mas." ujar Riska dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Innalillah, tapi kenapa bisa, Ka?" tanya Alex lagi.
"Bun, Bunda!" panggil Syafira di seberang panggilan itu. Dan Riska yang mendengar panggilan itupun langsung mengurungkan niatnya untuk menjelaskan semuanya kepada Sang Suami.
"I-iya, Nak?" tanya Riska dengan begitu khawatirnya.
"Bunda baik-baik ajakan?" tanya Syafira memastikan.
"I-iya, Nak." lirih Riska sambil menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh Syafira nantinya.
"Oh ... yaudah Bun, kalau gitu Syafira tutup dulu teleponnya, ya. Syafira mau lihat Reval dulu, Assalamu'alaikum ...." pamitnya Syafira.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." lirihnya, yang setelah itupun kembali menangis dengan pilunya. Sang Suami yang mengerti dengan perasaan istrinya inipun langsung merangkul Sang Istri ke dalam dekapannya dan mencoba untuk menenangkan Riska.
"Mas ... sampai kapan Reval akan terus mengalami phobia darah? Kasihan dia, Mas ... hikss ... hikss ...." ujar Riska di sela-sela tangisannya.
"Udah, kamu harus yakin dan percaya aja sama Allah, kalau Reval pasti akan baik-baik aja." timpal Alex menenangkan Riska.
...
"Sya," panggil Reval, ketika Syafira baru saja masuk ke dalam ruangan rawatnya Reval. Syafira pun tersenyum dan mulai melangkah untuk mendekati Sang Suami dan Sang Kakak yang tengah berdiri di samping brankarnya Reval.
"Yaudah, sekarang udah ada kamu 'kan, Dek. Kalau gitu Abang tinggal dulu, ya. Abang mau pulang sebentar, sekalian mau bawain makanan dan pakaian buat kamu." jelas Hafidz.
"Oh ... yaudah Bang, nggak pa-pa, kok." ujarnya Syafira mengizinkan.
"Yaudah, Abang pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum ...." pamitnya Hafidz yang setelah itupun langsung meninggalkan kedua insan itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." ujar mereka menjawab salamnya Hafidz.