
Selamat membaca..
Oricima baru sama selesai dengan sesi fotonya yang berupaya semirip mumgkin dengan Nejira.
Oricima melepas dari yang mengalungi lehernya dengan paksaan. "Tuan itunya di tarik baru bisa lepas." Ucap seorang anak buah Nejira pada Oricima.
"Iya iya.. Ini kok.. Aahh makanya aku gak pernah mau jadi CEO perusahaan. Susah banget.." Dumelnya.
"Hedeh.. Saudara tuan Nejira sangat lucu.." Isi hatinya.
"Baiklah.. Aku akan ke kantor utama. Ada pertemuan di sana, abis itu aku langsung isolasi di rumah." Ucapnya mengingat ingat jadwalnya hari ini.
"Siap tuan. Terima kasih untuk kerja samanya." Semua anak buah itu memberi hormat pada Oricima.
"Sama sama"
***
"Investasi ini sangat bagus Tuan Nejira. Banyak penduduk di kota KL yang menyukai tawaran dan penawaran Tuan. Saya sangat bangga bisa bekerja sama dengan tuan" Puji duta dari negara JP ini.
"Tidak usah terlalu memuji Tuan Hirosi. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya." Oricima dengan actingnya menjadi Nejira.
"Tuan sangat dermawan" Pujinya lagi.
"Cepat!!! Mana dokumen yang harus aku tanda tangani..!!" Rengek hati Oricima.
__ADS_1
Setelah berbincang bincang lama barulah Oricima mendapat dokumen yang harus ia tanda tangani.
"Heh..!! Kenapa mereka harus memuji panjang lebar begitu.. Kayak gak ada omongan lain aja." Dumelnya pada sekretaris Nejira.
"Maaf tuan. Biasanya Tuan Nejira sangat suka di puji puji, oleh karena itu kadang jika kliennya tidak memuji mujinya maka bisa jadi kesepakatan batal. Oleh karena itu kalau ada perpanjangan kontrak atau mengajuan kerja sama, maka mereka harus pandai pandai mengambil hati Tuan Nejira." Jelas Claudya
"Haaaahh adik macam apa dia.. Sukanya di puji puji aja.. Padahal sama cinta aja jadi bodoh.. Liat sekarang, dia hilang ini pasti karena cintanya.. Aku sudah bilang Karin Azura bukanlah wanita yang baik.. Tapi dia masih aja gak percaya.." Mungkin sudah kesukaan Oricima belakangan ini terus mengomel ngomel tentang adiknya.
Maklum tertekan dengan pekerjaan yang bukan pekerjaannya. Malang sekali nasibmu Oricima.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang di tempat Ruto dan Sara. Mereka masih di sibukkan dengan kotoran kotoran ayam yang di mana mana.
Sara dan Ruto mengumpulkannya untuk di jadikan pupuk kandang. Bukan untuk di jual banyak, tapi untuk pupuk sayur sayuran Sara sendiri.
"Sayur kangkung?" Sara mengingat ingat sayur yang ia masak.
"Iya.. Sayur yang pas aku baru sadar itu. Ya ampun enak banget." Ucap Ruto sambil membayangkan kenikmatan masakkan Sara.
"Oke.. Nanti aku buatkan" Sara terkekeh.
"Tapi Bos, aku gak liat bos beli sayur atau di sekitar sini ada sayur mayur" Ruto berkacak pinggangnya.
"Ada donk.. Kamu aja yang gak tahu.. Hehehe.. Aku punya kebun kecil. Di kebun aku itu ada bayam, kangkung, cabe, daun katup, kunyit, jahe, sereh ya pokoknya sayuran yang kecil kecil bisa di taman di lahan kecillah.." Jelas Sara.
__ADS_1
"Mau ikut donk.. Mau liat.." Ruto bersemangat.
***
"Taraaaaa..." Sara merentangkan tangannya memperlihatkan kebun kecilnya.
"Huaaaaa..." Ruto kagum.
Sayur sayur hijau dan segar segar, belum lagi kupu kupu yang menghinggapinya. Sangat cantik.
Sara menggunakan papan papan bekas untuk menjadi pot atau wadah besar tanah dan pupuknya. Kotak tanah yang berukuran 2x2 atau 3x3 menjadi wadah tanamnya. Kotak kotak papan itu tidak hanya satu melainkan banyak kotak.
Satu kotak untuk satu tanaman. Mengapa Sara membuat kebunnya seperti ini, karena ayam ayam yang ada di peternakan ini leluasa berjalan jalan. Kadang mengganggu tanaman tanaman Sara.
Dengan teknik ini Sara mudah memindahkannya kemanapun ia inginkan.
"Huaaahhh segar segar... Kamu hebat bos..!!" Puji Ruto berlebihan.
"Haaaahh apa hebatnya kalau sering di makan ayam.. Kadang cabeku ini di patukki ayam, kadang bayamku di makannya.. Aaahhh miris deh.. Tapi kalau gak berusaha gini.. Mana bisa dapat sayur murah meriah.. Ini tamanan sendiri jadi gak usah beli jauh jauh.. Tinggal petik" Sara memilih milih kangkungnya yang siap panen.
"Aku bantu aku bantu bos" Ruto juga membantu Sara memutik kangkung.
Sangat sederhana tapi itulah Sara. Hanya seperti ini Sara sudah sangat senang dan bangga. Ia berhasil menghidupi dirinya sendiri adalah kemajuan pesat. Dulu ia bergantung pada tatangga yang siap membantunya, menjadi pekerja serabutan, seperti memcuci baju tetangga, menyapu halaman dan pekerjaan yang hanya akan di bayar 5 Ribu Rupiah untuk membeli bahan makanan untuk dirinya dan Ibunya kala itu.
###
__ADS_1
Cha..!!
Mari mana nih, para pembaca? Lanjut yuuukkk