
"Yo gak tahu kok tanya Saya, hanya Tuan Nejira yang tahu, saya gak tahu apa apa tuan" Cicit Lee.
"Ck ... Pasti banyak jejak jejaknya di sini kan?" Oricima meneliti selimut dan seprai yang membungkus tempat tidur itu.
"Atau jangan jangan kasurnya ini. Bongkar yuukk!" ajak Oricima seperti tak ada pekerjaan lain.
"Huufff, maaf Tuan, Tuan sedang sakit. Tuan istirahat aja, saya cari makanan untuk tuan? Mau ... Mungkin Tuan kepengen makan sesuatu?" tawar Lee.
"Heemm boleh deh ... Beli'kan aku es krim catu toples, sama krikpik kentang, singkong!" Titah Oricima.
"Tuan, anda dokter tapi suka mengonsumsi semua makanan itu saat sakit?" Cicit Lee.
"Aku sekarang 'kan jadi CEO, jadi gak ada masalah sama dokter" Kekeh Oricima sambil berbaring ria di tempat tidur.
"Eehh eeehh! Gelilah" Oricima bangkit dari tempat tidur dan menuju sofa saja.
Kembali di liriknya sofa dengan bantalnya itu."Mungkin dia juga melakukannya di sini" Gumam Oricima yang membuat speechless Lee.
***
Pukul 16.05, Ruto membuka matanya, sejak Sara datang dan menawarkan diri untuk menemani tidurnya, Ruto tertidur dengan sangat lelap. Saat terbangun tidak ada Sara di sampingnya. Tapi suara ayam ayam di luar sana yang riuh ricuh membuat Ruto yakin, Sara sedang memberi makan ayam ayam itu.
Ruto membuka pintu rumah dan di lihatnya Sara sedang memanggil manggil ayam ayam itu untuk masuk kandang. Meski dengan pakaian lusuhnya, Sara tetap terlihat cantik berseri. Kulitnya yang cerah sama sekali terpengeruh dengan baju lusuhnya.
"Udah bangun? Udah mendingan?" Teriak Sara.
"Udah" Sahut Ruto.
__ADS_1
Seulas senyum terbit di bibir Ruto. Mengingat betapa manisnya Sara memberikannya obat tadi.
Betapa perhatiannya Sara saat dirinya sakit, dan yang paling Ruto suka, saat Sara terjatuh di atas tubuhnya dan menindihnya.
Kedekatan intim itu sangat di sukai Ruto. Tubuh mungil Sara sangat nikmat di peluk. Ingin rasanya Ruto memeluk lagi tubuh itu.
Tubuh dan bibir itu menjadi candu untuk Ruto.
"Aku akan bahagiakan kamu nanti Sara. Tunggu yaaa ... Kita akan bersama sama selamanya, aku akan jadikan kamu ratuku" Gumam Ruto sambil terus memperhatikan Sara.
"Aaahhhh selesai" Sara terduduk di tangga.
Ruto turun untuk mendekati Sara. "Mau sesuatu?" Tanya Ruto.
"Gak ada ..." Sahut Sara.
"Gak haus?" Tambah Ruto.
"Nanti aku bantu masak gimana?" Tawar Ruto sambil merangkul Sara.
"Emang kamu bisa? Iissshh jangan pengang pegang. Aku masih kotor" Cicit Sara.
"Pedulikah aku? Biasanya juga aku sekotor ini" Balas Ruto.
"Hehehe iya iya ... Ruto, kamu bisa masak nasi 'kan?" Tanya Sara antusias.
"Bisa"
__ADS_1
"Nah, aku mau mandi dulu, kamu duluan masak nasi sama potong potong sayur. Gimana?"
"Boleh deh" Ruto setuju.
***
"Ingat ya hati hati, aku pergi mandi dulu ... Bentar aja kok" Sara dengan handuk di bahunya berusaha mengingatkan Ruto lagi.
"Siap bosku yang cantik" Roto memberi hormat 45.
"Aku harus mudahkan pekerjaan Sara" Ruto bersungguh sungguh.
Ruto mulai mengambil sayur kangkung yang akarnya di rendam dalam air. Di pilihnya yang segar segar. Lanjut Ruto membuka lemari es. Di sana Ruto mengambil beberapa bungkus tempe dan tahu, Ruto meneliti siapa tahu ada lauk lainnya di dalam sana, tapi Ruto tak melihatnya.
"Apa besok minta potong ayam aja ya?" Cicit Ruto.
Lanjut, Ruto memotong motong tempe dan tahu itu sama seperti potonga Sara biasanya yang di lihat Ruto.
Sudah menurutnya benar, Ruto memberi garam terlebih dahulu tempe dan tahunya.
Tak lupa Ruto juga mengupas bawang dan mengirisnya pelan.
Sudah siap semua, nasi Ruto pun tinggal tunggu mengering.
Sara keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Waaahhh rajin sekali lelaki tampan ini" Goda Sara.
__ADS_1
"Ssttt! Berusaha yang terbaik ini" sambar Ruto.
"Hahahah bentar ya ... Masuk baju dulu" Pamit Sara.