Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 34. Bayangan


__ADS_3

Seperti yang di katakan Sara, ia membawa Ruto ke salah satu minumarket terdekat dari perternakan yang di tinggali mereka.


Terbilang dekat meski harus di tempuh dalam waktu 30 menit lamanya. Ruto turun dari motor yang di kendarai Sara.


Menatap luas minimerket ini.


"Sara mau beli apa? Nanti Ruto bantu beliin" Tawar Ruto.


"Aaahh kamu beli juga donk keperluan kamu kayak celana, baju, kaos, sandal sepatu, dan mungkin makanan kesukaan kamu" Keduanya memasukki mini market.


Sara tak lupa mengambil troli belanjaan yang tersedia di sana. Berkeliling keliling satu minimarket ini.


Sampailah di bagian pakaian, Sara memilihkan beberapa baju untuk Ruto. Memintanya mencobanya apakah cocok atau mungkin Ruto pas di tubuh Ruto.


Satu demi satu baju itu di cobainya, dapatlah Ruto 3 baju yang menurutnya cocok di tubuhnya dan dia menyukai warnanya.


Sara sangat jeli, ia melihat switer yang sepertinya akan cocok di kenakannya. Switer berwarna kuning bepadu biru mudah sangat cantik di matanya.


Sara begitu tertarik dengan switer itu. Dia meminta penilaian Ruto, Ruto juga mengangguk setuju kalau itu sangat cocok di Sara.


Sara mengambilnya juga.


"Eeemm aku juga mau kain yang begini, tapi mau yang kayak punya kamu saya kayak pasangan gitu" Goda Ruto sambil mencari switer yang cocok untuknya.


"Eeemm boleh juga" Setuju Sara.


Ruto tersenyum sumringah melihat Sara membantunya mencarikan switer yang di ingikkannya.


"Rotu, yang ini mirip kayak punyaku, belang belang juga tapi 3 warna" Panggil Sara


"Heeeemm coba liat" Ruto menyamakannya dengan switer yang di beli Sara.


"Lhaaaaa kok di masain si To!?"

__ADS_1


"Biar sama" cicit Ruto.


"Heeemmmm iyalah itu. Nanti kita di bilang pasangan lhoooo" goda Sara.


"Gak apa apa, aku setuju aja. Aku suka"


"Suka apa?" Sara salting.


"Suka switer ini. Oke aku ambil yang ini, tapi aku cobain dulu" Pamit Ruto.


"Huhh dasar laki laki" Dumel Sara yang sempat salah tingkah dengan ucapan suka Ruto.


Ruto mengenakan switer itu, ingin ia bercermin lagi di salah satu cermin besar yang ada di sana tapi sayangnya di sana ada seorang pembeli juga yang sejak bercermin, mau tak mau Ruto melihat di cermin lain.


Sara mengikuti Ruto dari belakang dan nengamati Ruto yang sedang bercermin.


Di cermin yang di hadapan Ruto ada tulisan yang aneh di matanya.


Ruto yang sedang asik mencobai switernya pun mengikuti arah Sara yang sedang membaca tulisan di secarik kertas itu.


Ruto membaca beberapa tulisan itu dalam hatinya, entah orang iseng mana yang menempelkannya di sana.


"Ada ada aja" Ketus Sara setelah membaca tulisan itu juga.


"Ini cuma kasih kotor aja, ini bukan milik minimarket ini!" Serunya lagi.


Ruto hanya terdiam mencerna arti kata kata itu.


Tiba tiba saja kepalanya terasa sakit di sebelah belakang, rasanya sangat sakit sampai sampai Ruto memegangi bahu Sara.


"Eeehhh Ruto kamu kenapa?" Sara panik melihat Ruto yang nampak sedang kesakitan.


"Eeemmmmmmm" Ruto memegangi kepalanya lagi.

__ADS_1


"Ruto?" Suara Sara seakan semakin menghilang dan semakin kecil di pendengaran Ruto.


"Astaga apa yang salah? Apa karena tulisan ini?" Sara membawa Ruto untuk duduk di lantai terlebih dahulu.


Di bayang bayang Ruto ia melihat kedua anak kecil menangis bersamaan dengan kondisi tangan yang tak lurus.


Nafas Ruto semakin memburu kala melihat ada dua orng dewasa mendekati kedua anak kecil itu dan menenangkannya.


Melihat kedua anak kecil itu tenang di dalam pelukkan kedua orang dewasa tadi, Ruto juga merasa tenang melihatnya.


Seketika ingatan itu hilang dan Ruto tak merasakan sakit lagi di bagian kepalanya. Ruto meneleh ke kirin kanan, hanya ada Sara yang memeluknya.


Kini Ruto di dalam pelukkan Sara. "Sara?" Panggil Ruto.


"Iya? Apa kepala kamu sakit lagi ya? Apa kamu ingat sesuatu?" Tanya Sara.


"Aku dapat bayangan, anak kecil tangannya lagi sakit Sara, tapi aku gak tahu itu siapa? Apa itu aku? Tapi siapa yang satunya lagi?" Ruto bertanya balik pada Sara.


"Lha?" Sara tak mengerti juga dan bingung mau menjawab apa.


***


" Aaahh aaaahh ... Tanganku aaaaaaa!" Teriak Oricima dari tidurnya.


"Haaaa haaahhhh haaaahhhh" Nafasnya menggebu gebu. Keringat menjalar di pelipisnya.


"Hanya ... Hanya mim ... Pi" Ucapnya sambil mengelap keringat di wajahnya.


"Apa karena aku terlalu kepikiran Nejira, di mana di sakarang? Masa aku kangen dia? 'kan gak mungkin" Elak Oricima pura pura tak peduli.


Tapi tiba tiba ia terdiam. Lalu Oricima ...


Off dulu ...

__ADS_1


Dah banyak tuh ...


__ADS_2