Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 32. Panggilan unik


__ADS_3

"Ka ... kau?" Pria bertopeng itu tiba tiba menjadi gagap.


"Hei, kenapa kalian diam aja, serang dia!" Kesalnya.


"Eehh baik tuan"


Semua anak buahnya maju membawa bogeman masing masing. Sedangkan Oricima malah mengucek matanya.


Satu tonjokkan berhasil di layangkan tanpa ada halangan. Tapi Oricima pintar sekali mengelak dengan hanya bergeser tempat. Yang lainnya juga ikut ikuta melempar tinjuan sembarang arah.


Lagi lagi Oricima hanya memiringkan kepalanya dan menggerakkan pingganya ke kiri dan kanan untuk menghindar.


Tak ada satu pun pukulan yang mengenai tubuh yang sedang terbalut piaya itu.


"Kalian senang banget ajak aku begadang gitu! Sudah aku bilang malam ini aku mau tidur. Besok aku mau shoping shoping." Gumam Oricima sambil berusaha membuka matanya.


Kini gantian Oricima yang menyerang membabi buta orang orang di hadapannya.


Bos dari pencuri itu secepat kilat melarikan diri. Sedangkan yang lainnya terjebak bersama Oricima.


"Kalian, piliha mana? Mau aku lanjut atau berhenti aja" Tawar Oricima.


Bantal gulingnya sudah tidah tahu di mana letaknya, terlempar Oricima saat memberi sedikit gerakkan tinju meninjunya.


Meski dengan mengantuknya Oricima bisa mengendalikan tubuhnya untuk memberi sedikit pelajar pada beberapa pencuri ini.


"Aaahh aku lelah" Keluh Oricima. Ia berjongkok di tengah ruangan itu dan para pencuri juga tidak mampu melakukan apa apa.


Pukulan yang di lancarkan Oricima berhasil membuat orang orang ini mengaduh kesakitan dan tak mampu melawan lagi.


"Aahh aku juga punya anak buah. Mau ketemu gak?" Seringai jahat Oricima.


Paaakkkk paaakkkkk paaakkkkkk..


Tiga kali Oricima menepuk lantai rumahnya. Tangannya terbuka lebar agar suara tepukkan tangannya di lantai keras terdengar.

__ADS_1


Tiba tiba terdengar suara besi riuh rendah. Semua pencuri itu menatap segala arah. Rasa takut tiba tiba menyeruak.


"Apa dia manggil hantu?" Celetuk seorang pencuri.


"Apa itu? Tuan saya mohon bebaskan kami kami gak bawa duitnya, kami mohon ampun tuan ..." Pintanya.


Tapi sepertinya sudah terlambat. Suara besi besi bergetar bergetar hebat. Hingga tak terdengar lagi bunyi besi bergetarnya.


Semuanya terdiam. Mata Oricima menemukan gerakkan gerakkan kecil dari arah tangga, dari arah dapur, dan dari awal teras.


"Kalian minta di bebaskan? Kalian sudah ganggu tidurku dan kalian bilang mau bebas. Kira semudah itu hah? Tidur itu segalanya untuk aku malam ini. Tapi apa? Malah kalian ganggu hah?" Bentaknya.


"Tidak Tuan kami, kami janji kami akan layani Tuan, kami akan pijit pijit Tuan, saya lumayan pintar mijit Tuan, saya mohon!" Pintanya lagi.


"Aa ... apa itu waaaaahhh!" Salah seorsng rekan pencuri itu menjerit.


Semuanya mengarah ke arah yang di lirik rekannya itu. Mereka melihat sesuatu yang menjelerkan lidahnya, tubuhnya menggeliat, mengangkat tinggi lehernya hingga terlihat kulit dadanya.


"Wah Tuan ampun Tuan ampuuuuuunnn!" Teriak yang lainnya.


Tiga sekawan itu mendatangi Tuannya yang memanggil dengan panggilan darurat yang mereka kenali hanya dari Tuan mereka.


Lidah menjeler dan tatapan berwarna merah dari pencahayaan malam ini membuat pemandangan yang begitu menakutkan.


Mereka adala Manda, Aoda, dan juga Garaga. Hewan peliharaan Oricima yang sangat patuh padanya.


Oricima melakukan panggilan darurat pada ketiga ularnya dengan menepuk lantai. Bila biasanya Oricima hanya menepuk kedua telapak tangannya di luar sana, tapi karena ini di ruangan tertutup maka cara memanggil ketiganya dengan menepuk lantai agar terjadi sedikit getaran bercampur ultrasonik yang di ciptakan lantai dan tangan. Suara itu mudah di kenali Manda dan kawan kawannya.


Suara getaran riuh rendah besi itu tadi adalah suara kandang ketiganya. Manda berada di kamar Oricima, Aoda berada di teras dan sedangkan Garaga berada di dapur. Tiga tempat masing masing favorit ketiganya saat malam.


Ketiganya menerobos kandang dan menuju tempat panggilan dari Oricima.


Semua yang melihatnya ngacir tak karuan.


Wajah yang awalnya memerah akibat pukulan Oricima kini mendadak pucat pasi.

__ADS_1


Manda dan kedua kawannya mendekati pencuri pencuri itu.


Lidahnya terus menjeler merasakan bau yang berbeda dari orang orang ini.


"Tuan tolong ampuni kami, kami hanya melaksakan tugas, kami hanya menemani pria itu tadi dia membayar kami untuk menemaninya. Kami mohon maafkan kami!" Pinta seorang yang sudah tak bisa bergerak dan sudah paling dekat dengan Garaga.


"Ampun" Teriak seorang lagi lebih histeris dan malah mengompol di lantai.


"Huaaahh basah. Bahas celanaku, kalian gak akan suka rasanya, bau nih!" Rengeknya.


"Cih ..." Oricima menggelengkan kepalanya dan memutik bantal gulingnya lagi dan memeluknya.


Menjerembabkan tubuhnya di sofa dan menatap kesal pencuri pencuri itu.


"Aku gak kesal kalian mau curi duit. Aku kesal tidur aku terganggu, sekarang aku susah tidur lagi kalau udah bangun gini!" Imbuhnya.


"Kami akan melakukan apa pun tuan! Tolong maafkan kami, kami hanyalah orang orang payan yang rela di bayar 200 ribu untuk melakukan ini" Seorang membuka suara lagi.


"Kiyaaaaa" Manda menaiki satu tubuh seseorang. Maka menjeritlah dia.


"Haaahhhh 200 ribu buat apa coba?" Ledek Oricima.


"Buat beli sayur emak!" Teriak yang lain.


"Jadi kalian benar benar payah ya?" Ucapnya lagi.


"Iya Tuan" Sahut semuanya bersamaan.


"Tahu, dari gerakkan pukulan sembarangan kalian tadi udah keliatan!" Soroh Oricima.


Oricima ...


###


Off dulu hari ini lembur jadi segini dulu ya..

__ADS_1


__ADS_2