Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 45. Demam


__ADS_3

Ruto tak membuka matanya tapi terus bergumam "Ssss"


"Ruto buka matamu, kita makan obat dulu ... Kamu demam. Ayoo" Pinta Sara lagi lebih tegas.


"Sara!" panggil Ruto.


"Aku di sini" Sara menggenggam tangan Ruto.


"Cium aku lagi" Cicitnya.


"Eehhh kok malah minta cium lagi!" Jengkel Sara


"Aku mau di cium lagi ... Aku mau" Ruto lemah sekali membuka matanya.


"Aku mau cium lagi, di mana pun kamu minta tapi minum obat ini dulu ... Ayooo" Pinta Sara.


"Obat?" Ruto membuka matanya.


"Iya ... Minum obat yaaa" ajak Sara.


"Heeemmm Ruto malah mengatup matanya lagi seperti terlelap.


"Eehh kok malah tidur lagi aaahh?" Sara tak habis pikir pada Ruto.


"Heeemmm?" Sara berpikir sejenak. Di tatapnya obat penurun panas yang ada di tangannya.


Di bukanya dan di keluarkan satu tablet. Di masukkannya kedalam mulutnya dan di hancurkan. Terdengar suara kunyahan Sara. Sara terpejam menahan rasa tak nyaman dari obat itu.


"Ruto! Ini aku cium ya" Ucap Sara susah payah dengan obat di dalam mulutnya.


Sara mendekatkan bibirnya dan bibir Ruto. Perlahan tapi pasti Sara membuka bibir yang mengkatup itu dengan bibirnya.


Ruto membukat matanya dan mendapati pemandangan yang sangat ia inginkan.

__ADS_1


Sara ******* bibir Ruto sambil tak lupa memasukkan obat penurun panas yang sudah di hancurkannya tadi.


"Eeemmm" Sara menikmati prosesnya.


Rasa obat yang semakin tak terasa tapi malah di ganti dengan rasa manis.


Ruto tak ingin kehilangan moment seperti ini. Sara mengajaknya bertukar saliva.


Uuhh nikmatnya, Ruto menarik tubuh mungil Sara mendekatinya bahkan Sara berbaring di atas dada Ruto.


Sangat intim kedekatan keduanya saat ini. Ruto bisa merasakan bentuk tubuh Sara di atasnya.


"Eeemmhhh?" Sara meleguh dari pengutan Ruto.


Begitu ganas dan panas pengutan itu. Sara tak memikirkan malu lagi. Ia malah semakin memperdalam ciumannya.


"Aaahh!" Sara tiba tiba menarik bibirnya dari bibir Ruto.


"To, kamu sakit. Gak semestinya aku tindih" Cicitnya tersadar apa yang ia lakukan salah.


"Kamu demam. Aku temani aja ya di sini" Sara mengambil bantal lainnya untuk berbaring di samping Ruto.


"Aku mau di peluk ya" Sambar Ruto melihat Sara berbaring di sampingnya.


"Iya, peluk aja" Sara pasrah.


Keduanya tidur bersama, tangan Sara dengan lembut menepuk nepuk punggung Ruto. Ruto merasa nyaman dan langsung terlelap dalam mimpi.


Sara menyentuhkan keningnya dan kening Ruto. Panas tubuh Ruto masih sama, Sara menghela napasnya.


"Ayolah panas, turunlah" Sara juga mengkhawatirkan Ruto jika seperti ini terus menerus.


****

__ADS_1


"Aaaahhhhh!" Oricima menghela napasnya lelah.


"Kenapa Tuan?" Asisten Lee bertanya curiga.


"Aku lelah ... Aku sakit lengan" Oricima merengek.


"Hah? Kok bisa Tuan?" Lee berdiri dan memeriksa keadaan tuannya.


"Eeehh Tuan, anda demam, lhooo kok bisa?" Lee panik dan segera menghubungi medis yang ada di sana.


"Tuan sejak kapan demam, udah biarin aja dokumennya, besok di lanjut" Panik Lee.


"Kok bisa Tuan demam tiba tiba, tadi pagi baik baik aja Tuan"


Oricima pun dibawa ke dalam kamar privasi yang ada di ruangan itu. Saat menyentuh tempat tidur, Oricima terpegit.


"Eeh eeh eeehhh! Apa nih apa nih? Ini tempat tidur siapa?" cicitnya.


"Ini tempat tidur tuan. Tuan Nejira" Jawab seorang staf yang berkerja di sana dan di minta menemani Oricima.


"Oh ya" Oricima baru teringat kalau ia sedang berperan sebagai Nejira.


"Terima kasih ya ... Biarkan aku jaga dia ... Dia mungkin kelelahan dari perjalanan" alasan Asisten Lee.


"Baiklah" staf itu berlalu dari dalam kamar itu.


"Kenapa ini ada kamar di sini?" Oricima masih tak nyaman dengan kasur itu.


"Iya tuan, kalau Tuan Nejira ke sini, biasanya dia langsung istirahat di sini, gak pulang ke hotel. Dan di sini dia biasanya di temani ..." ucapan Lee belum selesai tapi langsung di potong Oricima.


"Nah ini ... Ini ... Ini ...!! Di temani siapa? Hah? ******?" Oricima segera bangkit dari kasur itu.


"Eeeeee"Lee mematung.

__ADS_1


###


Off dulu guysss lope lope buat para readers ..


__ADS_2