Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 18. Ayam bujang??


__ADS_3

"Batu belah batu bertangkup, makanlah aku, telan aku! Aku mau kutuk ayam! Hahahahaaa" Ledek Sara lagi.


"Uuhhh Bos liat tanganku luka!" Adu Ruto manja pada Sara.


"Sini liat!" Setelah puas tertawa Sara masih memiliki rasa iba pada teman barunya itu.


"Iya ini luka. Mereka itu ayam jantan, wajar aja patuk patuk. Bisa di bilang galak." Sara mengambil air bersih dan membasuh tangannya dan setelahnya membantu Ruto membersihkan lukanya dengan air mengalir.


"Makanya, tadi pagi aku udah ingatkan 'kan! Kalau ada ayam yang galak kalau di kasih makan, padahal kalau kita gak kasih makan ya lapar tuh mereka. Nih dah di pakein plaster aja" Sara selesai mengobati tangan yang di patuk patuk ayam itu hanya dengan menyempelkan plaster.


"Makasih Bos .. Issshh ayam ayam jahat!" Rungut Ruto.


"Dah .. Bantuin aku masukkan ini ke dalam sana. Ayam ayam itu pasti haus abis makan" ajak Sara menyudahi kekesalan Ruto pada ayam yang telah mematuknya.


"Awas aja kalian, aku gak kasih makan nanti baru tahu! Huuhhhmm" Ruto menatap sombong ayam yang sama sekali tak mengerti bahasanya.


Ruto dan Sara lanjut dengan pekerjaan selanjutnya, di masukkannya beberapa tempat air minum ayam ayam itu dengan rapi dan tentu langsung di serbu ayam ayam.


"Huaaahh aku gak masuk ke sini tadi ya? Di sini banyak banget ayamnya. Udah bujang semua" monolog Ruto terdengar Sara.


"Ada ayam bujang?" Sara berpikir keras.


"Iya .. Bukan anak anak lagi ayamnya ya idah bujang." Sahut Ruto lagi.

__ADS_1


"Haaahh Ruto Ruto .. Aku gak akan paham maksud kamu dah!" Sara menggelengkan kepalanya.


"Ini .. Ini 'kan siap panen!" Seru Ruto lagi.


"Iya mereka akan di panen besok subuh. Nanti mungkin sekitar jam 4 subuh besok akan ada yang jemput ayam ayam ini dan di kirim ke beberapa tempat pemotongan ayam dan di jual dagingnya" Jelas Sara.


"Ooohhh gitu!" Ruto mengangguk paham.


"Ayo To .. Keluar .. Tahan kamu cium bau bama ayam ayam ini .. Aku sih gak, kalau di suruh pilih bau tai ayam atau bau bama, aku bakal milih bau tai ayam. Bau bama bikin aku pusing" Ujar Sara menutup pintu kandang besar itu.


"Heemm aku mungkin belum terlalu merasa mana yang mendingan, tapi yang pasti bau eeg tikus itu yang bau." Ucap Ruto mengingat kejadian tadi pagi.


"Eeg tikus? Bau juga eeg cicak. Busuk!" Tambah Sara sambil berjalan menuju rumah.


"Iiiiiii ..." Ruto menggeliat geli.


"Untuk apa kamu ke sini?" kesal Oricima mendapati kedatangan Karin ke rumahnya.


"Kak, aku hanya ingin menengok kakak, kakak beberapa hari ini tidak kelihatan. Jadi aku berinisiatif menemui kakak di rumah" Imbuh Karin langsung duduk manis di depan Oricima.


"Coba kamu cari pacar kamu itu betul betul! Bukannya malah cariin aku!" kesal Oricima.


"Aku sedang berusaha kak. Baru baru ini aku minta tolong seorang detektif kak, aku mau cepat cepat bertemu dengan Nejira. Aku kangen dia!" soroh Karin.

__ADS_1


"Lalu?" Oricima tampak tak peduli.


"Aku mau minta sedikit dana kak, biayai detektif itu gak murah kak, aku sudah punya setengahnya tapi aku perlu lagi. Cuma perlu sedikit lagi kak"


Oricima memicingkan mata.


"Sedikit itu berapa? Bagi aku gak ada kata sedikit dalam uang. Uang itudi cari dengan jerih payah dan keringat. Semua uang itu banyak Karin!" Tekan Oricima yang tak sejalan dengan Karin.


Menurut Oricima, uang tak semudah itu dan seringan itu di lepaskan atau di pergunakan begitu saja, harus ada tujuan dan guna. Ya begitulah Oricima.


"50 juta kak" Sahut Karin tampa malu malu.


"Hah?" Oricima meneguk saliva kasar.


"Biasanya Nejira selalu memberikan lebih banyak dari itu, masa kakaknya gak bisa" Isi hati wanita jahat ini.


"Kamu bilang itu sedikit!" Oricima melebarkan mulutnya menganga.


Tak jauh dari Karin dan Oricima, sesuatu menjulurkan lidahnya beberapa kali, berjalan tanpa kaki. Perlahan mendekati Oricima dan Karin.


"Astaga!" Pekik Karin.


Oricima ...

__ADS_1


###


Tebak apa itu?"


__ADS_2