
Sara dan Ruto sangat menikmati barbeque buatan sendiri ini. Rasanya sangat nikmat di tambah canda tawa mereka yang tak ada henti.
Ruto juga marasa sangat gembira meski rasa di hatinya seperti ada rongga yang kosong. Tapi keberadaan Sara sangat menghiburnya.
Wanita dengan wajah kecil yang khas dan suara yang halus tapi sering berteriak memanggilnya sangatlah candu bagi Ruto.
"Sara?" Panggil Ruto tiba tiba.
"Eeemmm?" Sara sedang membersihkan piring piring bekas yang di gunakan mereka tadi.
"Aku bantu" Sela Ruto dan berdiri di samping Sara
"Silahkan, aku mah suka di bantu" Sahutnya.
"Sara?" Panggil Ruto lagi.
"Apa?"
"Kamu ada pria idaman gak di dunia ini?" Tiba tiba saja Ruto ingin tahu.
"Aku ...? Pria idaman?" Sara memicingkan matanya sambil menatap piring piring di hadapannya.
"Iya! Aku yakin Sara punya pria idaman atau kreteria pria yang kamu inginkan 'kan?" Tambah Ruto lagi.
"Aku tuh, maunya pria yang gimana ya? Aku gak butuh yang ganteng, aku gak butuh juga yang kerjanya banyak, eeemmmm yang penting dia tanggung jawab dan setia serta jujur. Mungkin yang kayak kamu To" Goda Sara.
"Aaahh aku?" Ruto tersenyum senang mendengarnya.
"Iya" Sahut Sara lagi.
"Aaaaa, benarkah? Baiklah kalau gitu. Aku akan jadi yabg terbaik untuk kamu Sara" Percaya diri Ruto.
__ADS_1
"Sara? Ra? Sara Darianti?" Ruto menoleh ke kiri dan kanan tidak menemukan gadis cantik itu.
"Rutoooooooo!!" Panggil Sara tiba tiba sampai Ruto sendiri terlonjak.
"Rutoooo tolong aku!" teriak Sara lagi"
"Sara!!!" Ruto bergegas berlari mencari sumber arah suara Sara.
****
Pria tampan baru saja menyelesaikan mandi. Tubuhnya segar dengan aroman mint yang menyeruak ke dalam indera penciuman.
"Astaga ketiakku lupa di cukur" Pekik Oricima.
Oricima punya kebiasaan yang sangat bagus untuk ketiaknya. Ia suka mencukurnya dan kadang juga mencabuti bulu bulu yang tumbuh tanpa di suruh di sana.
"Aku bukan Nejira yang suka menumpuk bulu ketiak." Gumamnya sambil mengambil mengambil cukurannya.
Tiba tiba dering ponselnya terdengar begitu jelas.
"Apa!" Kesalnya sambil menerima telpon tersebut.
"Tuan kamu sudah mengedarkan gambar Tuan Nejira di Kota Suha. Ada beberapa orang yang bilang pernah liat wajah Tuan Nejira, kami masih lanjut menyelidiki tuan" Jelas orang dari telpon.
"Iyakah? Baguslah. Semoga makin banyak kemajuan" Doa Oricima.
"Tuan tapi dari tadi sekertaris Lee dari tadi menelpon. Dia minta Tuan menghubunginya, karena dia sudah mencoba dari tadi tapi nomer tuan sangat sulit di hubungi" Sambungnya.
"Aaahh menyebalkan! Iya iya, nanti aku telpon dia. Aku mau cukur bulu ketiak dulu" Imbuhnya setelah itu ia segera memutuskan sambungan telpon itu.
"Sekertaris Lee yang mana?" Oricima sadar setelahnya.
__ADS_1
"Kenapa jadi seorang pengusaha seperti ini sangat sulit! Kenapa Nejira tahan pekerjaan seperti ini. Cih!" geramnya.
****
"Sara!!" Panggil Ruto dengan nafas yang terengah engah karena berlari kencang dari belakang rumah.
"Ruto tolong, ada ular di dalam rumah, aku takut!" Sara terdiam di teras rumah.
"Kok bisa kamu di luar rumah, kami tadi di dalam rumah 'kan?"
"Iya, To, tapi tiba tiba aku liat ekor ular jadi aku langsung lari keluar sini" Terang Sara.
"Aku cek dulu ya!" pamit Ruto.
"Hati hati To!"
Sara menggemggam tangannya sendiri. Keringat dingin menjalar di pelipisnya.
"Mana Ruto?" Keluhnya merasa Ruto sangat lama di dalam sana.
"Gak ada Sara! Di mananya?" barulah terdengar suara Ruto.
"Ada To. Aku liat tadi. Aku gak mungkin salah liat 'kan?" Sara jadi bingung.
"Masuk aja sini, gak ada kok. Ada aku!" Ruto keluar dan merangkul bahu Sara.
"Aku takut banget ular To. Dulu kakakku meninggal karena di gigit ular berbisa, aku takut" Rengek Sara di pelukkan Ruto.
"Astaga senyaman ini memeluk Sara" Gumam hati Ruto.
"Aaaaaaaa!" Teriak Sara tiba tiba.
__ADS_1
###
Off dulu guysss