Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 41. Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Bumi tersu berputar pada porosnya. Langit cerah dengan sinar mentari menyilaukan.


Sara dan Ruto sepepertu biasa melakukan pekerjaan mereka. Masing masing nmebagi tugas. Pukul 10 barulah keduanya beristirahat.


"Aaaahh capeknya" Gumam Ruto.


"To minta airmu" Pinta Nara.


Botol air minum ada di samping Ruto. Ruto meraihnya dan di berikan pada Sara.


Gadis dengan topi coklat itu meneguk air dari dalam botol itu hingga setengah dari airnya tandas.


"Haus banget ya?" Ruto melirik Sara.


"Hooohhhh"


Ruto melepaskan topinya, di kibas kibaskannya agar ada angin yang berhembus untuk Sara.


"Aaaahhh makasih To" Sara menikmatinya.


Ruto memandangi wajah cantik Sara yang terpejam menikmati. Sangat cantik meski dengan keringat yang bercucuran di pipinya. Malah tampak segar dan begitu menggoda.


"Sara ..." Panggil Ruto.


"Apa?" Singkat Sara.


"Kamu pernah ada hubungan gak sama laki laki?" Tanya aneh Ruto.


"Hubungan sama laki laki? Pacaran maksudnya?" Duga Sara.


"Aaahh iya, pacaran!"


"Aku? Aku cuma pas dulu aja"


Ruto memasang pendengaran tingkat tinggi sangkin penasarannya dengan kisah Sara.


"Lanjut! Kamu pernah pacaran sama berapa laki laki?" Introgasi Ruto.

__ADS_1


"Bukan pacaran! Tapi aku cuma kagumi dia. Aku bodohnya dulu saat kelas 11, aku malah nyatakan perasaan aku sama dia. Dia nolak dan gak peduli" Lesu Sara bila mengingat itu.


"Lha, padahal Bos Sara 'kan cantik banget! Jahat tu Laki!" Soroh Ruto.


"Maklum waktu itu masih terlalu labil akunya juga To. Tapi sekarang aku masa bodoh sama Cinta To. Gak tertarik aku!" Pungkas Sara.


"Kalau Ruto perjuangkan cinta Sara boleh?"


"Maksudnya?" Nara menoleh pada pria di sampingnya itu.


"Ruto berjuang dapatin hati Sara dan cinta Sara. Boleh'kan?" Ulang Ruto.


Ruto mendekatkan dirinya dan Sara. "Aku mau berjuang untuk Sara. Ruto mungkin gak setampan laki laki itu, tapi Ruto mau cintai Sara. Ruto sudah mulai dengan hal hal kecil. Ruto nabung, Ruto mau tabung yang banyak uang untuk Sara. Nanti kalau mau nikah mau buat rumah, Ruto ada uang Sara" Jelas Ruto.


"Astaga khayalan kamu tinggi juga ya?" Kelakar Sara.


"Ruto sayang, mending sekarang kita nabung untuk masa depan. Untuk buka usaha sendiri, kita bisa buat usaha yang lebih baik lagi dari pada tinggal di perternakan ini. Emang kamu gak capek gitu tinggal di sini? kerja keras gini?"


"Gak! Asal ada Sara" Rayu Ruto.


"Sara mau 'kan di perjuangkan Ruto"


Tapi yang menjadi penghalang hati Sara adalah, ingatan Ruto yang masih belum stabil. Sara tak ingin menyimpan banyak perasaan pada Ruto. Takut takut setelah mengingat semuanya Ruto akan meninggalkannya.


"To, aku gak larang kamu ada perasaan sama aku, aku juga suka kok. Tapi ... Aku takut aja" Lirih Sara ingin jujur dengan perasaannya juga.


"Takut? Takut apa?"


"Aku takut To. Aku takut kamu tinggalin aku, janga lupa kalau kamu ini lagi lupa ingatan! Kalau kalau kamu ingat diri kamu yang sebenarnya, apa kamu akan tetap sama aku? Apa jangan jangan kamu sebenarnya punya istri atau kekasih? Atau ... Ya kemungkinan buruk lainnya." Ucap Sara


"Eeemm iya ya. Ruto masih lupa ingatan. Tapi, tapi Ruto yakin Ruto belum punya istri!" Kekeuh Ruto.


"Haaahh emang kamu tahu!" Ledek Sara.


"Akan aku buktikan. Sekarang aku mau fokus nabung untuk uang pernikahan kita dan jagain kamu" tekad Ruto.


"Aaaaa?" Sara menatap tak percaya Ruto.

__ADS_1


"Kamu buat aku berharap gitu?" Lirih Sara.


"Bukan, aku gak minta kamu berharap. Aku cuma minta kamu percaya sama aku! Dan aku minta kamu untuk terima laki laki bodoh ini" Ucap Ruto.


Sara terdiam menatap wajah yang hanya berbeda beberapa senti dari wajahnya.


Pipinya jadi merona dan detak jantungnya tak karuan.


"Astaga!" Sara menepuk nepuk pipinya.


"Kenapa?" Ruto terkejut.


"Aku jadi malu 'kan!" Keluh Nara sambil menggeleng geleng cepat.


"Malu karena apa?" Ruto menatap Sara lekat lagi.


"Isshhh Ruto!" Sara menahan malu melihat Ruto yang juga balik melihatnya.


"Aku gak ngapa ngapain kok" Cicit Ruto


"Husstttt!" Nara menjadikan jari telunjukanya pembatas dirinya dan Ruto.


Shuuutt!!


Jari itu di tarik hingga ke lengan lengannya, Sara jatuh menyandar dada bidang Ruto.


"Diamlah di sana" Titah Ruto.


Sara menutup mulutnya rapat rapat. Keduanya tak bersuara. Sara bisa dengan jelas mendengar detak jantung Ruto yang stabil. Sedangkan Sara merasa detak jantungnya yang meronta ronta.


"Apa pipimu merah lagi?" tiba tiba Ruto bertanya.


"Eeemmm!" Sara berbalik wajahnya sampai tak melihat silau sang matahari karena menyembunyikan wajahnya di dada Ruto.


"Egoiskan aku mau memilikinya? Aku suka dia juga" Cicit hati Sara.


###

__ADS_1


Off dulu ya guyss .. Lope lope guysss


__ADS_2