
Oricima menatap balik anak buah itu. "Panjang kakinya!" Sentak Oricima yang mengerti maksud tatapan terkejut pria di depannya.
"Ah iya Tuan, anda dan Tuan Nejira sangat mirip. Tidak akan ada yang menyadari kalau kalian kembar" Tambahnya.
"Heeeemmm" Oricima mengangguk setuju.
"Seberapa lama kita meminta izin untuk pencarian itu?"
"Mungkin sekitar 3 hari tuan, kita akan minta beberapa bantuan juga dari tempat itu. Kita punya 3 kota besar sebagai tempat pencarian. Semoga dari ketiga kota besar itu ada Tuan Nejira atau orang yang pernah melihatnya dan bisa mengabari kita" Pungkasnya.
"Heeemm dan aku akan bebas dari ini semua, ya semoga Nejira cepat ketemu dan aku bebas." Riang Oricima.
"Tuan permisi" Seorang pelayan datang kehadapan Oricima.
"Apalagi?" Acuh Oricima.
"Ada wanita ingin bertemu dengan tuan, namanya Karin. Dia bilang ini penting" ucap pelayan itu jelas.
"Hah untuk apa lagi wanita gak berguna itu ke sini, mana Manda dan kawan kawan lagi tidur abis makan" Cicit Oricima.
"Manda? Kawan kawan?" Gumam Anak buah yang sejak tadi bersama Oricima.
"Ularku!" Sahut Oricima.
"U .. Ular? Apa saya tidak salah dengar?" Gumamnya lagi.
"Gak ... Ular .. Aku suka reptil" Sambung Oricima membuat anak buah itu mengangguk paham.
__ADS_1
"Kalau gitu kamu, kembali bekerja. Cari adikku sampai ketemu, untuk biaya dan uang kabari aja. Semua sudah aku atur" Ucap Oricima.
"Baik Tuan saya permisi" Imbuhnya sambil sedikit membungkuk memberi hormat ada Oricima.
"Bagaimana aku mengerjainya?" Gumam Oricima.
"Heeemm persilahkan dia masuk. Oh ya apa dia berpenampilan aneh?" Tanya Oricima.
"Eeemmm dia hanya menggunakan jaket tebal tuan, entah untuk apa? Cuaca saat ini juga sedang panas panasnya tapi dia mengenakan pakaian serba tebal." cicit pelayan itu.
"Oke ajak dia masuk, aku akan segera menemuinya, cih sok formal sekali aku 'kan jadinya, isssh udah kayak Nejira aja sok banget. Aku 'kan luwes orangnya!" Cengengesan Oricima.
"Haaahh Tuan Tuan" ucap pelayan itu.
"Benar'kan aku jadi makin aneh dengan mendalami peran Nejira ini. Ck. Aku 'kan orangnya santuy! Gak ada kalem atau songongnya" Cicit Oricima sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Aaaahh Jumi, kok kamu gak bilang dari kemarin?" Cicit Oricima baru sadar juga.
"Masuk celananya dulu Tuan" imbuh Bi Jumi sopan.
Bi Jumi sudah cukup lama bekerja dengan Oricima, semua sikap Tuannya itu Jumi tahu, Jumi juga yang selalu menjadi pemgingat Oricima.
Bi Jumi baru di bawa ke rumah besar ini untuk menemani Oricima yang banyak tak cocok dengan pelayan pelayannya yang lain. Oleh karena itu hari ini barulah Bi Jumi melayani Oricima.
"Kenapa Tuan sampai lupa celana sih? Ck ck ck" Bi Jumi berdecak.
"Karena Tuanmu yang satunya lagi!" Tiba tiba Oricima keluar dari pintu kamarnya sambil mengenakan celana dan berusaha menarik restletingnya.
__ADS_1
"Astaga" Bi Jumi hanya bisa tepok dahi.
***
"Ada apa kamu pagi pagi ke sini. Pake baju tebal gitu lagi? Emangnya rumah aku ini kastilnya Elsa?" Cicit Oricima sambil menuruni tangga bersama Bi Jumi.
"Kak Ori.." Panggil Karin antusias tapi kembali Karin siaga.
"Kenapa?" Oricima duduk di depan Karin.
"Eemm kak ular ular kakak di mana?" Tanya Karin Was was.
"Tidur" Sahut singkat Oricima.
"Aaahh beneran?" Karin tampak senang.
"Iya"
"Yeeeyy" Karin melepas baju tebalnya dan hanya menggunkan dres pendek yang memperlihatkan paha mulusnya.
"Aaahh 'kan gini jadi enak juga"
Oricima memandang baju yang di kenakan Karin, seperti kurang kain saja. Bagian dadanya hampir terlihat atau memang sengaja di pamerkan. Pahanya juga, jika dengan posisi seperti ini sekarang, ketika Karin melipat kakinya maka akan terlihat sela sela kurang baik di mata pria.
Karin melirik Oricima yang memandangi tubuh goalnya. Karin tersenyum mendapat ide bagus.
Karin maju dan mendekati Oricima. Dan dengan tiba tibanya ia duduk di pangkuan Oricima.
__ADS_1
Oricima ...