Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 38. Mencoba Romantis


__ADS_3

Sara dan Ruto kembali ke rumah dengan membawa belanjaan mereka yang tak sedikit.


"Kamu terlalu nekad beli daging, mahal 'kan?" Dengus Sara.


"Gak apa apa uangku masih ada kok"


"Iya deh. Simpan uangmu ya, masih lama nih kita gajian lagi" Imbuh Sara.


"Siap Bos!" Ruto memberi hormat Sara.


"Ini mau di masak gimana dagingmu ini?" Sara mengeluarkan isi tas belanjaannya.


"Aku mau di panggang atau di bakar atau di ... Apa ya? Yang penting masak deh" celetuk Ruto.


"Haaaahhh ... Kita barbeque aja. Sana bikinkan aku api di luar, aku bumbui dagingnya. Oke" Imbuh Nara.


"Siap deh" Ruto berlalu dan melakukan apa yang di pinta Sara.


Sara datang lagi membawa piring dengan daging di dalamnya dan juga besi panggangan.


"Asikkk" Ruto semangat.


"Belum ada arang apinya ya?" Sara melirik api yang di buat Ruto.


Api itu hidup tapi tidak terlalu banyak memiliki arang api karena baru akan membesar.


"Tunggu aja deh. Kamu liatin dagingnya ya, aku mau masak sayurnya, masa makan cuma lauk daging aja." Pamit Sara.


"Tapi nanti masak ini gimana? Ruto gak tahu lholo" teriak Ruto lagi.


"Nanti panggil aja kalau udah ada arang apinya. Nanti aku yang masak, gak percaya aku sama kamu yang masak" Sara menoleh ke belakang dan melihat wajah cengengesan.


10 menit berlalu setelah Sara meninggalkam Ruto dengan api dan dagingnya.


"Sara! Udah nih" Panggil Ruto lagi.


"Iya iya" Sara keluar dari rumah dan membantu Ruto berbaque.

__ADS_1


"Aduh" Tiba tiba karet pengikat rambut Sara putus dan membuat rambutnya tergurai.


"Heemmm?" Ruto menandangi rambut yang terurai itu.


"Putus ya?"


"Iya To. Aduh lagi masak gini malah putus." Omel Sara.


Ruto terdiam memperhatikan rambut panjang itu. Selama ini Sara selalu menggulung rambutnya ke atas. Tidak selalu terurai begitu.


Hanya kadang kalau sehabis mandi, barulah Ruto bisa melihat rambut hitam panjang milik Sara.


"To, boleh minta tolong?" Sara memanggil Ruto.


"Eehh iya? Minta tolong apa?" Ruto jadi salah tingkah.


"Ambilkan aku ikat rambut lagi. Aku mau ikat rambutku" Imbuh Sara.


"Heemm sebentar ya"


"Yang di dalam kotak warna kuning itu ya!" Seru Sara.


Ruto masuk ke dalam rumah dan mencari kotak yang di maksud Sara, tapi ia tidak menemukannya.


"Astaga bodohnya aku 'kan ada beli ikat rambut untuk Sara. Di mana tadi ya?" Ruto beralih ke biliknya.


"Nah ini dia" Ruto sengaja membelikan Sara ikat rambut yang terbuat dari kain, bukan karet seperti yang selalu Sara gunakan.


Ruto sering melihat rambut Sara yang rontok karena penggunaan karet ikat rambutnya, saat di Minimarket tadi Ruto membeli satu untuk Sara.


Di bawanya ikat rambut itu pads Sara. Langsung di raihnya rambut panjang itu, di sisirinya pelan dengan jarinya.


Entah dapat bisikkan dari mana sehingga Ruto berani melakukan itu tanpa minta izin pada Sara.


"Eehh?" Sara kikuk merasakan tangan Ruto menjalar di kepalanya.


"To?"

__ADS_1


"Sstt aku ikatkan rambutmu" Suara Ruto begitu magnetis di telinga Sara. Apalagi dengan jarak sedekat ini.


Tangan Ruto begitu lihai menyatukan helai demi helai rambut. Setelah yakin tidak ada helai rambut yang tersisa lagi, Ruto mengikatnya dengan ikat rambut pilihannya.


"Gak sakit 'kan?" Ruto melirik wajah Sara.


"Enggak To, kayaknya lain karet ikat rambutku biasanya deh" Gumam Sara.


"Memang bukan, aku tadi beli ikat rambut ini. Coba deh di periksa" Ruto sudah selesai mengikat rambut Sara.


"Eehhh kapan? Aku gak liat tadi?"


"Ada kok, nyaman ikat rambutnya?"


"Iya, lembut. Makasih To" ucap tulus Sara.


"Tentu, aku sering liat rambut kamu rontok karena karet itu, kasian tahu rambutnya" Imbuh Ruto begitu perhatian pada Sara.


Tangan Sara masih meraba ikat rambutnya. Senyum manis tersimpul di bibir Sara.


Ruto makin lebarkan senyumannya menatap cantiknya Sara ketika tersenyum malu malu seperti ini.


"Kamu cantik banget" Puji Ruto.


"Aahh?" Sara terpaku mendengar pujian Ruto. Pipinya makin merona matanya bergeling mencari arah lari dari tatapan Ruto.


"Isssttt sudah aaahh" Sara mencoba fokus lagi pada barbequenya.


"Emang aku salah? Kamu emang cantik kok. Aku suka senyum kamu" Jujur Ruto.


Sara membulatkan matanya. Ucapan Ruto terdengar begitu tulus dan makin mengguncang hati Sara.


"Isshhh iya makasih lhooo" Sara membuang gugupnya dengan percaya diri.


"Hehehehe" Cengegensan Ruto.


####

__ADS_1


Off dulu ... Maaf baru update lagi ...


__ADS_2