
Ruto merasakan hal aneh, sejak semalam ia gelisah. Tidurnya tak nyenyak, ada rasa yang berbeda setiap ia melihat Sara yang sedang tertidur pula di tempatnya.
Karena masih terus merasakan itu, Ruto memilih untuk bangun dan memasak nasi, menggoreng tempe dan setelah matang semuanya, Ruto memakannya.
"Haahhh aku kenapa?" Gumamnya.
"Ruto?" Panggil Sara.
"Eehh Sara? Apa aku berisik?" Tanya Ruto.
Sara pun ikut duduk di lantai bersama Ruto.
"Kamu kenapa?" tanya Sara.
"Aku gelisah. Aku gak tahu kenapa tapi aku gelisah gitu ... Kayak ada sesuatu terlupakan" Ucap Ruto serius.
"Kamu 'kan emang lupa ingatan" Cicit Sara.
"Eeh iya juga ya? Ehehehe" Ruto malah terkekeh.
"Kamu lapar?" Sara memperhatikan masakkan Ruto.
"Hehe untuk hilangkan rasa gelisah aku aku coba makan Sara. Mungkin aja hilang rasa gelisah aku" tutur Ruto.
"Heeemm pasti ada sesuatu To ... Pasti ada sesuatu" Sara menatap lurus kedepannya.
Tangan Ruto langsung menggenggam tangan Sara yang berada di paha Sara.
"Apa pun itu ... Aku tetap punya kamu" Ucap Ruto.
"Heeemmm gombal terus aahhh" Elak Sara.
Pagi harinya seperti biasa Sara dan Ruto harus berkerja keras menghidupi para ayam ayam ini.
Ruto semakin lemas dan letih. Sara tak tega melihatnya.
__ADS_1
"Ruto, istirahat aja. Kasian kamu ... Aku bisa lanjut sendiri. Yaaa!" Titah Sara.
"Aku mau temani kamu Sara. Aku juga gak mau kamu kecapeean kayak aku" Cicit Ruto.
"Aku mohon To, jangan ngeyel deh kalau di bilangin! Cepat istirahat!" Titah Sara makin tegas.
"Heeem cium dulu" Ruto menyodorkan pipinya.
"Kok pake cium cium segala. Ku kasih kamu bama ayam ini!" Cicit Sara sambil memperlihatkan tangannya yang bsesarung dan di penuhi dengan bama pakan ayam.
"Cium pake bibirlah sayangku" sahut Ruto.
Pipi Sara langsung merona di buat ucapan itu. "Iya iya, sini pipinya!"
Ruto kembali menyodorkan pipi kanannya.
Sara mulai mendekat dan hendak mengecup pipi itu.
Saat itu juga Ruto mengubah posisi wajahnya hingga bibirnyalah yang tercium oleh Sara.
Suaranya terdengar jelas dan langsung membuat Ruto tersenyum puas.
"Ruto!" Sara malu.
"Ahahaha ... Aku suka ciumanmu sayang"
"Isssshh!" Sara segera berlalu dari hadapan Ruto.
"Sudah sana istirahat!" Titah Sara.
Ruto menuruti peritah Sara dan beristirahat di dalam rumah, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya. Setelah merasa segar, Ruto membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Tangannya di lipat di atas dadanya. Matanya hanya menatap langit langit rumah kecil itu yang hanya terpampang seng dengan garis garisnya.
Perlahan matanya mulai terpejam karena terasa berat dan semakin mengantuk.
__ADS_1
****
Pukul 12 siang Sara baru selesai memasukkan tempat air minum untuk kandang terakhir yang perlu air minum.
"Aahh selesai ... Hem Ruto tadi gimana ya?" Sara membasuh tangannya terlebih dahulu.
Mencuci tangannya dengan sabun sebersih bersihnya. Setelah yakin bersih, Sara memasukki rumah.
Di lihatnya Ruto terpejam. "Aahh tidur ya ... Sepertinya emang gak enak badan. Mandi dulu aahh bau eeg ayam"
Sara berlalu ke kamar mandi. 15 menit kemudian Sara sudah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa segar dan lebih terasa bersih. Sara lanjut mengenakan pakaiannya dengan cepat.
Ia ingin cepat cepat memeriksa keadaan Ruto.
"Sss ... "
"Ssss ..."
"Ssaaaa"
Tiba tiba suara Ruto terdengar terus mengucapkan kata yang sama tapi terputus putus.
"Sa?" Gumam Sara yang masih belum mengenakan pakaian sepenuhnya.
Entah apa yang di maksud Ruto dengan 'Ssss' Itu entah Sasa, sarapan, Sambo? Intinya hanya Ruto yang tahu.
Sara mendekati Ruto di sentuhnya lengan Ruto.
"Eeehh kok panas?"
Sara lanjut menyentuh kening Ruto. "Nah 'kan, dia demam!" seru Sara.
"Obatku mana ya?" Sara bergegas mencari kotak obatnya, di carinya Paracetamol untuk Ruto. Tak lupa ia juga menyiapkan air hangat untuk mengompres.
"Ruto bangun!" Pinta Sara halu.
__ADS_1
Ruto ...