Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 6. Rumah sakit


__ADS_3

Kon'nichiwa.. Selamat datang pembaca pembaca baru. Selamat membaca pembaca pembaca setia.. Aku padamu..


Selamat membaca...


"Heh?" Sara dan pak Polisi terkejut lagi.


Pria itu pingsan di tempatnya berdiri tadi.


Seketika Sara panik melihatnya tentu itu bukan keinginannya.


"Hei.. Bangun.. Aduh kok malah pingsan sih..? Pak polisi tolong!" Sara meminta tolong pak Polisi itu lagi.


Pak Polisi itu sigap dan membawa Sara dan pria ini segera ke rumah sakit terdekat. Sara juga tetap berusaha menyadarkan pria ini.


"Jadi dia benar benar amnesia?" Sara bertanya saat dalam perjalanan.


"Kita akan tahu nanti nona." Sahut polisi itu.


***


Sara dan Pak Polisi menunggu di luar ruangan. Dokter sedang memeriksa pria yang pingsan tadi.


"Eemmm Pak Pol. Nanti bayarannya mahal gak ya? Aku.. Takut mahal nih.. Gak bawa banyak uang" Sara memberitahukan kekhawatirannya.


"Gak apa apa nanti saya tambah. Lagian itu karena saya juga yang salah langsung memberitahu dia tentang sidik jarinya. Mungkin dia Syok." Untungnya Polisi ini mengerti keadaan Sara.


"Makasih Pak Polisi."

__ADS_1


Sara dan Pak Polisi terus bercerita cerita singkat.


Pak polisi juga memberitahu cara cara Sara nanti membantu memulihkan ingatan Pria itu.


30 menit kemudian..


Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. Sara dan Polisi langsung menghampiri dokter.


"Gimana Dok. Pasiennya?" polisi langsung bertanya.


"Dia baik baik aja. Dan dugaan Pak polisi kalau dia amnesia memang benar. Kami memeriksa ada luka di bagian kepala yang belum terlalu sembuh. Kemungkinan besar pria itu mengalami kecelakaan sebelumnya hingga ia sekarang ini" Jelas sang Dokter.


"Hah?" Sara tak percaya yang ia degar ini.


"Lalu Dok, apa dia sudah sadar?" Sara penasaran.


"Ooohhh" Sara mengangguk paham.


"Apa pasien akan di rawat di rumah sakit atau di bawa pulang dulu ke rumah.?" Pertanyaan yang sulit di jawab Sara karena dia bukanlah siapa siapa pria itu.


"Nona, bawa pulang aja. Mungkin nanti dia akan megingat sesuatu jika di rumah" Saran Sara.


"Tapi 'kan kita gak tahu rumahnya di mana"


"Untuk sementara bawa aja ke rumah Nona. Gak apa apa 'kan?"


"Aaahh rumah ku..? Rumah di tengah peternakan itu?" Sara berpikir.

__ADS_1


"Saran saya bawa saja pasien pulang nona. Biaya rumah sakit ini sangat besar. Apalagi pasien ini tidak memiliki identitas yang pasti. Jadi alangkah lebih baik di rawat di rumah saja. Nanti saya buatkan resep obatnya aja" Saran Dokter juga. "Rumah sakit ini sangat mahal, kadang saya prihatin melihat ada keluarga pasien yang tak mampu bawa sangkin mahalnya." Keluh sang dokter.


"Aaahhh gitu ya.. Oke saya bawa pulang" Mendengar biaya yang sangat mahal tentu Sara langsung ketakutan.


Mengingat bagaimana dulu dirinya merawat sang Ibu dengan biaya yang besar dan berakhir hutang di mana mana dan semua asetnya hilang.


Dokter itu mengangguk setuju. Ia segera menyiapkan obat untuk pria itu. "Ini, tebus di apotek. Ini bukan obat mahal tapi kemanjuranya sebelas dua belas sama yang asli."


"Waahh makasih Dok.. Dokter sangat baik" Puji Sara.


"Iya.. Kalau bukan karena tugas saya juga gak mau di rumah sakit mahal gini nona. Tapi mau gimana lagi. Belum boleh pindah.." Dokter yang sangat dermawan


"Oohhhh dokter sangat hebat.." Kagum Sara.


"Eeemmm" Pria dan polisi itu berjalan ke arah Sara dan dokter.


"Masih sakit?" Tanya Sara ketika pria itu sudah di sampingnya.


"Udah gak.. Cuma lemes aja" Tetap memamerkan senyumnya.


"Aku mau tebus obat dulu.. Kamu sama Pak polisi duluan aja ke mobil" titah Sara.


"Oohhh oke.." Pria itu langsung setuju.


###


Cha..!!!!

__ADS_1


__ADS_2