Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 30. Naik motor


__ADS_3

Lapangan dengan rumput tipis menjadi tempat pemberhentian Sara dan Ruto dengan motornya.


"Sekarang eeemm ajari dari mana ya?" Sara bertanya tanya.


"Oke mulai dari idupin deh"


Sara dan Ruto turun dari motor dan Sara pun mulai menjelaskan cara menghidupkan motor ini.


"Sekarang naik begini, putar kunci onnya dulu, setelahnya tekan tombol starternya ini. Nah 'kan nyala" motor yang di berikan Bi Suna adalah motor sejenis matic. Jadi mudah sekali bila Ruto ingin belajar mengendarainya.


"Nah kalau udah nyala gini jangan di gas dulu. Kaget kamu kalau asal gas aja." Cicit Sara.


"Oke sekarangk kamu coba dulu"


Ruto mengangguk setelah menyimak dengan jelas yang di pratekkan Sara.


Ruto mulai menaiki motor itu.


"Huuuuu" Ruto mengghela nafasnya terlebih dahulu.


"Ayo. Jadi tadi di putar kuncinya gini!" Ruto menirukan yang dilakukan Sara tadi.


"Iya sampe sini udah bagus. Aku berfirasat buruk" Cicit Sara.


"Lalu?" Sara memperhatikan gerakkan selanjutnya Ruto.


"Pencet ini"


Ya motor itu menyala dengan pelan. Ruto berhasil sejauh ini.


"Yes Ruto bisa" seru Ruto.


Tapi ada yang berbeda dengan selanjutnya, Ruto menginjak ingjak tempat kaki matic itu. Tapi tak bisa menemukan apa apa di sana.


"Eehh dimana?" Ruto tampak kebingungan.


"Kamu cari apa?" Sara juga memperhatikan Ruto.


"Pijakkan gasnya di mana?" Sahut Ruto.


"Hah? Gasnya itu di tangan!" Sahut Sara juga.

__ADS_1


"Ini?"


Brruuuummmmmmmmmm..


"Aaaaaaaaaw!" Sara dan Ruto sama sama berteriak.


Ruto di bawa lajunya motor, sedangkan Sara terjongkok kaget.


Untungnya meski Ruto menggas mendadak motot itu ia tak kehilangan kedali dari motor. Motor tetap seimbang dan berjalan meski sedikit laju.


"Rem To Rem!" Sara berlari mengejar Ruto dan Motornya.


"Leeee~eeemmm?" Ruto semakin panik singga intonasi kata katanya lucu.


"Remmmmm!!" Teriak Sara melengking.


"Di tanganmu itu ada yang warna silver tuas. Itu di tarik Ruto!" Imbuh selanjutnya Sara.


"Yang mana?" Ruto malah sempat bertanya.


"Ruto!!!" Kesal Sara. Ia memilih berhenti dan melihat saja apa yang akan terjadi pada pria bodoh itu.


"Sara! Ada dua! Yang mana nih!" Panggil Ruto lagi.


"Dia ini ngeprank aku ya! Dia bisa bawa motornya tapi gak tahu mana Remnya, mana gasnya, tapi lancar jaya aja tuh bawa motornya!" Cicit Sara.


"Yang kiri To. Kalau yang kanan rem depan. Nanti kamu ..." Ucap Sara terpotong.


Ruto menarik rem sebelah kanan dan alhasil bagian depan motor matic itu berhenti tapi bagian belakang motor itu sedikit terangkat.


"Jungkal" Sambung Sara dengan ucapannya yang terpotong.


"Telat" Cicit Ruto yang terdiam lemas di atas motor.


"Kamu ini! Bikin panik aja aaahh! Gak berani lagi aku kasih ajar kamu bawa Motor. Nanti kenapa napa lagi kamu. Tapi kok kamu bisa aja seimbangkan motonya, tapi malah gak tahu nama gas, mana rem?" Sara bertanya tanya pada kejanggalan itu.


"Heeemmm? Entah. Ruto biasa aja bawanya tapi emang gak tahu fungsi fungsinya."


"Oohhh" Sara mengangguk paham. Mungkin ini semua akibat kelupaan yang terjadi pada Ruto.


"Tapi tadi kenapa malah cari gas di kaki sih? Orang di kaki itu cuma untuk taruh kaki biar nyaman" Cicit Sara.

__ADS_1


"Iya aku kira gasnya pake kaki!" Sambung Ruto.


"Jangan jangan, kamu sebenarnya bisa bawa mobil. Setahu aku gas mobil ada di kakinya. Aku liat di mobil Bi Suna kemarin" Sara bak profesor yang berpikir keras.


"Mungkin, wah berarti Ruto punya mobil donk. Aaahh nanti kalau Ruto udah ingat, Ruto bawa Sara deh."


"Bawa ke mana?" Sara memicingkan mata.


"Keliling keliling"


"Eeehhh" Sara terkejut.


"Kirain mau ke mana gitu? Ke luar negri gitu healing healing hehehehe" Tawa Sara.


"Hah? Helm?"


"Healing Ruto ya ampun nih laki. Ganteng ia tapi tuli, bodrok lagi" ledek Sara.


"Hahahaha terus Sara sukakah sama yang ganteng gini?" Gida Ruto sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan beberapa kali.


"Issshh PD amat!" Soroh Sara.


"Yuk balik aahh dah hampir sore. Nanti di cariin pak Getsu." Sara naik ke atas motor dan Ruto duduk manis di belakangnya.


"Tapi ngemeng ngemeng .." Ruto mulai bercicit


"Ngomong ngomong To" Ralat Sara.


"Hehee iya. Enak lhoo duduk di belakang."


"Kenapa?"


"Bisa cium aroma wangi kamu" Goda Ruto.


Godaan itu berhasil membuat Sara merona Pipi. "Apaan sih aah?" Elaknya.


"Emang iya wangiiiiiii" Cicit Ruto lagi. Entah pria itu sedang jujur atau hanya meledek Sara saja. Tapi ia terlihat sangat senang memang dari kaca spion yang di lirik Sara.


Makin meronalah pipinya.


###

__ADS_1


__ADS_2