Penyembuh Hatiku

Penyembuh Hatiku
Bab 42. Semakin percaya diri


__ADS_3

Oricima mondar mandir di dalam kamarnya.


"Apa aku harus ke kota itu? Yaa ampun ... Malas banget deh. Itu tugasnya Nejira ... Ahh nanti aku yang di kira Nwjira hilang terus aku nanti ...!" ucapan Oricima menggantung.


"Maaf tuan ini sangat penting. Ketidak hadiran tuan bisa membuat perusahaan kita goyah.


"Aahhh tapi nanti, itu ... Itu kota yang kalian kirimkan foto pencarian Nejira'kan?" Oricima terus beralasan.


"Iya tuan, ini sepertinya taktik dalam perusahaan, agar perusahaan kita rugi dan mundur. Aku rasa mereka tahu kita yang sedang kelimpungan mencari tuan Nejira. Mereka melakukan taktik ini karena tahu tidak ada penganti tuan Nejira." Jelas anak buah setia Nejira pada Oricima.


"Aaahh jadi?"


"Anda harus tetap pergi"


"Astaga ... Huh!" Oricima menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah ... Ayo kita bersiap. Apa aja nih yang perlu aku siapkan. Aku di sana harus apa?" Lesu Oricima.


"Begini Tuan ..." asisten Lee langsung menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Oricima.


***


"Oke kalau gitu. Tinggal tanda tangan aja kan?"


"Iya Tuan, aah ya untuk baju akan saya kirimkan khusus untuk Tuan" Ucap Asisten Lee lagi dari panggilan video Oricima.


"Haaahh? Haruskah? Aku punya baju juga kok. Kemeja juga 'kan?" Beo Oricima.


Asisten Lee tertawa gemas "Maaf tuan tapi tuan Nejira jika melakukan perjalanan dinas selalu menggunakan pakaian rapi dan nanti anda lihat sendiri" Ucap Asisten Lee lagi.

__ADS_1


"Haaaaahh! Makin aneh!" Jengkelnya.


"Dua puluh menit lagi baju dan barang barang anda tiba. Silahkan di tunggu Tuan." Asisten Lee memberi hormat Oricima.


"Aku juga!" Kesalnya.


"Baju macam apa yang Nejira pakai? Sespesial itukah?" Ledek Oricima dengan wajah jahilnya.


"Ehem" anak buah Nejira berdehem gemas.


"Apa! Marah? Aku ledek Tuanmu! Cih ... Dan aku gak yakin yang kamu bilang itu benar. Mereka gak akan semudah itu percaya kalau aku ... Aku ...!" Ucapan Oricima tersenggal senggal.


"Sabar Tuan. Ini hanya sementara dan hanya untuk pengakuan Tuan" jelas Anak buah itu.


"Iyakah? Yakin? Gak gitu juga kali konsepnya" geli hati Oricima memikirkan ide dari orang orang itu.


"Ruto! Mana kamu?" Sara mencari keberadaan Ruto.


"Sayang!" Panggil balik Ruto.


"Kamu dari mana? Sayang sayang!" Jengkel Sara.


"Aku ambil ini ... Dan ini" Ruto menunjukkan pucuk singkong dan juga beberapa buah cabai.


"Bukan ambil, tapi petik!" Kekeh Sara.


"Hehe iya itu maksudnya. Ini bisa di masak'kan? Kamu pernah masak ini 'kan?" Ruto bersemangat.


"Iya, kamu mau aku masakkin pucuk singkong lagi?" Tebak Sara.

__ADS_1


"Aahh sama sambal lagi ya" Pinta Ruto.


"Oke, ayo deh ... Sini semuanya" Sara membantu Ruto membawa semuanya.


"Kamu bawa yang kecil kecil aja"


"Sok romantis. Gaknya berat juga" Cicit Sara.


"Laki laki itu harus melindungi wanitanya" Ruto menyenggol siku Sara.


"Iya iya, eehh besok gajian lagi lhooo, Sara biasanya kalau nabung bagusnya di mana?" Tanya Ruto antusias.


"Untuk apa?"


"Aku mau nabung untuk masa depan kita. Dan juga tentu untuk buat pernikahan meriah kita. Gimana boleh 'kan?" Goda Ruto lagi.


"Eeemm ada ada aja. Udah nanti aja ngeyelnya aaahh bantu aku masak dulu" untuk menyembunyikan pipi yang merona Sara mengalihkan pembicaraan.


"Let's go" sorak Ruto.


Sara menatap gemas Ruto. Laki laki tampan itu semakin masuk dalam hatinya dan selalu membuat hatinya bergetar.


Ruto bukan laki laki yang banyak kekurangan, dari wajah yang tirus, kulit wajah yang bersih, mata coklat tajam, bibir menggoda merona, hidung mancung postur tubuh tinggi dan jangan lupa bentuk dada dan perut yang seperti roti sobek. Tapi memiliki keimutan yang tak ada tandingannya.


"Iihhhh" Lirih Sara membayangkannya.


"Kenapa?" Ruto kebingungan melihat Sara yang sedang mencuci pucuk singkong tapi berlirih sendiri.


"Aahaa gak apa apa kok" Bohong Sara.

__ADS_1


__ADS_2