
Oricima kembali ke kamarnya. Malam ini ia sangat mengantuk. Beberapa malam di habiskannya dengan bermain video game. Malam ini ia ingin menikmati tidur nyenyak.
"Aku rasa aku gak akan ingat apa apa setelah ini. Meski bom sekali pun meledak aku gak akan ingat" gumam Oricima sambil menahan kantuknya.
Terlelaplah dia dengan posisi telungkup. Dengkuran halus dan nafas teratur membantunya menyelami lebih dalam lagi dunia mimpi.
Pukul 01.00
Oricima masih terlelap. Sementara para pencuri memasukki rumahnya.
Tak lain dan tak bukan mereka ingin mencuri uang yang di antarkan ajudan Nejira tadi. Uang dengan nilai lebih itu akan sangat berguna.
"Kita naik ke lantai atas. Uangnya pasti di sana"
"Hati hati dengan kamar yang paling besar. Sepertinya Oricima berada di sana. Jangan sampai dia mengetahui keberadaan kita di sini!" Ucap yang lainnya lagi.
Ceklek.
"HIiiigggg!!!" Semuanya membulatkan mata tak percaya.
"O .. Oricima! Mundur mundur perlahan!" Bisik bisik antara mereka.
"Ke .. Kenapa dia malah di kamar kecil gini!?" Mereka berada di lorong rumah itu kembali mencari keberadaan uang.
"Oricima memang laki laki teraneh yang pernah ada" Sahut seorang laki laki lagi. Sepertinya ia sangat mengenal Oricima.
"Mungkin di sini!" Asumsi seseorang.
"Buka pintunya kita akan tahu isinya"
Ceklek ..
Pintu di buka lagi dan alangkah terkejutlah mereka melihat seorang Bibi tengah merajut dan di hadapannya setumpuk uang yang sejak tadi di cari cari sekelompok orang ini.
"Eh siapa ya? Mau cari siapa? Tuan Oricima sudah tidur kayaknya" Sahutnya normal.
"Ahaaaa kami, kami ini di perintah tuan Oricima untuk membawa uang ini Bi. Permisi ya!" Ucap pencuri itu sopan.
"Eeee kata tuan uangnya untuk bangun rumah sakit, besok di antar." Sambung Bibi itu.
"Eeemm gini Bi, kalau siang bahaya banget bawa uang banyak, bawa malam gini aja. Itu perintah tuan Nejira!" Sahutnya salah lagi malah mengatakan Nejira. Padahal yang ia maksud adalah Oricima.
"Tuan Nejira? Udah ketemukah? Bukannya tuan itu ilang!" sambung Bibi memang ada benarnya.
__ADS_1
"Isshhh Bibi begini!" Kesalnya.
"Apa?" Bibi itu lanjut merajut benang berwarna putihnya.
"Ambil aja uangnya, hanya seorang Bibi kenapa kita malah takut?"
Seorang maju dan mengambil satu tas besar.
"Eeh eeh eeeehh di comot aja? Kucing garong kau!" Seru Bibi itu.
"Udah jangan di pedulikan, Bibi yang bodoh gitu aja kok" titahnya.
"Siap Bos"
"Aah maling toh!" sebut Bibi itu. Salah seorang maju dan menahan sang Bibi.
Selesai membawa uag uang yang sekiranya cukup, mereka pun pergi. Sang Bibi di lempar ke sofa dengan kasar.
"Abis aku di marahi tuan nanti" Cicitnya.
"Wweeeyyyy weeeyyyyy! Maling tungguin aku!" Cempreng suara Bibi itu.
Satu rumah itu bisa mendengarnya, tidak termasuk Oricima, karena pria itu sedang tidur nyenyak.
"Iya. Maling noh, gak mau ngaku tadi" sahuntya dengan nafas tersengal sengal.
"Udah biarin aja, rumah ini tu emang aneh aneh orang orangnya." Ucap Bos orang orang itu.
"Tunggu eeeee!!!!" Teriak Bi Ajum lagi. Meski suaranya cempreng tapi suara itu cukup mengganggu pencuri pencuri ini.
"Balikkin dulu uang tuan Oricima. Nanti dia marah lhooo"
Lah ni Bibi macam mana sih? Kok malah gitu sih?
Isi hati semua pencuri itu.
"Kalau kalian bawa uang itu saya teriak lhooo" ancamnya.
Nah adalah mempannya, kayaknya?
"Maaf ya Bi kami gak perlu takut dengan amcaman Bibi kalau kami bisa buat Bibi diam sediam diamnya" Ancam balik.
"Gak takut!"
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaauuuuuuuuuu" Teriak Bibi itu cukup nyaring.
"Oowww nyaring juga, nanti kita ketangkap gimana?"
"Tangkap dia. Takut takut Oricima sadar nanti dengar teriakkan yang cempreng gitu!" Titahnya.
Beberapa orang mendekati Bibi itu dan mencoba menahannya. Hebatnya Bibi itu sangat gesit dan dapat menghindari. Bibi yang lainnya lagi ingin mencari bantuan lainnya.
Tapi ia malah di hadang pria lainnya. Tak ada jalan lain, ia juga ikut ikutan berteriak seperti Bi Ajum.
"Hei apa yang lain lakukan, ini main maling dan penjagakah?" Kelakar bos mereka.
"Kita kan memang maling bosku, dan mereka yang jaga uangnya. Jad betullah yang sedang mereka lakukan ini" Sahut anak buahnya yang paling polos.
"Astaga, kenapa kamu bawa dia tadi hah?" Bentaknya.
"Biar kita gak ganjil bos, kalau kita genap kita semuanya berpasangan" sahutan yang lebih parah lagi.
"Hushhhhhhhh kapan aku dapat anak buah yang lebih baik lagi?" Gumamnya.
Puuggghhhh..
Satu bantal guling memuluk kepala Bos pencuri itu.
"Ck apaan sih?" Bos itu hanya memperbaiki topengnya.
Puuughhhh..
Satu lagi pukulan lembut.
"Kalian mau aku bogemkah?" bos pencuri itu sangat kesal. Sudah punya anak buah tak berguna di tambah kelawakkan yang sedang terjadi ini.
"Apa aku harus turun tangan?" Ia meletakkan semua uang curiannya dan ikut menangkap Bibi Bibi itu yang terus berteriak.
"Aaauuwwww aaaaaauuu yahhhh" Keluh sang Bibi.
"Haruskah aku kasar!" pria bertopeng itu menyiapkan bogeman besarnya dan siap dilayangkan ke wajah sang Bibi.
Puuugghhhhhhhhhh.
Bantal guling itu sangat menggangu Bos pencuri. Sedangkan anak buahnya sudah lama berhenti mengejar dan hanya menjadi penonton.
"Bisa diam! Ada yang ingin tidur di sini!" Ucapnya malas sambil memeluk guling di bawah ketiaknya dan menguap pula.
__ADS_1
###