
Ghufa hanya berani menatap Dhika secara diam-diam, rasa sukanya hanya bisa ia pendam, entah urutan keberapa Dhika bersarang dihati Ghufa (jika hitungannya dimulai dari SD). Biasanya jika ia tertarik dengan pria, ia akan mendekati duluan tanpa rasa malu. Namun pengalaman pahit setahun yang lalu merubah pola pikirnya.
Walaupun Ghufa mudah jatuh hati, entah itu dari parasnya yang tampan, dari suaranya yang menyejukaan hati, dari prestasinya disekolah atau dari ketiganya, namun ia tidak pernah berpacaran karena selalu mengingat perkataan ayahnya, "Kamu masih sekolah, masih banyak yang harus kamu kejar, jangan buang waktu untuk hal yang dapat menghambat mimpimu, jadi jangan cinta-cintaan atau pacaran dulu ya nak" nasehat ayahnya ketika Ghufa kelas 6 SD. Saat itu ia menerima surat cinta dari teman sekelasnya. Walaupun sudah 5 tahun yang lalu namun Ghufa selalu mengingat nasehat Ayahnya (pernah satu kali ia melanggarnya dengan hasil sebuah penolakan).
Ghufa adalah gadis manja, cenggeng, egois, ceroboh, pemerhati penampilan, mudah jatuh cinta, bawel, cuek, tidak peka sehingga menimbulkan kesan jutek dalam pembawaannya saat awal jumpa, namun kesan itu akan hilang dengan sendirinya apabila sudah mengenalnya lebih jauh.
Sedangkan Dhika adalah sosok laki laki yang cool, cerdas tapi bukan tipe kutu buku. Sifatnya yang misterius dan sulit ditebak, membuat kaum hawa selalu bertanya-tanya tentang dirinya. Namun mereka harus gigit jari karena keterbatasan sumber informasi. Ia seperti teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Sifatnya sudah seperti medan magnet yang berkekuatan tinggi. Membuat orang yang sudah terpana sulit untuk lepas dari pesonanya. Begitu juga yang dialami oleh Ghufa.
Awal mula perasaan yang tumbuh dihati Ghufa dikarenakan kekaguman Ghufa akan prestasi Dhika yang dapat bersaing ditengah bertebarannya orang-orang pintar di kelasnya yang didominasi oleh kaum hawa. Kebanyakan pria di kelasnya adalah biang kerok sekolah atau siswa yang kecanduan oleh game online.
Selama mata pelajaran Bu Ester (guru fisika), Ghufa selalu mencuri pandang kearah Dhika, entah angin apa yang membuat Ghufa berani mengabaikan mata pelajaran yang kurang ia kuasai.
Alhasil momen itu tak lepas dari pengamatan Bu Ester.
"Ghufa" panggil Bu Ester. Karena terkejut, Ghufa sampai tersentak. Karena tak kunjung ada respon dari Ghufa, membuat seisi kelas mengalihkan perhatian kearahnya. Ghufa melihat tatapan iba pada setiap mata yang memandangnya. Ia pun menyadari jika tindakannya sudah diketahui oleh guru yang mempunyai sebutan 'mata elang'.
Bu Ester lalu meminta Ghufa untuk maju ke depan kelas, dengan lemas Ghufa beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju arah yang ditunjuk Bu Ester. "Bakal kena hukuman joget deh gw" batin Ghufa dengan perasaan takut.
Ketika sudah di depan kelas, Ghufa memandang sekeliling dan tanpa sengaja matanya bertatapan dengan Dhika. "Deg, oh My God, gimana nih, kenapa harus saat ada dia" gumam Ghufa dalam hati.
"Ghufa" panggil Bu Ester membuyarkan lamunan Ghufa.
"Ya Bu" jawab Ghufa takut-takut.
"Tuliskan jawaban no 3" pinta Bu Ester.
Ghufa membaca soal yang sudah ditulis di papan tulis, lalu menatap gurunya dan berkata lirih,
"Maaf Bu, saya tidak tahu" jawab Ghufa dengan muka polos tanpa dosa.
"Kenapa bisa tidak tahu? kamu tidak mendengarkan saat ibu menjelaskan?" tanya Bu Ester dengan pandangan yang membuat Ghufa semakin menciut. Namun dengan cepat ia menjawab, "dengar Bu" ucap Ghufa secara spontan. Naluri untuk menyelamatkan diri sendiri muncul begitu saja dari dalam dirinya.
__ADS_1
"Kalau kamu mendengar penjelasan Ibu, kenapa kamu tidak bisa menjawab soalnya, berusaha untuk menjawab pun tidak kamu lakukan" terang Bu Ester yang masih menghardik Ghufa.
Ghufa pun menundukkan wajahnya, "arghhhh dasar Dhika semprul, semua gara-gara lo, kenapa lo selalu ada dipikiran gw" batin Ghufa menyalahkan orang lain.
"Kamu tahu kan Ghufa apa hukuman kalau tidak mendengarkan dan tidak bisa menjawab pertanyaan ibu?" tanya Bu Ester.
"Iya Bu, Ghufa tahu" jawab Ghufa pasrah. Ia lalu berjalan ketengah kelas, sebelum melaksanakan hukumannya, Ghufa memejamkan matanya sejenak. Saat membuka matanya kembali ia juga menghirup udara banyak-banyak untuk dihembuskan secara perlahan. Hal itu ia lakukan untuk mengurangi rasa gugup yang tengah menderanya. Ghufa memulai aksinya dengan menggerakkan tangan dan pinggulnya. Ia juga bernyanyi untuk menggiring tarian Hula Hula yang sedang diperagakannya. Semua itu dilakukannya tanpa berani menatap kearah teman-temannya. Pandangan matanya ia alihkan ke dinding atau langit-langit kelas.
Bu Ester adalah salah satu guru killer di sekolah. Ia selalu menghukum muridnya dengan cara yang unik. Ia akan meminta muridnya untuk bernyanyi dan menari (membuat malu untuk sebagian siswa) hal itu dilakukan agar muridnya jera dan akan selalu fokus pada mata pelajaran yang diajarkannya.
Setelah selesai, Ghufa langsung kembali ketempat duduknya. Ia mendapat sorakan dan siutan dari teman laki-laki yang ada didalam kelasnya.
"Sangat memalukan" guman Ghufa dalam hati.
"Yang masih ingin bersuara, silahkan keluar dari kelas saya" suara tajam Bu Ester menggema di ruangan. Seketika ruangan menjadi hening. Bu Ester kembali melanjutkan penjelasannya yang sempat terhenti karena ulah Ghufa.
Ghufa sudah tidak berani lagi melakukan kesalahan, ia fokus dengan penjelasan Bu Ester dan mencatat semua contoh-contoh soalnya.
- Queen Ariesta Salsabilla (leader yang terkenal akan kecantikan dan body yang seperti gitar spanyol)
- Jenika Destiana Putri (selain cantik, pintar memasak, ia ahli dalam memberikan solusi)
- Aulia Resti Anggraini (wajahnya yang mirip bintang k-pop ditambah dengan suara merdu dan IQ tinggi yang dimilikinya membuat banyak wanita di sekolah iri padanya).
Tak lama kemudian bel berbunyi, menandakan usainya pelajaran. Semua bernafas lega. Termasuk Ghufa.
"Huft, akhirnya bel juga" gumam Ghufa pelan.
"Lo kok bisa kepikiran buat joget hula hula sih, padahal gw pengennya liat lo joget goyang ngebor atau patah-patahnya Dewi Persik" ujar Resti yang langsung mendapat jitakan dari Ghufa.
"Sakit oneng" ujar Resti mendumal. Ia mengelus-elus kepalanya yang terkena jitakan Ghufa.
__ADS_1
"Lagian rese, teman lagi menanggung malu, bukannya dihibur malah diledekin" ujar Ghufa sambil merapikan tasnya.
"Sayang banget tadi ga gw rekam, gurunya killer sih! Coba kalau ada rekamannya, bisa jadi bahan buat ngebully lo nih selama seminggu penuh" terang Resti mengacuhkan permintaan penghiburan Ghufa.
"Emang gampang buat ngebully gw?" tantang Ghufa.
"Klo kita maen Truth or Dare, gw bakal nantang lo buat joget trus bakal gw rekam dan share ke kak Bimo sama kak Ryan. Hahahaha" tawa Resti karena membayangkan muka lucu Ghufa yang menahan malu ketika bertemu dengan kakaknya dan mantan kakaknya Ghufa.
"Itu cuma ada di mimpi lo sayang, dan gw bakal nantang lo buat nyamperin dan ngobrol sama Andre atau kalau orangnya ga ada, lo bisa telpon si Andre trus ngobrol setengah jam aja dan rekamannya gw kirim ke Rendi. Perang-perang dah lo" ujar Ghufa yang tidak mau mengalah.
"Semprul lo bawa-bawa Rendi" ujar Resti menciut.
"Hahahaha" tawa Ghufa yang senang dapat membalas perkataan Resti.
"Sudahlah, ga usah cemberut gitu, balik aja yuk" ajak Ghufa kepada Resti, sahabat yang duduk sebangku dengannya.
"Omongan lo ga lucu tahu" kata Resti sembari merapikan tasnya.
"Emang ga lucu omongan gw, yang lucu tu tampang lo" ujar Ghufa yang masih meledek Resti.
"Awas lo ya, tunggu pembalasan gw" ancam Resti.
"Gw tunggu pembalasan lo dan kehadiran lo di parkiran" jawab Ghufa meninggalkan Resti yang sekarang sibuk dengan panggilan teleponnya.
Saat menunggu Resti, Ghufa melihat Dhika berjalan menuju kearahnya." Fa, lo seksi banget tadi" ujarnya tepat dihadapan Ghufa yang sedang senderan sembari memainkan ponselnya. Ia kemudian berlalu begitu saja setelah mengucapkannya dan meninggalkan Ghufa yang mematung ditempatnya.
Ghufa hanya bisa bengong dan mesem-mesem sendiri mendengar kalimat Dhika. Ia menatap kepergian Dhika hingga menghilang dari pandangannya.
Mohon maaf apabila masih banyak kesalahaan dalam penulisan. Ini adalah karya pertama Author.
Mohon dukungan dari kalian semua 😊
__ADS_1