Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Ryan langsung  merebahkan tubuh dikasur kamarnya setelah pulang dari rumah Ghufa, sambil memejamkan matanya ia berpikir bahwa keputusannya sudah tepat.


Setelah penolakan Ghufa siang tadi, ia menyadari bahwa tak kan mudah bagi Ghufa untuk menerima perasaannya. Makanya sore harinya ia kembali lagi untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia tak mau hubungannya bertambah renggang, karena sejak penolakannya malam itu, Ghufa menjaga jarak dengannya. Namun ia tetap mengawasinya tanpa sepengetahuan Ghufa.


Selama pengawasannya, Ghufa tidak pernah terlihat tertarik terhadap lawan jenis. Ryan cukup senang dengan perubahan Ghufa yang tidak mudah lagi untuk tertarik dengan laki laki.


Dulu, Ghufa pernah hampir setiap hari makan makanan cepat saji di restoran sebuah mall dikawasan Jakarta Barat karena tertarik dengan salah satu pelayan disana. Sampai akhirnya pelayan itu sadar kalau ada pelanggan yang memperhatikan gerak geriknya. Ketika mengecek makanan apakah semua sudah terhidang, laki laki tersebut memberikan tambahan tisu yang sudah diselipkan kertas berisi nomor telepon. Saking senangnya, Ghufa  tidak sadar sudah membuat sedikit kehebohan di restoran tersebut, membuat mereka menjadi pusat perhatian. Resti yang hanya menemani kegilaan sahabatnya, ikut merasa malu plus senang melihat sahabatnya bahagia. Dan hubungan mereka pun berlanjut dengan saling memberi pesan atau terkadang telpon telponan. Namun hubungan mereka hanya sebatas itu, tidak lebih.


Ada pula kejadian saat Ghufa naik busway menuju Gelora  Bung Karno Senayan. Tanpa sengaja ia melihat laki-laki yang selalu menundukkan pandangannya, ia sangat penasaran sekali dengan laki-laki tersebut, karena ini sudah ketiga kalinya ia melihat laki-laki itu yang ekspresi dan sikapnya selalu sama. Ghufa ingin sekali mendekatinya, namun ia takut disalahpahami. Ia berharap minggu depan atau suatu disaat diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengannya.

__ADS_1


Dan harapan itu terkabul dipertemuan ke tujuh. Saat itu Ghufa ada janji sehingga ia turun di Halte Masjid Agung arah ke Blok M. Tanpa diduga ternyata laki-laki itu juga turun disana. Karena saat itu hujan turun cukup deras, ia mengurungkan niatnya untuk meneruskan perjalanan walaupun sebenarnya ia membawa payung. Ia menunggu sampai hujan reda. Laki-laki itu terlihat gelisah, dilihat dari sikapnya yang berjalan mondar-mandir, seperti ingin pergi namun ragu. Tiba-tiba ia mendekat, dan bertanya, "boleh minta nomor teleponnya?" ucapnya sambil menyerahkan telepon genggamnya.


Ghufa masih bengong, tidak percaya akan apa yang barusan terjadi. Ia tidak menyangka laki-laki tersebut meminta nomor teleponnya. Karena rasa terkejutnya yang belum hilang, ia sedikit gemetaran saat memasukkan nomor telpon dan kejadian itu tak luput dari penglihatannya. Laki laki itu tersenyum, ini pertama kalinya bagi Ghufa melihat jelas wajah dan senyumnya. Tatapan matanya yang tajam  dipadukan dengan hidung yang mancung dan bibir tipis berwarna merah, alis dan rambut berwarna hitam pekat dan dilengkapi dengan garis rahang yang kuat dan tegas. Sungguh sangat sempurna di mata Ghufa.


Setelah mendapatkan nomor telepon Ghufa, ia mengucapkan terima kasih dan langsung pergi begitu saja. Sampai saat ini pun ia tak pernah menerima telepon dari orang tersebut bahkan namanya saja ia tak tahu. "Bodoh banget gw, kenapa ga minta dia miscall" sesal Ghufa.


Esok harinya, entah siapa yang menyebarkan berita itu, kelas saat itu sangat heboh. Karena tanpa diduga ternyata Cancer juga ada hati dengan Ghufa.


Ghufa menjadi serba salah, ia ingin sekali mengklarifikasinya.Namun didiamkan olehnya berharap seiringnya waktu Cancer dapat menyadarinya.

__ADS_1


***


Ryan tersenyum membayangkan bagaimana cara Ghufa yang tanpa malu bercerita secara detail mengenai pengalaman-pengalaman cintanya.


Berbekal pengalaman tersebut, Ryan berharap jika Dhika akan menjadi salah satu koleksi perjalanan cinta Ghufa.


Walaupun kali ini firasatnya mengatakan ada sesuatu yang berbeda. Apalagi Dhika didukung oleh keadaan yang menguntungkannya. Ia satu kelas dengan Ghufa, sehingga interaksi mereka akan lebih intens. Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk dapat masuk kembali kedalam hati Ghufa sekaligus mengobati luka yang sudah ia tinggalkan.


 

__ADS_1


__ADS_2