
Ghufa duduk di bangkunya dengan muka cemberut, ia meneguk air mineral yang diberikan Dhika sampai setengah botol. Resti hanya mengamati tanpa bertanya, sepertinya Dhika membuatnya kesal.
Ketika bel sudah berbunyi, Dhika baru masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Ia memandang ke arah Ghufa yang raut wajahnya seperti koran yang dilipat-lipat. "Saat cemberut pun terlihat cantik" gumamnya yang terdengar oleh Dimas
"Namanya juga lagi jatuh cinta, yang jelek juga bakal terlihat indah. Gimana klo udah indah dari sananya. Apalagi bodynya, amboi gitar spanyol bro. Depan belakang menggoda iman" kata Dimas mendeskripsikan Ghufa.
"Jangan sembarangan ngomongin orang, ga semua orang berpikir mesum kayak lo" ucap Dhika marah dengan kalimat yang diucapkan Dimas.
"Siapa yang sembarangan ngomong, gw berbicara fakta, lo punya mata, lo bisa liat. Ga usah muna, lo juga tergoda kan pengen ngelahap bibirnya yang lagi manyun."
Dhika diam tanpa membalas perkataan Dimas, apa yang barusan dikatakan olehnya memang benar. Dia marah kepada Dimas karena perkataannya tentang Ghufa, apa bedanya dengan dirinya yang sering berpikir untuk menyentuh dan menciumnya, bukan kah ia lebih buruk dibanding Dimas.
"Arghhh gila, ternyata gw lebih cabul." Dhika mengusak-ngusak kepalanya hingga membuat rambutnya acak-acakan, ia kesal karena pemikiran kotornya.
"Lo sama Dhika kenapa?" tanya Resti gatal, ia yang awalnya tak mau tau sebab Ghufa cemberut namun karena melihat Dhika yang tampak sangat frustasi membuatnya penasaran. Ucapan Resti membuat Ghufa menoleh kearah Dhika. Ia mengabaikan pertanyaan Resti.
Dimas menyikut badan Dhika. "Apaan sih lo?"
"Noh, gebetan lo ngeliatin." Dhika pun mengalihkan pandangannya kearah Ghufa. Pandangan mereka bertemu, Dhika menyadari sesuatu dan langsung merapikan rambut dengan jarinya. Senyum manis diberikan Ghufa untuk Dhika sebelum ia membalikkan badannya kembali.
"Ya Tuhan, manis banget sih makhluk ciptaanMu."
"Anjass, senyumnya manis banget bro, coba klo senyumannya buat gw, langsung gw tembak trus gw kawinin tuh."
"Cari mati lo ya."
"Santai aja bro, sebelum janur kuning melengkung statusnya masih available."
"Lo mau nikung gw?" tanya Dhika kepada Dimas
"Ngapain gw bilang klo niat gw buat nikung. Sorry ya, gw tuh gentle, anti main belakang."
"Jangan mimpi dan jangan berharap. Ga akan gw kasih celah sedikitpun buat lo masuk."
Drrrrt drrrt drrt, suara getaran handphone menghentikan perdebatan antara Dhika dan Dimas. Dhika membaca pesan yang ternyata dari Ghufa.
"Kamu kenapa?"
Senyum simpul muncul disudut bibir Dhika, ia senang mendapat perhatian Ghufa.
"Ga papa, cuma bingung mau ngelakuin apa supaya wajah kamu ga cemberut" balas Dhika.
"Dari pada kamu ngasih aku rumus fisika kenapa ga coba buat puisi aja" ucap Ghufa yang ingin membalas kejahilan Dhika.
"Puisi?" ucap Dhika yang tanpa sadar suaranya terdengar teman-teman disekelilingnya, tak terkecuali Ghufa.
__ADS_1
"Kenapa lo ngomong puisi? mau ikut lomba?" tanya Eldo yang duduk didepannya.
Dhika gelagepan dengan pertanyaan Eldo. "Enggak, siapa yang ikut lomba. Salah denger lo."
"Kenapa Ghufa minta dibuatin puisi?" tanya Dimas heran.
"Tahu dari mana lo?" tanya balik Dhika yang baru sadar layar ponselnya masih menampilkan riwayat pesannya dengan Ghufa. "Ngintip aja lo" imbuh Dhika yang langsung menutup aplikasi chat .
"Jangan nyalahin ketajaman penglihatan gw dong, lo nya aja sendiri yang ceroboh."
"Ngeles aja lo kayak bajaj."
"Sejak kapan lo bisa bikin puisi?" tanya Dimas penasaran, karena semenjak kenal dan berteman dengan Dhika, ia tahu Dhika tidak suka dengan roman picisan apalagi puisi-puisi cinta.
"Mulai hari ini."
"Hahahaha, makan tuh cinta."
"Dimas, kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu" tegur Bu Dian yang sedang menjelaskan tentang keanekaragaman budaya Indonesia.
"Emang enak" ucap Dhika senang.
"Maaf Bu, tadi suara kentut Dhika kedengaran, jadi saya kelepasan ketawa."
"Sudah sudah, kita lanjutkan" ucap Bu Dian menenangkan kegaduhan yang terjadi akibat perkataan Dimas.
"Sialan lo, gw dijadiin tumbal" ucap Dhika dengan raut wajah marah bercampur malu.
"Maaf bro, gw ga ada pilihan lain."
Kegiatan belajar pun berjalan tanpa hambatan sampai bel pulang berbunyi.
"Yeay, liburan i'm coming" ucap Resti gembira. "Yuk Fa, kita jalan sekarang biar ga kemalaman pulangnya" ajak Resti antusias, ia sudah tidak sabar menanti hari esok.
"Yaudah yuk" ucap Ghufa setelah memastikan semua barangnya masuk tas. Sebelum meninggalkan kelas, Ghufa menoleh ke arah Dhika, namun sepertinya ia sedang sibuk dengan temannya. Entah apa yang mereka ributkan namun tampak jelas raut marah diwajah Dhika.
Queen dan Jenika sudah menunggu mereka di depan kelas. "Gw udah pesen online car, kita tunggu di taman aja" ucap Resti menjelaskan.
"Foto-foto dulu yuk sebelum kita potong rambut" ajak Queen saat sudah sampai di taman. Ia ingin mengabadikan momen sebanyak mungkin dengan rambut yang sudah menjadi ikon dirinya selama ini.
Cekrak-cekrik cekrak-cekrik, suara handphone yang menandakan banyaknya foto yang diambil. Queen melihat hasil foto dihandphonenya dan sangat puas akan hasilnya. "Nice pictures. Gw kirim ke group yah."
"Guys, mobilnya udah sampai, yuk!" ajak Resti.
Ghufa duduk dikursi samping kemudi, ia kebagian duduk disana karena kalah beragumen dengan Queen, dari mereka berempat, hanya Queen dan Ghufa yang memiliki tubuh berisi. Dan Queen memenangkan perdebatan karena berat badannya lebih ringan setengah kilo dibandingkan Ghufa.
__ADS_1
"Sampai sana kita makan dulu ya, lapar banget gw. Kalian mau makan apa?" tanya Resti ditengah perjalanan.
"Makan di food court aja, biar banyak pilihan" jawab Ghufa memberi saran.
" Iya, di food court aja, gw lagi pengen makan Gurame asam pedas sama kangkung balacan" jawab Jenika.
"Lo mau apa Queen?"
"Gw mau mie udon."
"Oke, kalau gw ayam bakar sama sayur asem aja deh. Lo apa Fa?"
"Gw sop buntut aja. Kenapa lo tanya sekarang, sampai juga belum."
"Bi Sri udah sampai sana, gw minta dia mesenin makanan kita dulu, biar pas kita sampai, makanan sudah tersedia" terang Resti menjelaskan sembari mengirim pesan kepada Bi Sri mengenai pesanan makanan sahabat dan dirinya sendiri.
"Lo ngajak bi Sri cuma buat mesenin makanan kita doang? ga usah segitunya juga kali Res, paling juga cuma nunggu 30 menitan buat kita nunggu makanan" ucap Queen heran dengan kelakuan Resti.
"Ya ga lah Queen, gw ada alasan lain."
"Apa Res?" tanya Jenika.
"Bawain belanjaan kita, jadi nanti waktu di salon kita ga usah bawa belanjaan."
"Ya elah, gw pikir apa alasannya, ternyata cuma itu. Kita kan cuma belanja sandal, kain pantai sama alat make up, ga seberapa. Lo nya aja yang males bawa-bawa tentengan" ucap Ghufa mengomentari kelakuan Resti.
"Lo ga inget kebiasaan lo klo lagi belanja, siapa yang sering ninggalin barang belanjaan? udah berapa kali coba lo ninggalin belanjaan lo di restoran! untung aja pelayan disana pada baik hati semua, sampai rela ngejar-ngejar lo yang tas belanjaannya ketinggalan dikolong meja."
"Jadi demi gw?" tanya Ghufa haru.
"Siapa lagi disini yang tingkat kecerobohannya tinggi, gw cuma ga mau ambil resiko barangnya ketinggalan trus kita ga jadi kompakan. Nanti saat di salon, kita pasti dalam kondisi capek, dan ga fokus sama sekeliling. Dibanding ambil resiko lebih baik diatasi dari awalkan."
"Gw ngikut aja deh" ucap Ghufa pada akhirnya.
"Ide yang bagus untuk mengantisipasi keadaan" ucap Queen sambil melirik kearah Ghufa.
"Biasa aja kali lirikannya" komen Ghufa yang merasa sedang dipojokkan.
Semua tertawa melihat muka Ghufa yang kesal.
"Udah ga usah ditekuk-tekuk gitu muka lo, jelek tahu. Inget aja nanti lo bakal dapat kiriman puisi dari Dhika."
Perkataan Resti membuat raut wajah Ghufa yang cemberut menjadi secerah mentari.
"Puisi? dari Dhika? gimana ceritanya?" tanya Queen dan Jenika bergantian.
__ADS_1