Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Kehandalan Jenika


__ADS_3

"Ini lezat banget, top markotop deh" puji Resti yang masih sibuk menguyah sembari memuji kelezatan roti kreasi terbaru mamanya Jenika. Mereka disuguhkan beberapa menu baru dan roti terfavorit karena tidak kedapatan tempat jika memakannya di toko.


Toko dengan nama Destiana Bakery didesain seperti cafe yang menyediakan wifi gratis, selain roti ada juga minuman racikan untuk melengkapi hidangan yang disuguhkan. Sehingga tidak heran jika terkadang kita tidak kedapatan tempat untuk sekedar mencicipi rasa yang dapat memanjakan lidah, karena Destiana bakery terkenal dengan kelezatan olahan terigu dan bahan pilihan lainnya yang diolah oleh tangan dan waktu yang tepat sehingga menghasilkan rasa yang luar biasa.


Nama Destiana diambil dari nama tengah dari Jenika Destiana Putri. Putri tunggal keluarga Pak Candra dan Ibu Merdiana. Jenika harus menerima kenyataan menjadi anak yatim saat usianya baru menginjak 8 tahun. Kecelakaan pesawat merenggut nyawa ayahnya. Sejak itu, ia jadi takut jika harus naik kendaraan berteknologi tinggi yang mampu mengudara dan menembus tingginya awan diatas sana.


Ghufa asik rebahan di ranjang Jenika sembari membaca komik conan, tak bosan-bosannya ia membaca komik detektif yang berubah bentuk tubuhnya dari remaja menjadi bocah kecil karena pil rahasia yang diminumkannya.


"Lo ga mau rotinya Fa?" tanya Resti yang melihat roti bagian Ghufa yang masih utuh.


"Lagi diet gw, nanti rotinya buat ade gw aja" jawab Ghufa singkat.


Resti, Queen dan Jenika saling pandang memandang untuk menentukan siapa yang harus mewakili memulai pembicaraan mengenai rencana liburan sekaligus acara sweeth seventeen nya Resti. Seperti yang sudah disepakati saat istirahat sekolah siang tadi. Karena tidak ada yang mau memulai, akhirnya Jenika menawarkan diri.


"Tadi try out fisika lo gimana Fa?" tanya Jenika basa-basi terlebih dahulu sebelum masuk ke intinya.


Ghufa menutup komiknya dan fokus kepada ketiga sahabatnya yang bersikap aneh sejak perjalanan pulang dari sekolah.


"Lancar-lancar aja" jawab Ghufa dengan menatap ketiga sahabatnya secara bergantian. "Kalian kenapa?" tanya Ghufa memulai interogasinya, ia sudah curiga sejak awal kalau ada sesuatu, ia sengaja mendiamkan dan asyik dengan membaca komik dengan sesekali melirik kepada mereka yang terlihat saling sikut menyikut.


"Lo bisa ngerjain soalnya?" tanya Jenika lagi tanpa mempedulikan pertanyaan Ghufa.


"Bisalah kenapa enggak."


"Lo kan lagi galau, siapa tahu itu mempengaruhi kinerja otak lo" tanya Jenika yang masih belum memulai ke inti pembicaraan.


Ghufa tidak menjawab pertanyaan Jenika, ia hanya diam menatap ketiganya dengan sorot mata yang sangat tajam."Kalian ga usah basa-basi lagi, langsung aja ke intinya, kalian pasti mau nanya soal kepastian gw jadi ikut apa enggak diacaranya Resti kan?"


"Fa, kita tahu lo pasti malu klo ketemu sama kak Bimo, tapi seperti yang Resti bilang sebelumnya, klo sebenarnya kak Bimo minta dia buat ngerahasiain masalah itu. Mulutnya Resti aja yang kayak ember, ga bisa jaga rahasia. Gimana klo lo pura-pura ga tahu kejadiaanya kayak permintaan kak Bimo, jadi lo ga perlu malu klo ketemu dia" saran Jenika. Ia yang berharap Ghufa menyetujuinya.

__ADS_1


Ghufa tersenyum mendengar penuturan Jenika dan gemas melihat raut muka Queen dan Resti yang terlihat harap-harap cemas. Ia mempunyai ide untuk mengerjai mereka.


"Sudah berapa lama kita temenan? kenapa kalian jadi formal gini ke gw? seakan gw orang asing."


Jenika,Queen dan Resti terkejut mendengar penuturan Ghufa yang diluar prediksi.


"Gw kecewa sama kalian, kenapa kalian bersikap hati-hati seperti ini? biasanya juga langsung nyablak dan ngejadiin peristiwa itu untuk bahan buat mengolok ngolok gw? seenggaknya seminggu penuh kalian bakal ngebully gw."


"Bukan begitu maksud kita, ini masalah hati, hati itu sensitif, bukan hal yang bagus untuk dijadikan bahan candaan. Kita tahu klo lo lagi galau, bingung sama perasaan lo sendiri, mungkin lo kebawa sama bacaan di novel atau kebanyakan browsing di internet tentang cara mengetahui siapa yang ada dihati kita, sehingga keputusan lo untuk mencium mereka menjadi cara untuk memastikan siapa sebenarnya yang ada dihati lo. Ya walaupun itu ide konyol, tapi karena terlalu lo pikirin sehingga kebawa sampai ke alam sadar lo. Dan saat lo dapat sentuhan laki-laki secara naluri dan tanpa sadar lo mengimplementasikannya. Dan kebetulan banget itu adalah kak Bimo" ucap Jenika memaparkan pendapatnya yang mendapat aplaus dari ketiganya.


"Gila keren bangat analisa lo" ucap Queen memuji Jenika.


"Lo bakat jadi psikiater, sumpah keren abis" ucap Resti sembari memberikan dua jompolnya.


Ghufa yang awalnya berniat untuk mengerjai mereka, sangat terkejut dengan apa yang dituturkan Jenika. Sangat tepat seperti Jenika lah yang ada diposisi itu.


"Jen, julukan ibu memang cocok buat lo, pemikiran lo sangat logis dan dewasa, beruntung banget nanti laki-laki yang jadi suami lo" ucap Ghufa yang memberikan sebuah pelukan sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah dimengerti.


Crek,crek,crek, banyak gaya yang mereka lakukan dengan hasil yang memuaskan. Queen langsung mengeshare foto tersebut di group dan mereka langsung membagikan momen kebersamaan mereka di account sosial media masing-masing.


***


Di tempat yang berbeda, ada tiga laki-laki yang tersenyum ketika melihat foto yang baru saja diunggah. Mereka sama-sama fokus pada bibir yang tampak bengkak, namun dengan arti yang berbeda beda.


***


"Jadi rencana kita, tetap jalan kan?" tanya Jenika yang belum mendengar jawaban Ghufa.


"Iya dong, apalagi nanti ada adegan live tentang perselingkuhan dan permintaan putus hubungan" jawab Ghufa sambil melirik Resti. "Tidak boleh dilewatkan" imbuh Ghufa yang membuat Jenika dan Queen seperti mendapat berita dolar turun menjadi lima ribu rupiah.

__ADS_1


"Beneran Res?" tanya Queen tidak percaya.


"Iya"jawab Resti seperti tidak yakin.


"Res, klo sampe berita kejombloan lo atau putusnya hubungan lo sama bucin Rendi kesebar, bakal ada antrean pendaftaran di kelas lo nanti" ucap Queen mengingatkan.


"Lebay lo"


"Gw ga lebay, cuma memberitahu fakta, mereka selama ini males ngedeketin lo kan karena lo selalu diintilin dia, my boyfriend is my bodyguard, kayak di ftv atau novel gitu" ujar Queen memberitahu.


"Lo yakin mau putus sama Rendi? udah lo pikirin baik-baik? coba lo pikir lagi, selain sama kita, lo selalu sama dia, bahkan waktu me time lo pun sangat terbatas. Banyak hal yang akan berubah, apa lo dah pikirin sampai kesana. Gw emang kurang suka sama sikap Rendi yang terlalu over, cuma mungkin memang karakter dia seperti itu.


Mungkin sekarang lo jenuh karena terlalu dikekang, sehingga lo berfikir klo lo ga bahagia, tapi apa lo yakin setelah bebas lo pasti bakal bahagia?" ucap Jenika yang membuat Resti goyah kembali.


"Ada yang bingung dan juga ada yang galau" ucap Ghufa dengan intonasi musik dangdut sembari memakan roti dengan lahap, lupa akan rencana dietnya yang tadi diucapkan.


"Lo ga jadi diet?" ucap Resti menyindir ucapan dan perbuatan Ghufa yang sering tidak sinkron.


"Gw pending dulu."


"Jadi gw mesti gimana dong?" tanya Resti kembali kepokok masalahnya.


"Ya lo maunya apa?" tanya Queen bingung dengan kelakuan Resti.


"Gw maunya putus"


"Klo lo mau putus, gw saranin jangan bawa-bawa Andre dalam hubungan kalian. Selesaikan masalah kalian sendiri. Atau ga, kalian break aja dulu untuk sementara, masing masing intropeksi diri, setelah waktu yang ditentukan kalian ketemu dan bahas lagi mengenai kelanjutan hubungan kalian, mau dilanjutin atau berakhir" ucap Jenika memberi saran.


"Taruhan kita gimana Res?" ucap Ghufa mengingatkan kesepakatan yang telah mereka berdua sepakati.

__ADS_1


"TARUHAN?"


"Taruhan apa lagi?" ucap Queen dan Jenika bingung.


__ADS_2