
"Kenapa Ryan jadi aneh begini sih, bener bener ga inget omongan dia dulu, kenapa juga baru sekarang dia deketin gw lagi, setahunan ini kemana aja? pakai bilang punya alasan" batin Ghufa geram.
Dengan senyum simpulnya, dia menurunkan tangan dari dada Ryan dan berkata" Cinta?"
"Lo bilang cinta ke gw?" ejek Ghufa sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia tertawa palsu saking kesalnya.
"Lo ga malu ngomong gitu ke gw? ga inget omongan lo dulu? Hah!!" bentak Ghufa murka sementara Ryan hanya bisa diam, berharap Ghufa dapat melupakan peristiwa itu.
"Sorry ya yan, gw masih ingat jelas perkataan lo dulu ke gw. Lo kan yang minta supaya hubungan kita gak berubah. Kenapa sekarang lo bilang cinta. Bullshit banget tahu gak!" Ghufa tertawa sambil meninggalkan Ryan yang masih berdiri mematung setelah mendengar ucapan Ghufa.
Di kamarnya Ghufa masih memikirkan pernyataan cinta Ryan. "Engak,engak, engak boleh, gw ga boleh lembek begini, gw ga mau kecewa lagi" gumam Ghufa yang mondar-mandir di kamarnya. Luka yang ia pikir sudah sembuh sekarang perlahan lahan terbuka kembali. Ghufa pun mengambil buku diarynya yang ia simpan dilaci. Sembari bersandar di tempat tidur, ia membuka halaman dimana peristiwa pahit itu terjadi.
***
Saat itu adalah malam tahun baru. Keluarga Resti mengadakan acara barbeque. Ghufa sudah disana sejak siang karena membantu menyiapkan acara. Apalagi momen ini Rendi akan menyatakan cintanya ke Resti, walaupun awalnya mendapat tentangan dari kak Bimo.
Momen lain diwaktu yang sama. "Gila lo Ren, ade gw masih kecil, baru masuk SMA" tolak kak Bimo tidak terima niat Rendi untuk memacari adiknya.
"Yaelah bro, emang klo gw pacarin bakal gw apa-apain? Gw serius sama Resti, lagian lo kenal orang tua gw, tahu rumah gw, klo adik lo kenapa-napa lo kan gampang nyari gw" beber Rendi menyakinkan Bimo.
Jangan macam-macam lo ma adik gw, klo gw tahu dia nangis karena lo! Siap-siap babak belur lo" ancam Bimo serius.
"Santai Bro, ga percaya banget lo sama gw? gw akan memperlakukan adek lo layaknya ratu" janji Rendi.
"Kenapa lo gak sekalian aja tembak Ghufa, sebelum keduluan Ryan. Momen yang bagus kan sekarang."
"Lo pikir Ghufa barang, di perebutin.
Dia punya hati kali. Bisa milih" ucap Bimo sedikit kesal.
__ADS_1
"Gw cuma ngasih saran, lagian lo ya, bisa bisanya temenan sama saingan" ucap Rendi lalu pergi karena sebentar lagi waktunya akan tiba.
Dan malam itu menjadi malam terindah untuk Resti dan Rendi, tapi tidak untuk Ghufa.
"So sweet banget yah tadi Rendi" ucap Ghufa ikut merasakan kebahagiaan Resti.
"Kenapa? lo mau juga kayak mereka?" tanya Ryan.
"Ya, ga harus sama sih, yang penting intinya" kode Ghufa memberi isyarat. Namun orang yang dimaksud tidak mengerti.
"Gw anter lo pulang" ajak Ryan.
"Kok pulang sih Yan?" ujar Ghufa kecewa
"Emang mau nginep? rumah deket juga,
ngapain nginep-nginepan,?" kata Ryan sambil menggandeng Ghufa.
"Fa, kok malah bengong? udah jam 2 nihh, gw ngantuk, ayok buruan" ajak Ryan kembali karena Ghufa yang tiba-tiba diam.
Ghufa melirik tangannya yang digenggam Ryan, sambil tersenyum manis, Ghufa menarik tangannya agak keras yang membuat Ryan terhuyung sedikit dan berdiri tepat didepannya.
"Yan, dengerin gw ya" ucap Ghufa sambil melepaskan genggaman tangannya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Ryan.
"Gw sayang sama lo, gw pengen hubungan kita bisa lebih dari sekarang" ucap Ghufa sambil memberikan senyum terindahnya.
Ryan sangat terkejut akan pengakuan Ghufa, namun ia langsung bisa menguasai keadaan dan berkata lembut,
"Fa, kita KELUARGA"
__ADS_1
"Keluarga? maksudnya?" tanya Ghufa syok yang secara naluri melangkahkan kaki kebelakang.
Ryan maju dan membelai rambut Ghufa, "rasa sayang gw ke lo itu adalah rasa sayang kakak ke adiknya. Kayak Bimo ke Resti" jawab Ryan memberi penjelasan.
"Dan gw gak mau kita berubah" imbuhnya. Ryan meraih tubuh Ghufa untuk dipeluknya.
"Jadi lo nolak gw" tanya Ghufa. Ia melepaskan diri dari pelukan Ryan.
"Fa, jangan ngomong yang aneh-aneh, ga ada penolakan, lo tetap jadi kesayangan gw, ga ada yang berubah," jawab Ryan menenangkan Ghufa. Ia menatap Ghufa, di matanya ia bisa melihat kesedihan dan kekecewaan yang terpancar jelas.
Tanpa bisa dibendung, air mata Ghufa mulai mengalir, dan dengan sigap, Ryan menghapusnya. Ada perasaan sakit yang tak tergambarkan ketika melihat Ghufa menangis. Namun ia tak menggubrisnya lebih lanjut.
"Yuk, pulang" ajak Ryan lagi. Digenggamnya lagi tangan Ghufa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Gw bisa pulang sendiri" jawab Ghufa melepas genggaman tangan Ryan.
"Fa, jangan kayak anak kecil."
"Gw bukan anak kecil lagi Yan, gw juga bukan adik lo, buktinya gw ga manggil lo kakak kan kayak Resti manggil kak Bimo" sergah Ghufa dengan air mata yang berlinang kembali.
"Gw pengen lo jadi pacar gw bukan kakak gw" teriak Ghufa lalu berlari menjauh.
Dan kejadian tersebut tak luput dari pengamatan seseorang. Seseorang yang memendam perasaan kepada sahabat adiknya.
Ia menyukai Ghufa sejak Resti membawanya main kerumah. Gadis remaja dengan rambut ikal bergelombang yang dibiarkan terurai dengan pita kecil yang menghiasi kepalanya dan lesung pipit dikedua pipinya saat tertawa membuatnya ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Walaupun terkesan sombong diawal, namun saat mengenalnya lebih jauh ternyata ia mempunyai kepribadian yang menarik. Cerita-ceritanya mengenai lelaki yang disukainya menjadi dongeng tersendiri bagi Bimo. Kegigihan dan usahanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, patut dianjungkan jempol.
Ketergantungannya akan sosok Ryan membuat lubang dihatinya, rasa cemburu membuatnya berusaha keras untuk mengalahkan Ryan dibidang lain.
__ADS_1
Namun persaingannya dengan Ryan lama-lama berubah menjadi persahabatan yang unik.
Kejadian malam ini memberinya kesempatan untuk mengisi hati Ghufa yang sedang terluka.