
Siapa Desi? tanya Rendi dengan menatap tajam Resti.
Selingkuhan kamu lah. Kenapa malah tanya aku siapa dia? Atau jangan-jangan saking banyaknya kamu sampai lupa nama-nama mereka? tuduh Resti yang sudah dibakar rasa cemburu.
Selingkuh? Aku? Dapat pemikiran dari mana kamu? jawab Rendi marah karena dituduh selingkuh.
Ghufa yang menyadari situasi sudah memanas langsung mengklarifikasi ucapannya semalam. Dia menyolek Resti yang duduk didepannya.
Res, lo salah paham.
Apa maksud lo Fa, lo sendiri kan yang semalam bilang Rendi selingkuh? tanya Resti yang menengokkan badannya agar menghadap Ghufa.
Gw asal ngomong aja, biar lo bangun, sorry, ucap Ghufa dengan kedua telapak tangan yang ia tempelkan.
Tunggu tunggu, gw masih belum bisa mencerna omongan lo Fa, lo tuker tempat duduk sama Rendi, gw mau penjelasan yang sejelas-jelasnya. SEMUANYA, ucap Resti dengan penekanan.
Oke, Rendi dan Ghufa pun bertukar tempat duduk. Sekarang Ghufa sudah duduk sejajar dengan Resti.
Mobil Elf yang mereka sewa memiliki design bangku satu satu pada sisi kanan dan kiri. Dengan jumlah kursi sebelas. Satu disamping supir dan sepuluh dibelakang. Posisi urutan pertama ditempati kak Bimo dan Ryan. Namun sekarang masih kosong karena Ryan belum bergabung. Selanjutnya ditempati Rendi dan Resti. Ghufa dan Queen menempati barisan ketiga. Posisi keempat ditempati Jenika dan Bi Sri. Dan untuk kursi yang paling belakang khusus untuk cemilan dan minuman.
Jadi tadinya yang pegang kue itu harusnya gw, karena Queen ga berhasil bangunin lo, jadi gw ambil alih. Kalau gw ngikutin cara Queen bangunin lo, hasilnya pun pasti sama. Jadi ya gw pake acara ekstrim. Dan kenapa gw pakai nama Desi, itu karena gw lagi keingat sama Desi Purnaningtyas aja, jelas Ghufa.
Bibir lo? tanya Resti.
Kenapa jadi nanya bibir gw? tanya balik Ghufa.
Kan tadi gw bilang jelasin semuanya, ucap Resti yang tidak mau dibantah.
Gw pulang bareng Queen sama Jenika, dan diantar kak Bimo. Lo bisa tanya mereka, jawab Ghufa melempar umpan ke orang lain. Ia belum siap untuk menjawab pertanyaan Resti seputar dirinya.
Betul kak, tanya Resti mencari kebenaran.
Ya, dan saat kecelakaan mereka ada didalam mobil, jawab Bimo tanda mau menoleh apalagi menatap adiknya.
Kamera video sudah dipasang Bimo ditempat layar tv yang ada didalam mobil. Karena tidak mungkin ia harus stand by terus untuk mendapatkan momen-momen yang berharga. Sehingga saat menyewa, Bimo sudah meminta bahwa ia akan meletakkan kamera video ditempat tersebut. Sehingga mereka sudah menyiapkan alat-alat menunjang untuk memenuhi permintaan Bimo.
Serius? kalian ga papa? ucap Resti meraba raba tubuh Ghufa, memastikan tidak ada yang terluka. Ia juga menoleh kebelakang, tempat Queen dan Jenika duduk.
Kita ga papa Res, liat kan gw masih ada di depan lo? dan yang lain juga lagi asyik makan noh dibelakang, jawab Ghufa menunjuk Queen dan Jenika. Mereka lebih memilih sibuk dengan makanan untuk mengurangi ketegangan.
Syukur alhamdulillah kalau begitu, ucap Resti lega. Kak, kok kakak bisa-bisanya ga fokus nyetir sampai bisa ngerem mendadak gitu. Untung aja ga ada yang terluka. Kalau sebaliknya gimana? ujar Resti marah terhadap kakaknya.
Res, ga usah diperpanjang, ucap Ghufa mencegah pertikaian kakak beradik agar tidak lebih jauh. Namanya juga kecelakaan, mana ada yang mau, lanjutnya.
Ini bukan sekedar kecelakaan tapi keteledoran. Luka dibibir lo gegara kepentok dashboard kan? semua omongan dirumah lo bohong semua kan? badan lo yang gemetaran nadi lo yang ga normal itu semua karena lo ketakutan kan? jawab Fa, tanya Resti yang membuat Ghufa terdiam.
Ia tak mau kak Bimo sampai tahu efek perbuatannnya atas dirinya. Namun sekarang Resti malah memberi tahu semuanya.
Entah sejak kapan, kak Bimo sekarang sudah ada didepannya. Berlutut dihadapannya.
Apa benar yang diucapkan Resti Fa, tanya Bimo khawatir.
__ADS_1
Ghufa merasa terpojok dengan pertanyaan Bimo, ia tak mau Resti mengetahui masalah itu. Tapi sikap kak Bimo sekarang akan membuat Resti berpikir ada kejadian lain.
Karena tak ada ide untuk menghentikan kak Bimo. Ghufa dengan terpaksa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan.
Ghufa akan menghargai kakak, jika kakak menepati ucapan kakak semalam, jawab Ghufa tanpa memandang Bimo.
Sikap dan ucapan Ghufa membuat hati Bimo hancur. Namun dengan mudah ia langsung menguasai emosinya.
Baik, jawabnya yang langsung kembali ke tempat duduknya.
Semakin ruyam aja masalah lo bim, batin Rendi iba kepada Bimo.
Resti mencurigai ada sesuatu antara Ghufa dan kakaknya. Ia harus menyelidiki apa yang terjadi. Ia tadi sempat melirik ke arah Queen dan Jenika yang mukanya tampak pucat saat kakaknya mendekati Ghufa. Mereka berdualah kuncinya, batin Resti.
Ia menahan hasrat keinginan tahuannya. Ia paham masalah yang terjadi lebih rumit dari perkiraannya. Dan semua akan menutup rapat mulut mereka. Dibanding merusak acara yang sudah dipersiapkan untuknya. Ia akan mengalah sembari mencari celah.
Fa, sori klo pertanyaan gw bikin lo ga nyaman, gw cuma khawatir sama lo, ucap Resti mencairkan suasana yang sudah kaku sejak tadi.
Good girl, batin Rendi bangga kepada kekasihnya.
Ghufa memberikan senyumannya kepada Resti, thanks Res, you are the best, jawab Ghufa yang memberikan jempolnya.
Ghufa pun berdiri untuk kembali ke tempat duduknya semula.
Queen memberikan cemilan kepada Ghufa sembari memberi kode. AMAN.
not forever, just for now, ucap Ghufa.
Maaf beib, jawab Resti dengan senyum kudanya.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam parkiran tempat makan. Loh kita kan baru sarapan, kenapa kita berhenti di restoran cepat saji? tanya Resti heran. Guys, kenapa kalian pada dandan semua. Kita kan cuma turun di Restoran bukan mau nonton konser, tambah Resti yang heran melihat ketiga sahabatnya tampil dengan make up. Walaupun minimalis namun memancarkan aura kecantikan mereka. Mereka juga kompakan dalam hal berbusana, seperti acara yang mewajibkan menggunakan dress code pada undangannya.
Kaos putih polos yang dipadukan dengan blazer panjang dan celana skinny jeans panjang. Tak lupa sepatu sneakers dan aksesoris kalung panjang yang menghiasi leher mereka. Tas selembang kecil untuk meletakkan handphone dan dompet juga sudah bertengger di bahu mereka. Walaupun beda model dan warna namun tema mereka sama. Dan ia baru menyadarinya sekarang.
Kalian, kenapa ga bilang mau kompakan. Gw kan jadi beda sendiri, ujar Resti mulai ngambek.
Tutup mata lo dulu, perintah Ghufa yang menutup mata Resti menggunakan sapu tangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Apa apaan nih, protes Resti.
Kejutan selanjutnya dong, jawab Queen dan Jenika bersamaan.
Yuk turun, ajak Rendi.
Gimana aku bisa turun kalau mata aku ditutup begini, ujar Resti meminta pembelaan dari kekasihnya.
Gw tuntun, lo tenang aja. Jangan banyak protes, jawab Ghufa.
Gimana Yan, beres? tanya Rendi kepada Ryan yang sudah menanti kedatangan mereka.
Bukannya menjawab, Ryan malah terpaku dengan sosok yang baru saja turun dari mobil.
__ADS_1
Ghufa menuntun Resti turun dari mobil agar tidak terjatuh, ia langsung mendekat kearah Rendi dan Ryan. Ia tak melihat kak Bimo disana.
Fa, bibir kamu kenapa? tanya Ryan setelah Ghufa sampai.
Kenapa malah tanya bibir bukannya potongan rambut baru aku? protes Ghufa. Kenapa dia malah fokus ke bibir sih, batin Ghufa kesal.
Rambut kamu mau diapain aja juga keliatan cantik. Bibir kamu kenapa? ulang Ryan.
Kecelakaan, jawab Ghufa singkat.
Kecelakaan? tanya Ryan yang langsung mendekat dan menyentuh tepat dilukanya.
Jangan pegang-pegang tangan kamu kotor, tolak Ghufa menghindar.
Yan, gimana? tanya Rendi yang memotong pembicaraan Ryan dan Ghufa.
Eh, sorry Ren, semua beres, tuh mobilnya tunjuknya pada mobil mikrolet yang mereka sewa juga.
Selamet selamet, batin Ghufa senang.
Yaudah kita kesana ya, pamit Ghufa. Gw aja yang nuntun Resti, ujar Jenika yang mengambil alih tugas Ghufa. Queen pun langsung mengapit lengan Ghufa dan berjalan terlebih dahulu agar Resti tidak mendengar pembicaraanya.
Gw pikir liburan kita, cuma bikin masalah lo tambah runyam, bisik Queen ditelinga Ghufa. Lo tahu kan sejak lo turun dari mobil, tatapan mata Ryan hanya tertuju ke lo seorang. Gw mungkin bisa bantu kalau soal Resti. Tapi kalau Ryan, lo harus selesaiin sendiri.
Hufht, gw jadi ga semangat buat liburan, ujar Ghufa yang memikirkan apa yang akan dilaluinya nanti.
Itu dipikirin nanti aja, sekarang waktunya kita senang-senang mengungkapkan isi hati. Lo nanti bisa request nyanyi lagu yang pas sama suasana hati lo, ujar Queen memberi semangat.
Mereka masuk ke dalam mobil mikrolet yang didalamnya sudah duduk seorang penyanyi terkenal.
Mereka hanya memberi isyarat dengan tangan sebagai perkenalan karena jika bersuara akan mengacaukan rencana.
Kenapa kita naik angkot sih, kalian ngerjain gw ya? kejutan apaan coba? protes Resti yang tidak mengetahui jika idolanya ada didalam angkot tersebut.
Bisa masuk angin gw klo sampai Sumur kita naik beginian, ujar Resti yang masih memprotes keadaan yang dialaminya.
Bawel banget lo, ujar Queen.
Kalian siap? tanya Rendi ketika mereka semua sudah masuk angkot. Have fun beib, ucap Rendi mengecup dahi Resti sebelum kembali ke mobil elf.
Jadi kita doang yang naik angkot? sedangkan para cowok naik mobil elf? Apa apan ini, mau sampai kapan mata gw ditutup, tanya Resti yang mulai tampak kesal.
Suara dentingan gitar mengiringi perjalan mereka.
Eh ada orang lain lagi selain kita? husss, Ghufa meletakkan jarinya dibibir Resti agar diam. Nikmatin aja, nanti juga lo bakal tahu, bisiknya.
"Aku hanyalah manusia biasa"
OMG, Resti langsung membuka penutup matanya saat mendengar bait pertama lagu yang dinyanyikan Judika.
OMG OMG OMG
__ADS_1