Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Rambut Sebahu


__ADS_3

"Gw taruhan klo gw selingkuh Ghufa bakal nyium kakak gw" ucap Resti yang mendapat tatapan tak percaya kedua sahabatnya.


"Lo bedua bener bener ga waras" ucap Jenika yang mengeleng-gelengkan kepalanya, pusing sendiri menghadapi kelakuan kedua sahabatnya yang diluar normal.


"Bandel-bandel sedikit saat remaja wajar kali Jen, asal jangan keterusan" ucap Ghufa membela diri.


"Bukan bandel namanya kalau mempermainkan perasaan orang tapi PHP(Pemberi Harapan Palsu)."


"Iya juga ya" ucap Ghufa baru sadar.


"Jadi selama ini gw ngegantungin perasaan Dhika sama Ryan ya?"


"Klo diibaratkan, siapa yang lebih lo suka, kayak nanya telor sama ayam duluan mana" ujar Queen yang sudah lelah dengan drama percintaan Ghufa.


"Res, berhubung taruhan kita batal, jangan lupa sama hukuman sang pembual ya!" ucap Ghufa mengingatkan Resti akan konsekuensi pembatalan taruhan yang siang tadi sudah disepakati.


Resti hanya bisa menghela nafas pasrah, berani menantang berarti harus siap menerima hukuman jika ditengah jalan, sang menantang membatalkan tantangannya. Hukuman ini mereka ciptakan sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas perkataan yang sudah berani diucapkan namun berubah menjadi pengecut saat diminta melakukan tindakan. Awal mula mereka sering melakukan acara tantang-menantang adalah untuk menambah rasa percaya diri dan menyakinkan mereka bahwa sebenarnya kita mampu untuk melakukan banyak hal namun karena rasa takut akan kegagalan yang menyebabkan potensi yang ada menjadi pasif.


Yang awalnya digunakan untuk hal-hal positif seperti, siapa diantara kita yang punya peringkat lebih tinggi, maka ia berhak menjadi ratu seminggu penuh dan mempunyai wewenang memerintahkan yang kalah untuk melakukan sesuatu hal sesuai permintaan sang pemenang, pernah juga bagus-bagusan nilai tugas sampai urusan diluar sekolah seperti siapa rambutnya yang paling sehat, berat badan yang paling ideal, masakan yang paling enak. Namun seiring berjalannya waktu kegiatan itu berubah menjadi sebuah permainan tanpa batas. Walaupun saat naik ke kelas XI, mereka berbeda kelas, namun karena kegiatan tersebut persahabatan mereka semakin erat.


"Hukuman apa yang lo pengen Fa" tanya Resti dengan perasaan cemas, karena ia tahu pasti Ghufa akan memberikannya tantangan yang sulit.


"Lo ga bosen sama rambut panjang Res?" ucap Ghufa yang membuat wajah Resti seketika memucat. "Jangan bilang lo nyuruh gw potong rambut?" kata Resti yang otomatis langsung memegang rambut panjang indahnya. "Gak, jangan itu, please Fa" renggek Resti memohon. Sedangkan yang lain merasa iba dengan Resti, mereka tahu bahwa Resti sangat menyukai rambut panjangnya.


"Res, gw minta lo ngelakuin itu juga karena ada maksud lain."


"Maksudnya?"


"Rendi salah satu alasan kenapa lo ga pernah potong pendek kan?" tanya Ghufa yang mendapat anggukan mantap Resti. Berharap Ghufa membatalkan permintaannya karena Rendi.


"Kenapa ga kita uji aja dia, klo dia cinta sama lo, walaupun lo berubah secara fisik kesesuatu yang dia ga suka, dia akan tetep cinta dong. Iya kan? Lagian gw juga ga jahat-jahat amat nyuruh lo buat bondol, gw cuma pengen lo potong sebahu, kayak Nabila Syakieb, Dian Sastro atau Yoona SNSD, mereka tetep terlihat cantikkan dengan potongan rambut sebahu. Lagi pula klo aslinya cantik diapain aja juga tetep cantik. Dan yang penting, dia belum jadi suami lo, jadi dia belum berhak ngatur-ngatur lo. Understand?" ucap Ghufa dengan intonasi mantap.


"Bener juga ide Ghufa Res, klo dia marah karena perubahan penampilan lo atau karena lo potong rambut ga seizin dia, gw dukung keputusan lo buat mutusin dia" ucap Queen mendukung keputusan Ghufa.


"Gimana klo kita semua potong rambut sebahu?" ucap Jenika memberikan saran. Perkataan Ghufa mengenai rambut memberinya ide untuk kompakkan model rambut.

__ADS_1


"Iya, bener-bener, kita kan ga pernah kompakan rambut pendek" ucap Resti antusias.


"Ini sebenarnya yang dapat hukuman Resti apa gw ya?" ucap Queen keberatan akan ide Jenika.


"Gimana menurut lo Fa?" tanya Jenika meminta izin, karena ide rambut sebahu adalah hukuman untuk Resti dari kesepakatan mereka bedua.


"Gw sih ga masalah harus potong rambut model apa, yang jadi masalah kan Resti sama Queen, rambut panjang kan icon mereka."


"Klo Resti harusnya ga jadi masalah, karena dia wajib mematuhi aturan" ucap Jenika dengan lirikan ke Queen, berharap ia setuju dengan ajakannya.


"Kasih waktu gw buat mikir" ucap Queen meminta waktu.


"Queen, kita ga maksa kok, jangan jadi beban klo emang lo ga setuju.Dan untuk menghadapi try out terakhir yang paling menyebalkan besok mending gw lanjut baca komik ya guys" ucap Ghufa mengakhiri pembicaraan mengenai rambut sekaligus mengingatkan ketiga sahabatnya bahwa besok masih ada try out terakhir. Sebelum liburan dimulai.


"Katanya yang paling nyebelin, kenapa malah baca komik bukannya buku pelajaran?" tanya Queen yang heran dengan aktifitas yang Ghufa lakukan.


"Ya karena nyebelin jadi gw malas baca bukunya" jawab Ghufa enteng.


"Terserah lo aja deh Fa."


"Nasib seorang jomblo tak ada yang menjemput" ucap Ghufa iri dengan keadaan Queen dan Resti.


"Salah sendiri kelamaan mikir maunya sama siapa" ucap Queen yang mengambil tas ransel berwarna unggu di bawah ranjang. "Nanti gw wa keputusan gw biar sebelum liburan lusa kita bisa kompakkan apa enggak" imbuhnya sembari pamit dan cupika cupiki.


"Lo mau bareng ga Fa?" ajak Resti menawarkan tumbangan.


"Mau dong" jawab Ghufa yang masih merapikan rambut gelombangnya yang berantakan akibat tiduran.


"Kita pamit ya Jen, terima kasih suguhannya, salam buat Bunda" ucap Ghufa.


"Kalian hati-hati ya, kasih kabar klo sudah sampe rumah" ucap Jenika saat mengantar mereka sampai depan rumah.


***


Di taman belakang rumah Queen, Kevin sedang mengupas dan memotong kecil-kecil buah kiwi, pir dan apel sembari menunggu Queen yang sedang membersihkan diri. Ia diminta untuk menunggu karena ada sesuatu yang ingin dibahas. Makan buah menjelang malam adalah kebiasaan Queen untuk menjaga berat badan dan kelembutan kulitnya.

__ADS_1


"Maaf lama nunggu" ucap Queen yang baru datang, dengan rambut yang masih setengah basah, polesan bedak tipis dan lip gloss berwarna peach yang memberikan efek shiny dipadukan dengan baju yang pas body dan celana kulot pendek menambah penampilan Queen telihat seksi.


Kevin tersenyum cerah menyambut kedatangan ratu hatinya. Sinar matahari senja menambah indahnya siluet kekasihnya tersebut. "Ga papa klo hasil nunggu 20 menit bisa lihat bidadari secantik kamu."


"Ga usah ngegombal" ucap Queen yang duduk disamping Kevin. Ia menyandarkan kepalanya dibahu Kevin. "Beib, lusa kamu ada acara?" tanya Queen sembari memijat lembut telapak tangan Kevin.


"Ada apa?"


"Jawab dulu pertanyaan aku" ucap Queen menghentikan aktifitasnya.


"Kenapa berhenti?"


"Ya dijawab dulu dong beib."


"Aku mau ke Bromo sama anak-anak."


"Ohh, kenapa kamu ga cerita mau kesana?" ucap Queen kecewa.


"Ini juga dadakan, jumat libur dan senin Pak Bram ada cuti, jadi anak-anak ngerencanain pergi kesana."


"Senin kan mata kuliah kamu banyak" protes Queen yang tidak terima alasan Kevin.


"Yang lain kan mata kuliah pilihan sayang, jadi sesekali bolos ga masalah" ucap Kevin sembari menowel hidung bangir milik Queen.


"Aku udah lama ga manjat gunung, kamu ga keberatankan sayang?" tanya Kevin dengan sorot mata lembut penuh cinta yang selalu berhasil meluluhkan hati Queen.


"Terserah kamu aja" jawab Queen kesal karena selalu luluh dengan sorot mata kekasihnya itu. Ia pun mengubah gaya duduknya menjadi sila, membuat sedikit jarak dengan Kevin. Kevin tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.


"Kamu imut banget sih klo lagi ngambek" goda Kevin sembari menyuapi buah yang sudah dipotongnya ke mulut Queen.


"Jadi tadi kamu mau cerita apa?" tanya Kevin yang masih melanjutkan suapannya.


"Tadinya aku mau ngajak kamu ke acara Resti di Pulau Umang" jawab Queen masih dengan nada kecewa.


"Maaf ya sayang" ucap Kevin sembari membetulkan gaya duduk Queen, sentuhan Kevin membuat Queen tersentak dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Kevin meraih kepala Queen agar menghadapnya, sinar sang surya yang mulai menghilang mengiringi ciuman sepasang kekasih yang melakukannya dengan cara berbeda, Queen dengan gemasnya mengigit -gigit bibir Kevin sebagai ungkapan kekesalannya dan dibalas oleh Kevin dengan lembut dan menuntut. Tautan tautan yang dalam membuat Queen akhirnya lemas dan membuat Kevin menguasai permainan. Dering ponsel menghentikan kegiatan dua sejoli yang masih diburu hawa nafsu, Kevin yang belum puas masih melanjutkan aktifitasnya dengan kecupan lembut dileher jenjang Queen. Sementara Queen meraih ponselnya untuk mencari tahu siapa pengganggu yang sudah mengganggu kegiatannya, ia terpekik kaget saat membaca pesan di ponselnya.

__ADS_1


Ghufa : "Biasa aja dong ciumannya."


__ADS_2