Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Sahabat


__ADS_3

Big big big big big, terdengar suara handphone berbunyi penanda ada pesan masuk, "rame banget" gumam Ghufa yang masih asik dengan novelnya.Ia membuka pesan tersebut yang ternyata dari Group Rempong (You, Queen, Resti dan Jenika)


queen


"guys...


jangan lupa besok kita ke car free day


kita kumpul di bunderan HI


jam 7 teng yaaaa


ga pake lebih


awas aja klo sampai telat😡😡"


resti


"jemput gw donk😁😘😘"


queen


"dihhhhh, ogah banget gw


🤣🤣🤣😛


naik transjakarta atau ojol aja lo"


jenika


"yang telat traktir bakso mang joni yahhh"


you


"deal"


resti


"wah, kalian sungguh terlalu😭"


***


"Kebiasaan banget sih Resti, selalu telat klo janjian" gerutu Queen sambil mengunyah cemilannya.


"Kayak baru kenal dia aja sih lo Queen" ujar Ghufa mengingatkan kelakuan Resti.


"Kenapa lo ga nyamperin dia aja sih Fa, kan lo satu komplek".


"Ogah, yang ada pas gw udah sampai di rumahnya dianya baru bangun tidur lagi. Males banget nungguin dia sendirian, mending bareng kalian kan" jawab Ghufa menjelaskan.


"Kan ada kak Bimo yang ganteng, kalian dulu sempat dekat kan?" ujar Queen. "Karena sempat deket itu, klo cuma bedua jadi canggung dan bingung sendiri. Mending cari aman."


Tak lama kemudian sosok yang dinanti terlihat semakin mendekat,


"guys, sorry gw telat" ucap Resti yang masih ngos-ngosan karena berlari.

__ADS_1


"Jam weker lo bunyi ga sih Res, terus kenapa gw telpon ga diangkat-angkat? kebiasaan nih pasti di silent" cerocos Queen yang langsung tancap gas karena sudah menunggu selama 30 menit lebih.


"Udah-udah Queen, kasian Resti baru sampai udah disemprot" ucap Jenika menengahi, "yang penting sekarang Resti udah sampai" imbuhnya.


"Res, minum dulu nih" ucap Ghufa menawarkan air mineral.


"Thanks" jawab Resti yang langsung meneguk minumannya sampai tandas.


"Seger, Alhamdulillah."


"Gw selonjorin kaki dulu ya, pegel. Kalian udah selesai sarapannya?" tanya Resti. Ia memijat-mijat kakinya sendiri untuk mengurangi rasa pegal.


"Ya udahlah, kan kita nungguin lo udah sangat-sangat lama" kata Queen mendramatisir keadaan.


"Lo sendiri udah sarapan?" tanya Jenika.


"Udah makan roti tadi waktu di jalan". "Gak mau makan yang lain dulu. Roti mana kenyang" imbuh Jenika. Resti hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban atas tawaran Jenika.


"Mata lo kenapa bengkak gitu?" tanya Ghufa yang mengamati wajah Resti. Ia kini duduk disamping Resti. "Jangan bilang berantem sama Rendi lagi" tanya Queen yang ikut mendekati Resti.


"Siapa lagi coba yang bisa bikin Resti nangis klo bukan Rendi" jawab Jenika mewakili Resti.


"Gw heran banget sama kelakuan Rendi, emang kita bakal ngejerumusin temen sendiri apa? ga suka banget klo Resti jalan sama kita" omel Queen dengan semangat 45.


"Dia hanya terlalu posesif aja" jawab Resti membela kekasihnya.


"Susah emang klo punya pacar cantik, pinter, baik hati, setia, suka menabung, suka makan tapi ga gemuk-gemuk" ucap Ghufa diikuti gelak tawa semua. Resti hanya bisa manyun karena diledek mereka.


"Gak perlu sebut namanya dipagi yang cerah ini. Cuma bikin sakit perut aja" ucap Resti yang ingin melupakan sejenak nama kekasihnya tersebut.


"Emang, namanya juga lagi kesel". "Dasar lo" ujar Ghufa.


"Oke Resti. Lupakan Rendi, mari kita happy" ujar Resti menyemangati dirinya sendiri.


"Nah gitu dong, itu baru namanya Aulia Resti Anggraini" ucap Queen senang dengan semangat yang dimiliki Resti.


"Tadi bilang jangan sebut-sebut namanya, malah dia sendiri yang ngelanggar. Dasar labil" ujar Jenika mengomentari Resti.


"Namanya juga perasaan, susah diaturnya Jen. Btw, gw pengen makan seblak ceker yang pedesnya pake banget deh" ucap Resti.


"No No No" jawab Ghufa, Jenika dan Queen berbarengan.


"Kompak banget sih lo pada" jawab Resti kesal.


"Ga usah ngambek, mending kita mulai larinya. Ga jalan-jalan kita kalau cerita mulu" ajak Ghufa kepada yang lain.


Ya udah yuk guys, gimana kalau kita lomba lari sampe Monas" ajak Queen yang sudah beranjak dari duduknya. Ia sudah berada di tengah jalan area car free day. Yang lain pun ikut menyusul.


Queen memimpin untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dimulai dari melenturkan otot-otot pada bagian kepala sampai pada kaki ia peragakan. Setelah selesai ia menunggu yang lainnya siap sebelum memulai start.


"Let's go ladies" teriak Queen menandakan kegiatan lari siap dilakukan.


***


Mereka masih istirahat, duduk-duduk diatas rerumputan sambil meneguk air mineral.

__ADS_1


"Lo kok bisa betah sih Res sama Rendi?" tanya Ghufa sembari senderan dibawah pohon. Rindangnya pohon menutupi teriknya sinar matahari yang sudah bersinar dengan sempurna. Angin yang dihasilkannya pun membawa hawa sejuk saat menerpa mereka. Seperti obat yang dapat menyembuhkan kelelahan yang mendera.


"Gw juga ga tau Fa, mungkin karena udah terbiasa kali ya! ibarat pepatah bisa karena terbiasa" jawab Resti.


"Terbiasa kok dengan sebuah kekangan, ga ada yang lebih enak?" tanya Ghufa.


"Kalau mau enak ya dicampur sama yang manis-manis" jawab Resti asal.


Ghufa hanya melengos mendengar jawabn Resti. "Tapi mungkin juga dia takut Fa, klo terjadi sesuatu sama gw, dia selalu berpikir klo ga ada dia, dia jadi ga bisa jagain gw, dia hanya ingin memastikan gw selalu aman. Kadang gw juga suka muak sama sikap nya dia sih! tapi ya gw belajar untuk memahami kekhawatiran dia" jelas Resti.


"Kelebayan dia tuh!"


"Tapi bisa juga dia takut gw ketularan sifat lo yang gampang naksir cowok."


"Enak aja lo klo ngomong, itu masa lalu Res. Dalam setahun ini gw cuma deket sama kakak lo, yang entah kenapa tiba-tiba jaga jarak gitu. Kalau sama Dhika gw cuma bisa naksir diam-diam" terang Ghufa yang menolak pernyataan terakhir Resti.


"Makanya klo suka diungkapin, jangan dipendam, bejamur kalo kelamaan" jawab Resti.


"Lo kan tau Res, gw pernah ngungkapin perasaan gw. Tapi apa hasilnya? dia nganggep gw adiknya. hahaha" tawa Ghufa penuh kesedihan.


"Lo beruntung tahu Res, dicintai sampai segitunya, apalah gw yang ga tau rasanya dicintai sama orang yang kita cintai" kata Ghufa yang mengingat peristiwa yang membuat ia mengalami sedikit perubahan.


"Ya, siapa tau Dhika beda Fa, kita ga akan tahu klo belum pernah mencoba kan!" ujar Resti memberi semangat.


"Ga tau gw Res, gw takut" jawab Ghufa.


"Lo kan udah enam bulanan suka ma dia, ya gw sih feeling klo dia itu sebenernya udah tau klo lo suka ma dia, tinggal tunggu waktu aja, nanti juga dia mendekat" terang Resti memulai analisanya.


Ucapan mereka terhenti karena kedatangan Jenika dan Queen yang baru saja selesai bermain sepeda.


"Jadi makan seblak ga lo Res?" tanya Jenika sambil mengambil air mineral dari tangan Resti.


"Jadi donk, gw yang traktir. Bakso mang Joninya kapan-kapan aja yaa, klo gw telat lagi. Hahaha" tawa Resti yang mendapat toyolan dari mereka semua.


"Kalian tuh selalu kompak tahu ga sih klo soal pembullyan."


"Kayak lo ga demen ngebully aja" ucap Ghufa membela diri.


Matahari yang sudah mulai membumbung tinggi, membuat mereka segera meninggalkan monas dan menuju tempat pengisian perut. Sesuai keinginan Resti yang ingin makan seblak, mereka pergi ke arah Tanjung duren yang terkenal dengan rasa seplak yang mantap.


Sekarang mereka sedang menunggu pesanan seblak ceker dengan level berbeda-beda. "Ga takut sakit perut lo mesen level 5?" tanya Ghufa.


"Dibilang gw lagi pengen yang pedes-pedes" jawab Resti yang sudah tidak sabar menyantap pesanannya.


"Kayak orang yang lagi ngidam aja lo" celetuk Queen.


"Mungkin gini kali ya perasaan orang yang lagi ngidam, perasaan pengen makan sesuatu itu kuat banget" terang Resti mengambarkan apa yang ia rasakan.


"Sok tau lo, ngidam aja belom pernah, tahu dari mana coba" ucap Ghufa bergantian menyerang Resti.


"Kan gw bilang mungkin" jawab Resti membela diri.


Tak lama, pesanan mereka pun datang.


Mereka segera menyantap pesanan masing-masing dengan lahapnya.

__ADS_1


__ADS_2