
buhaahahahahaa, kenapa kalian jadi kaku gitu? takut ya sama kakak.
Kakak ngerjain kita, tanya Ghufa yang masih syok. Rasa takut masih menderanya akibat bentakan tadi.
Iya, hahahaha, ga boleh? muka kalian tadi lucu banget. Sumpah, kocak pokoknya, ucap Bimo yang berusaha menahan tawanya namun tidak berhasil.
Kakak nyebelin banget sih, kirain kita tuh kakak marah beneran tahu, ucap Ghufa sembari memukul-mukul bahu kak Bimo. Bimo pun menangkap tangan Ghufa ketika mobil yang dikendarainya berhenti di lampu merah.
Fa, sakit, ucapnya lembut namun dengan sorot mata yang dalam. Tatapan yang mampu membuat siapa pun terperosok sampai kedasar laut yang terdalam.
Kak, ucap Ghufa dengan suara lirih tanpa melepaskan pandangannya
hmm
Sakit
Bimo pun tersadar dengan tindakannya, ia pun segera melepaskan cengkraman tangannya dan langsung mengalihkan pandangan.
Maaf
Sangat terlihat sekali kecanggungan yang terjadi diantara mereka bedua.
Iya gapapa kak, ucap Ghufa sembari mengelus tangannya yang tadi dicengkram. Kuat banget cengkramannya, batin gw.
Queen dan Jenika yang duduk di bangku belakang hanya menonton dalam diam. Ekspresi wajah Jenika terlihat datar namun aura kekecewaan dan kekaguman timbul silih berganti. Kecewa karena bukan dirinya yang mendapat perhatian Bimo dan kagum karena sifatnya yang penuh perhatian.
Kalian sudah siap dengan rencana selanjutnya? tanya Bimo memecahkan kesunyian yang terjadi.
Rencana selanjutnya kan gampang kak. Ghufa cuma harus pura-pura tidur. Kita lihat sampai mana reaksi Resti nantinya, dia akan ngebangunin Ghufa atau membiarkan Ghufa tidur.
Klo Resti ngebiarin kamu tidur, berarti rencana kita sukses, tapi klo dia sampai ngebangunin kamu gimana? apa kamu sudah mempersiapkannya?
Resti ga bakal mampu ngebangunin Ghufa kak, jawab Ghufa penuh keyakinan.
Kenapa kamu bisa seyakin itu? tanya Bimo yang meragukan keyakinan Ghufa.
Kak Bimo kan pernah nyoba bangunin Ghufa, tapi gagal kan?
Kapan kaka bangunin kamu tidur?
Yang waktu Ghufa nyium kak Bimo karena Ghufa pikir itu Dhika sama Ryan kan, jawab Ghufa keceplosan.
Cittttttttttttt. Brakk. Arghhhhh. Mobil Bimo ditabrak oleh mobil dibelakangnya. Ia tiba-tiba ngerem mendadak setelah mendengar jawaban Ghufa.
Kalian ga papa, tanya Bimo dengan rasa bersalah. Mati gw, kenapa gw bisa keceplosan. Haduh, bikin masalah aja sih, batin Ghufa merutuki kebodohannya.
Hadeh, Ghufa Ghufa bisa-bisanya bikin masalah disaat yang ga tepat, batin Queen dan Jenika mengomentari perbuatan Ghufa.
Kalian ga papa? ulang Bimo yang pertanyaannya tidak ada yang menjawab.
Queen ga papa kak, cuma syok dikit aja.
Jenika juga baik-baik aja kok kak, jawab Jenika ketika tatapan mata Bimo mengarah padanya.
Fa
__ADS_1
Ghufa ga kenapa-napa kok kak, jawab Ghufa tanpa melihat Bimo. Fisik gw memang baik-baik saja, tapi mental gw down, batin Ghufa.
Syukur deh kalau gitu, maafin kakak ya.
tok tok tok, terdengar suara pintu kaca yang diketuk. Bimo langsung keluar dari mobilnya untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya. Ia bersama dengan pemilik mobil yang tadi menabrak sedang melihat kondisi mobil mereka. Kesempatan itu dipergunakan mereka bertiga untuk berdiskusi.
Lo gila ya Fa, bisa-bisa keceplosan masalah itu, cerca Queen dengan geregetan.
Gw juga ga tahu bisa ngomongin hal itu. Gw mesti gimana? gw harus ngomong apa? apa yang harus gw lakuin? tanya Ghufa panik, ia sampai gemetaran saking takutnya. Takut menghadapi respon dari kak Bimo.
Gini aja, lo diam aja, jangan ngomong sepatah kata pun. Biarin kak Bimo yang mulai ngomong duluan, ucap Jenika memberikan saran.
Kalau dia juga diam aja gimana? tanya Ghufa yang belum bisa menghilangkan kepanikannya.
Fa, walaupun kak Bimo statusnya korban tapi dia yang menerima keuntungan dari peristiwa itu.
Ya tapi kan sekarang dia jadi tahu klo gw cewek nakal.
Bukannya dia memang tahu, cuma dia pura-pura ga tahu biar lo ga malu, ucap Queen memperjelas.
Iya sih, cuma... cuma... gimana ya... ah ga tahu ah gw. Pusing.
Dia datang dia datang, ucap Queen memberi tahu. Bimo masuk kembali ke mobilnya dan langsung mengendarainya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
***
Sementara di mall Rendi meminta waktu untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum mengantarkan kekasihnya ke rumah Ghufa. Ia sengaja berlama-lama untuk memberikan waktu lebih bagi Bimo dan yang lainnya untuk mempersiapkan aksi selanjutnya.
Kamu lama banget sih di toilet ay (panggilan sayang Resti untuk Rendi, singkatan dari kata ayang), ucap Resti.
Tumben banget, sarapan sama makan siang kamu kan seperti biasa.
Ya mungkin aja pencernaan aku lagi ada masalah.
Kita ke apotik dulu aja berarti, ucap Resti yang dengan sigap langsung menuju gerai kesehatan. Ia memberi beberapa obat dan minuman untuk memperlancar pencernaan.
Nih diminum dulu, ucap Resti menyodorkan minuman pelancar BAB. Rendi langsung meminumnya sampai habis, agar Resti tidak curiga.
Makasih ya beib. Yuk kita pulang.
***
Bimo mengantarkan mereka bertiga ke rumah Ghufa, sesuai rencana Queen dan Jenika akan menginap di rumah Ghufa untuk mempermudah menjalankan rencana mereka. Tentu hal ini tanpa sepengetahuan Resti.
Tidak ada percakapan yang terjadi selama sisa perjalanan tadi. Queen dan Jenika pamit masuk terlebih dahulu ke rumah Ghufa. Mereka memberikan ruang bagi Ghufa dan kak Bimo untuk menyelesaikan masalah mereka.
Setelah kepergian sahabatnya, Ghufa memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
Kak, panggil Ghufa dengan suara yang bergetar. Rasa takut masih menderanya.
Jangan salahin Resti karena udah cerita ke Ghufa masalah waktu itu ya, pinta Ghufa kepada Bimo.
Maafin Ghufa juga karena udah nyium kakak dua kali, ucap Ghufa dengan menundukan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah kak Bimo.
Untuk apa meminta maaf untuk hal yang tidak kamu lakukan, jawab Bimo yang membuat Ghufa bingung.
__ADS_1
Maksud kakak? tanya Ghufa yang tidak mengerti ucapan kak Bimo. Jelas-jelas ia mencium kak Bimo, mengapa malah kak Bimo bilang ia ga nyium dia.
Yang ada dipikiran kamu malam itu adalah Dhika dan Ryan. Ciuman itu untuk mereka.
Ya tapi kan secara fisik kak Bimo yang Ghufa cium.
Itu bukan ciuman, jawab Bimo memberi tahu.
Ya terus namanya apa? tanya Ghufa bingung, ia menatap kak Bimo yang pemikirannya tidak dimengerti Ghufa.
Bimo yang dipandang Ghufa, membuatnya sulit mengontrol dirinya sendiri apalagi yang mereka bahas adalah sesuatu yang diinginkannya.
Ia pun mengecup bibir Ghufa. Ini yang namanya ciuman, ucap Bimo yang masih memandang Ghufa. Ia ingin tahu reaksi Ghufa.
Hah? saking syoknya Ghufa hanya mampu mengatakan "hah" karena dari tadi tubuhnya sudah menunjukankan reaksi ketakukan dan sekarang ditambah keterkejutan membuat tubuhnya tidak bisa digerakan. Seperti reaksi yang dialaminya saat menaiki wahana kora-kora di taman bermain Dunia Fantasi. Saat ini di duduk di kursi paling belakang, hingga membuat tubuhnya tak bisa digerakkan, tangan yang mencekram besi pegangan pun harus dibantu orang lain untuk melepaskannya. Satu persatu jari tangan digenggam oleh Resti pada saat itu, karena jika tidak digenggam, jarinya akan kembali mencengkram besi pegangan secara otomatis, untuk memindahkan tubuh Ghufa pun Resti harus mengangkat kaki Ghufa kiri dan kanan secara bergantian. Dan harus menggendongnya agar dapat turun dari wahana. Setelah lima menit, baru tubuh Ghufa normal kembali. Ia sampai bingung dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba kaku akibat rasa takut dan guncangan jantung yang dialaminya. Sejak peristiwa itu, ia tidak berani lagi menaiki wahana tersebut.
Kenapa kakak nyium Ghufa? kakak membuat Ghufa seperti cewek nakal yang mudah dicium siapa saja.
Bukannya meminta maaf, Bimo malah mengulangi perbuatannya, bukan hanya sekedar kecupan seperti yang pertama, ia benar-benar melahap seperti orang yang hilang kendali. Karena tidak ada penolakan dari Ghufa ia semakin merajalela untuk menjelajahi setiap rongga didalamnya walaupun tanpa balasan dari Ghufa.
Gila kak Bimo, apa perlu kita samperin? tanya Queen meminta pendapat Jenika. Mereka penasaran dengan cara Ghufa dan kak Bimo menyelesaikan masalah. Hingga mereka menunggu Ghufa di dalam pagar dan mengintip apa yang terjadi. Queen pun merekam adegan saat Kak Bimo mencium Ghufa secara tidak sengaja. Ia awalnya ingin mendokumentasikan momen canggung mereka berdua. Siapa sangka mereka mendapat video yang mencengangkan.
Ga usah disamperin, Ghufanya juga ga nolak dicium kak Bimo, ucap Jenika. Yuk kita tunggu didalam. Ga bagus nyintip privasi orang lain, ajak Jenika yang dituruti Queen.
Bimo baru melepas ciumannya setelah menyadari tubuh Ghufa bergetar hebat.
Kak, ucap Ghufa dengan air mata yang mengalir, Ghu Ghufa ga bisa bergerak, ucap Ghufa dengan suara bergetar.
Astaga, apa yang udah kakak lakuin ke kamu, kata Bimo panik ketika melihat kondisi Ghufa. Kita ke dokter.
Jangan, ga perlu kak, Ghufa pernah ngalamin kayak gini sebelumnya.
Iya tapi kita harus ke dokter. Ga perlu kak, tunggu lima menit, nanti akan normal kembali.
Fa, kak Bimo minta maaf, ga seharusnya kak Bimo ngelakuin hal itu. Kamu beneran ga papa? tanya Bimo yang masih mengkhawatirkan kondisi Ghufa.
Ga papa, Ghufa kayak gini klo lagi ketakutan sama jantung Ghufa kena goncangan yang Ghufa ga kuat aja.
Jawaban Ghufa membuat Bimo semakin merasa bersalah. Ghufa pun menyadarinya, ia lalu menenangkan Bimo dengan cara unik.
Kakak jangan merasa bersalah gitu. Bukan kakak aja yang salah disini. Ghufa juga salah. Ghufa yang mancing kakak untuk berbuat demikian. Ghufa berubah jadi cewek nakal sedangkan Kakak berubah jadi cowok sadis.
Jadi kita punya julukan baru?
Bukan julukan untuk umum, hanya untuk kita bedua saja.
Fa. Ya. Maafin kakak ya.
Kakak bandel ya, harus berapa kali kakak bilang maaf ke Ghufa? Kita anggap aja imbas. Jadi kita bedua ga ada lagi perasaan bersalah dikemudian hari.
Kamu ga marahkan sama kakak?
Ya marahlah
Kamu ga akan ngejauhin kakak kan?
__ADS_1
Tergantung kelakuan kakak.