Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Kejutan yang tertunda


__ADS_3

Gw udah hapus videonya, ucap Queen memperlihatkan galery handphonenya.


Thanks Queen, ucap Ghufa.


Sekarang rencana kita apa? Gw yakin Resti ga akan mudah percaya gitu aja klo bibir lo jontor karena jatuh.


Kita harus buat dia percaya. Secara kan kita pulang bareng. Ada yang punya usul? tanya Ghufa kepada kedua sahabatnya.


Gimana klo kita manfaatin momen kecelakaan tadi. Kita bilang karena lo ketakutan tanpa sadar lo gigit bibir lo sendiri. Ditambah lo jatoh, gimana? meyakinkan gak? tanya Jenika


Oke, kita pakai ide itu aja. Maaf ya, gara gara gw rencana kita berantakan, ujar Ghufa merasa bersalah.


Fa, kita ga ada yang nyalahin lo, siapa juga yang bilang rencana kita berantakan. Masih berjalan sesuai rencana, ujar Jenika menenangkan. Sebaiknya kita tidur sekarang, 2 jam lagi kita kan dijemput.


Tapi gw belum ngantuk, gw juga, imbuh Queen. Kita ngobrol-ngobrol aja, tapi jangan lupa jam wekernya disetel biar ga kelabasan kalau kita ketiduran.


***


Sejak jam 11 malam, mereka sudah tiba di rumah Resti. Mereka sedang sibuk menyiapkan surprise tengah malam untuknya. Kue ulang tahunnya pun buatan mama Jenika, dengan bentuk love yang diatasnya dipenuhi buah-buahan yang berasa asam. String spray dan confetti popper pun sudah disiapkan untuk memeriahkan suasana.


Dress putih polos yang dipadukan dengan jubah warna silver akan dipakai Ghufa, Queen dan Jenika serta aksesoris kalung dan tiara kecil untuk melengkapi penampilan agar tampak seperti gaya princes. Sedangkan untuk yang berulang tahun hanya disiapkan jubah berwarna emas dengan mahkota warna senada.


Sebelum berdandan Ghufa pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Disana ada kak Bimo yang sedang membuat kopi.


Ada rasa canggung saat mereka bertemu kembali. Kejadian beberapa jam yang lalu terlintas dipikiran mereka.


Ga salah kak, jam segini minum kopi? Ga takut ga bisa tidur? tanya Ghufa mencairkan suasana yang sudah seperti kuburan. Sunyi, sepi dan mencengkam.


Ini kopi susu Fa, bukan kopi asli, jawab Bimo dengan menyunggingkan bibirnya.


Apa bedanya? sama-sama kopi.


Beda kandungannya. Klo cuma minum kopi susu ga akan buat kita begadang. Kamu mau ambil apa?

__ADS_1


Oh, itu... Ghufa haus, mau minum, jawab Ghufa sedikit terbata.


Mau dibikinin susu coklat? tawar Bimo.


Gak perlu kak, Ghufa mau air putih hangat aja.


Bimo mengambil gelas disampingnya dan hendak menuangkan air hangat namun dicegah Ghufa.


Ghufa sendiri aja kak. Tolak Ghufa yang sudah merebut gelas dari tangan Bimo.


Ia segera mengisi gelasnya dengan air hangat dan langsung meneguknya hinga tandas.


Setelah melihat Ghufa selesai minum, Bimo memanggil Ghufa. Fa.


Ghufa membalikkan badan dan terkejut karena kak Bimo sudah berdiri tepat didepannya.


Kakak ngagetin Ghufa tahu, jawab Ghufa refleks dengan memundurkan tubuhnya selangkah kebelakang.


Kamu takut sama kakak, tanya Bimo saat melihat reaksi Ghufa barusan.


Apa perlu kakak menghilang?


Memangnya klo Ghufa minta seperti itu, kakak bakal serius pergi?


Klo itu buat kamu nyaman. Sebisa mungkin kakak akan menghindari tempat dimana ada kamu disana, ucap Bimo dengan perasaan kecewa yang ditahannya.


Ga harus seperti itu juga kak. Ghufa cuma becanda tadi. Kita ga mungkin bisa saling menghindar, Ghufa kan sahabatnya Resti. Lagi pula siapa yang nanti anterin Resti sekolah klo bukan kakak.


Dia sudah 17 tahun, sudah bisa punya sim dan boleh mengendarai kendaraannya sendiri. Kakak duluan ya, pamit Bimo meninggalkan Ghufa yang masih terpaku ditempatnya.


Apa kak Bimo akan menghindari Ghufa seperti dulu? tanya Ghufa pada dirinya sendiri. Ia selalu merasa sedih jika mengetahui ada orang yang menghindarinya. Ibarat kuman yang harus dihindari. Seperti itulah anggapan ia terhadap dirinya.


Fa.. Fa, panggil Jenika membuyarkan lamunan Ghufa.

__ADS_1


Eh iya Jen, sorry.


Jangan bengong sendirian malam-malam, tar kesampet loh. Lo dari tadi disini? tanya Jenika yang sedari tadi mencari-cari Ghufa.


Iya, gw haus.


Ya sudah yuk, Kita dandan dulu.


Mereka sedang berada di kamar tamu untuk ganti baju dan merias diri. Hanya butuh waktu 10 menit bagi mereka untuk tampil bak princess dalam dunia nyata.


Setelah selesai berdandan mereka langsung bersiap menjalankan tugas masing-masing. Ghufa yang akan memegang kue ulang tahu. Jenika dan Queen masing-masing memegang string spray dan confetti popper, Rendi membawa gitar untung mengiringi alunan lagu ulang tahun yang akan dinyanyikan sedangkan Bimo bertugas sebagai kameramen.


Paper bag yang berisi jubah dan mahkota untuk Resti sudah diletakkan di depan pintu kamarnya.


Bimo mulai merekam aktivitas-aktivitas yang dilakukan sebelum acara surprise. Ia sedikit berlama-lama saat merekam Ghufa yang sedang sibuk menata lilin pada kue ulang tahun Resti. Ia melapisi lilin dengan tusukan agar lilinnya tidak langsung menancap pada kue. Karena merasa ada yang memperhatikan sejak tadi, Ghufa menoleh dan tatapannya menatap tajam pada kamera yang sedang menyorot dirinya. Tak ada senyuman, tak ada kata yang terucap. Hanya pandangan lurus mengarah ke kamera. Entah benar kamera yang dipandangnya atau orang yang sedang mengambil gambar.


"Ceh", katanya mau menghindar. Omongan bullshits, ujar Rendi yang gemas dengan kelakuan calon kakak iparnya. Tadi saat hendak menyusul Bimo di dapur tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia sudah menduga bahwa suatu saat Bimo tidak akan bisa menahan perasaannya.Ia tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang. Ia merasa beruntung karena rasa cintanya terbalaskan, tidak seperti Bimo yang hanya bisa memendamnya selama bertahun-tahun. Luka dibibir Ghufa pun pasti ulah Bimo, tanpa diberi tahu ia sudah bisa menebak, walapun menurut cerita Resti, hal itu karena jatuh. Ia ingat bagaimana Bimo dulu menghajarnya karena sudah berani mencium adiknya. Klo Ryan tahu, pasti bakal jadi tontonan seru, pikirnya.


Jangan Ghufa yang disorot terus dong bro, bisa curiga tar adik lo pas lihat rekamannya, sindir Rendi halus.


Perkataan Rendi membuat Queen dan Jenika mengalihkan perhatiannya kepada Ghufa dan Bimo yang sedang bermain adu tatap.


Tidak ada yang berniat untuk mengakhirinya duluan. Bimo terlanjur kesal karena ucapan Ghufa yang memintanya pergi. Walaupun awalnya ia sendiri yang menawarkan dan Ghufa juga sudah mengklarifikasi jika dia hanya becanda saja. Namun dirinya sudah terlanjur kecewa.


Sedangkan Ghufa menjadi marah karena perkataan kak Bimo yang ingin menghindarinya. Kita lihat saja kak, apa kakak bisa menjauh dari Ghufa. Apa yang sudah Ghufa miliki. Tak kan Ghufa biarkan pergi begitu saja. Biarin aja orang-orang bilang Ghufa egois. Keegoisan diharuskan jika ingin mendapatkan sesuatukan.


Rendi geram sendiri melihat kelakuan Bimo, waktu sudah menunjukan pukul 12 dan mereka masih asyik dengan kegiatan mereka.


Bim, bim, bim, panggil Rendi yang menyadarkan Queen dan Jenika dari keasyikannya melihat tontonan yang mencekam. Mereka langsung menarik Ghufa yang tidak mau meranjak dari tempatnya ketika mereka tersadar.


Fa, inget tujuan kita kesini, ujar Jenika mengingatkan.


Maaf maaf Jen. Yuk, kita mulai.

__ADS_1


Akhirnya setelah terlambat 5 menit. Mereka menuju kamar Resti.


__ADS_2