
Setelah kepergian Ghufa, Resti seperti mendapat guncangan. Dia kenapa ngambek gitu? udah biasakan kita saling meledek. Jangan-jangan ini rencananya buat ngerjain gw? tapi mukanya tadi keliatan banget keselnya, ujar Resti mencoba mencari tahu alasan Ghufa sesungguhnya.
Bisa nerka juga klo bakal dikerjain dia, bahaya nih, bisa gagal rencana kita semua, batin Queen. Ia melirik Jenika untuk angkat bicara karena Resti lebih mempercayai ucapan Jenika ketimbang dirinya.
Mungkin Ghufa lagi PMS Res, dia kan memang sering ngambek ga jelas, ujar Jenika membantah asumsi Resti.
Tapi dia ga mungkin ngebatalin acara kita besok kan? tanya Resti panik, ia tak ingin sikapnya barusan menghancurkan rencana yang ia sudah susun dari jauh hari.
Menurut gw sih dia tetap ikut acara besok, cuma buat mastiin lo telepon atau wa aja, dia kan kadang susah ditebak, ucap Jenika mengarahkan Resti agar masuk perangkap.
Menurut lo gimana Queen? tanya Resti meminta pendapat.
Klo menurut gw sih, lo tadi agak keterlaluan Res, bukan dari bahasa lo yang mengolok dia yah, tapi dari situasi yang dia anggap sebagai momentum dalam hidupnya lo jadiin bahan candaan. Lo tau sendiri gimana galaunya dia kan! ucap Queen layaknya menambahkan bensin dalam kompor.
Iya juga ya, pantesan dia marah banget tadi. Queen dan Jenika saling tatap dengan tatapan kemenangan. Yes, orang pinter gampang juga diboongin, batin Queen senang karena berhasil mengelabui Resti.
Tumben analisa Resti mudah dibobol, gumam Jenika didalam hatinya. Kecerdasan otak akhirnya kalah oleh perasaan yang mengganjal dihati. Itulah kesimpulan Jenika saat ini.
Oiya, Ghufa naik apa ya pulangnya? kata Jenika melanjarkan aksinya kembali.
Resti yang dari tadi memain-mainkan handphonenya karena ragu untuk menghubungi Ghufa. Langsung menelepon Ghufa. Kesempatan itu dipergunakan Queen dan Jenika untuk pamit.
Res, gw balik dulu ya, Kevin dah jemput.
Yaa, oh, yaudah hati-hati ya, jawab Resti yang masih belum fokus, ia kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Lo ga papa sendiri? tanya Queen memastikan tingkat kesadaran Resti.
Gw dijemput Rendi kok, dia udah ada di parkiran. Lo duluan aja. Jen, lo bareng Queen?
Iya, kita kan searah. Sampai ketemu besok ya, pamit Jenika kepada Resti. Jangan lupa minta maaf sama Ghufa, imbuhnya sebelum meninggalkan Resti.
See you tomorrow, pamit Queen sembari cupika-cupiki.
Hati-hati kalian, besok jam 7 udah sampai di rumah gw yah, ucap Resti mengingatkan.
Tenang aja Res, gw ga kayak lo yang tukang ngaret kok, ledek Queen mengingatkan kelakuan Resti. Ia mengacungkan dua jarinya yang membentuk huruf V dan memberikan cengiran lebar.
Mereka segera menuju area parkir dimana kak Bimo dan Ghufa sudah menunggu.
__ADS_1
Setelah kepergian Queen dan Jenika, Resti mengirim pesan kepada Ghufa.
"Fa, tar malam gw kerumah lo ya".
Namun setelah ditunggu 10 menit, tak ada balasan dari Ghufa. Ni orang tumben lama banget balas pesan dari gw, ga mungkin kan dia ketiduran di ... OMG, jangan bilang dia naik ojek online. Resti menelepon Ghufa kembali untuk memastikan keberadaannya.
tut...tut...tut...tut...tut...tut...tut nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Tuh kan ga diangkat. Coba telepon Rendi dulu deh, tut...tut...
ya beb, kata suara diseberang telepon.
kamu dimana?
lagi di eskalator, kenapa beb?
Ya udah buruan, aku tunggu di salon.
Kamu belum selesai?
Aku udah selesai, aku tunggu kamu disini aja.
Oke, tunggu aku, ucap Rendi memutuskan sambungan.
Yang lain mana?
Udah pada pulang semua.
Kamu kenapa? kok panik gitu sih mukanya. Ohhh, aku kepikiran sama Ghufa, tadi ada sedikit salah paham, dia marah trus cabut gitu aja. Aku baru ingat, aku ga tahu dia pulang naik apa? aku udah beberapa kali hubungin dia tapi ga ada respon.
Mungkin aja dia naik ojek online, jadi wajar dia ga jawab telepon kamu.
Iya sih, tadi juga sempat kepikiran gitu, cuma gimana yaa, aku ga tenang aja klo belum dengar kabarnya. Kamu tahu kan, Ghufa tuh gampang banget ngantuk. Apalagi kita habis keliling mall, aku takut klo dia naik motor nanti dia ketiduran. Kan bahaya, ucap Resti yang mengkhawatirkan sahabatnya, ia tahu persis kebiasaan Ghufa yang sering tertidur di kendaraan, baik roda dua ataupun empat.
Gini aja, kita pulang sekarang dan mampir kerumah Ghufa untuk memastikan kalau Ghufa baik-baik aja. Resti langsung mengangguk-anggukan kepala setuju dengan perkataan kekasihnya. Diam-diam Rendi mengirim pesan ke group untuk menginformasikan keadaan.
Kayaknya rencana kita berjalan dengan sangat lancar. Resti udah beberapa kali telepon gw nih, ucap Ghufa menunjukkan jumlah panggilan masuk pada handphonenya. Akting kalian berarti natural banget tu, sampai dia ga ngeh gitu.
Kayaknya kebiasaan lo yang gampang molor deh yang bikin dia jadi was-was, makanya dia nelponin lo mulu. Rasa khawatir dia ke lo lebih mendominasi pikirannya dibanding lo yang ngambek gegara omongan dia.
Walaupun agak meleset dari rencana awal, tapi ga papa lah kita ambil keuntungan dari kebiasaan gw yang gampang tidur dimana aja. Pasti dia ketakuan gw ketiduran di motor.
__ADS_1
Cengkring, suara pesan dari group wa, semua membuka telepon genggamnya masing-masing dan membacanya.
Oke ladies, kita menuju rencana selanjutnya, ucap kak Bimo memberi komando. Ternyata kak Bimo sayang banget ya sama Resti, sampai mau bela-belain ikut kita ngerjain adiknya. Biasanya kan para kakak pada masa bodoh sama kehidupan pribadi adiknya. Apalagi beda jenis kelamin, ucap Jenika.
Dimata kalian, kakak keren dong?
Keren banget, udah ganteng, pinter, perhatian, sayang sama keluarga lagi. Siapa coba perempuan yang berani nolak kakak? kata Queen yang membuat Bimo tanpa sadar memandang Ghufa sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali dan fokus berkendara.
Ada apa dengan tatapan Jenika? OMG, jangan-jangan laki-laki itu kak Bimo?
wah wah wah, ternyata oh ternyata, batin Queen dengan senyum yang tak bisa dibendungnya.
Kenapa lo senyum-senyum sendiri? tanya Ghufa kepada Queen.
Gw punya cerita, kalian dengerin ya.
Ya. Hmm.
Jadi ada dua wanita cantik, yang satu kepribadiannya kayak putri kerajaan yang selalu melakukan sesuatu dengan sempurna dan tanpa cela yang satu agak sembrono dan suka-suka dia, tapi hati mereka semuanya baik. Ketika pangeran datang mencari istri, siapa yang dia pilih?
Yang kelakuannya kayak princess dong, jawab Ghufa. Klo menurut lo apa Jen?Klo gw sih, tergantung pangerannya ingin istri yang seperti apa? yang sempurna belum tentu membuat kita bahagia.
Klo kak Bimo, milih istrinya mau yang seperti apa? tanya Queen yang sebenarnya ingin mengetahui kriteria wanita idamannya.
Klo kakak setuju dengan pendapat Jenika, Kebahagiaan datang bukan dari kesempurnaan. Pasangan hidup kita adalah cerminan dari diri kita sendiri. Yang penting orang itu bisa membuat kita mengalihkan dunia.
Kak, klo Queen belum kenal sama Kevin, pasti Queen jatuh cinta sama kakak.
Bimo hanya tersenyum mendengar celotehan Queen. Tuh senyuman kak Bimo aja sudah mengeser posisi Kevin.
Queen, lo kok jadi genit sih pake acara ngegodain kak Bimo, ujar Ghufa yang dari tadi mencoba menelaah maksud perkataan Queen yang pastinya mempunyai tujuan tertentu.
Kenapa lo yang sewot? Siapa yang sewot, jawab Ghufa
Kenapa kalian jadi berantem? tanya Jenika
Kalian bertiga ga bisa diam ya? ucap Bimo menghentikan perdebatan sahabat-sahabat adiknya.
Mereka tersentak, diam lalu maaf kak.
__ADS_1