
Cuaca pagi ini lebih dingin dari biasanya, hujan deras yang sejak semalam mengguyur ibukota mengakibatkan banyak jalan yang tergenang dan pastinya membuat kemacetan.
Pagi ini, Ghufa masih duduk ditepi tempat tidur, mengumpulkan nyawanya untuk memulai aktifitas. Ingin rasanya berbaring kembali, melanjutkan mimpi indah yang sudah lama tak pernah menghampirinya sejak malam itu. Entah kenapa sejak penolakan Ryan, membuat Ghufa merubah pandangan hidupnya.
Namun sejak kehadiran Dhika, ia mulai kembali seperti dulu. Merasakan rasa untuk tertarik kembali dengan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki.
Saat merenggangkan otot-otot tubuhnya handphonenya bergetar, pesan dari Ryan.
"Fa, gw anter lo sekolah ya."
Belum sempat Ghufa membalas, ada pesan masuk dari Dhika,
"Fa, gw jemput ya, 20 menit lagi gw sampai."
Ghufa membaca pesan Dhika dengan hati yang berbunga bunga. Tak menyangka akan mendapat pesan darinya. "Tahu dari mana nomor gw?" memikirkan hal itu saja membuat senyum Ghufa tak lepas dari bibirnya. Dengan segera ia membalas pesan Dhika,
"Oke, hati hati ya."
Saking senangnya ia melupakan pesan dari Ryan.
Ketika turun kebawah, di meja makan semua sudah berkumpul, "pagi semua" sapa Ghufa sambil duduk disamping adik laki-lakinya Adinata.
"Pagi sayang" balas mama sambil menyendokkan nasi goreng.
"Diluar masih hujan, nanti ayah antar, sekalian antar adikmu" ujar ayah sambil melanjutkan membaca koran.
"Ghufa dijemput teman yah."
"Siapa? Ryan?" tanya ayah yang langsung meletakkan korannya.
"Bukan Ryan yah, teman sekelas Ghufa, namanya Dhika."
"Ayah ga pernah dengar kamu cerita tentang Dhika."
__ADS_1
"Gebetan baru nih" goda Kak Nanda sambil menyenggol lengan Ghufa.
"Apaan sih kak" ujar Ghufa malu malu.
"Anak mama, udah mulai kambuh lagi nih sifat tukang naksirnya" goda mama menimpali.
"Ihhhh mama, kenapa ikut ikutan segala sih."
"Tapi bukannya kamu sama Ryan udah baikkan?" tanya kak Nanda.
"Astaga" ucap Ghufa teringat pesan Ryan yang belum sempat dibalasnya.
Ghufa langsung mencari ponsel di dalam tasnya dengan panik. Namun benda yang dimaksud tak kunjung ketemu.
"Arrhhh kemana sih ponselnya" gumam Ghufa kesal.
"Coba dingat-ingat kapan terakhir dipakai, atau coba dimiscall Yah" saran Mama membantu.
"Ghufa ingat Ma, ada diatas kasur."
Ting nong, ting nong.
Mama pun beranjak untuk membukakan pintu rumah sedangkan Ghufa sudah kembali kekamarnya untuk mengambil handphonenya.
Ketika turun betapa paniknya Ghufa melihat Ryan dan Dhika disana.
"Mati gw, ya Tuhan selamatkan hamba dari situasi ini" dengan cepat Ghufa memutar otak untuk mencari solusinya, "otak oh otak bekerjalah." Kemudian ide cemerlang pun terpikirkannya.
Dengan penuh percaya diri dia menyapa Ryan dan Dhika yang membuat semua mata tertuju ke arahnya, tak terkecuali ayah yang ingin meminta penjelasan lebih, namun harus diurungkan karena situasi yang terlihat rumit dan ingin tahu bagaimana anaknya menyelesaikan masalah ini.
Sedangkan terdakwa dengan santainya berkata, "Ma, tadi pagi Ryan ada WA Ghufa, katanya kangen sama nasi goreng buatan mama, ya kan Ryan?" ujar Ghufa memberi kode lewat tatapan matanya, berharap Ryan mau bekerja sama dengannya.
Ryan hanya diam memperhatikan semua perkataan dan tindakan Ghufa, seperti inikah perubahan Ghufa selama menjauh darinya, ia seperti tidak mengenali Ghufa. Gadis kesayangannya yang polos dan jujur berubah menjadi ratu drama penuh kebohongan. Terlihat sangat natural, "apakah dia sering melakukannya?" batinnya.
__ADS_1
Dia harus menyelidiki ini semua, dengan segera ia meladeni sandiwara yang harus diperankannya.
"Iya tante, udah lama Ryan ga makan nasi goreng buatan tante.
Bolehkan tante?"
"Tentu boleh dong, sini duduk dulu" menunjuk kursi yang tadi ditempati Ghufa.
Celah tersebut dimanfaatkan Ghufa untuk kabur.
"Ma, Pa, Kak, Ghufa sama Dhika berangkat dulu ya" pamit Ghufa menyalami mereka. Dan tak lupa ia mencium pipi adik gantengnya. Ketika melewati Ryan ia berbisik "maaf"
"Om, tante, semua, Dhika berangkat dulu" pamit Dhika lalu menyusul Ghufa yang sudah menghilang.
"Kenapa sekarang kak Ghufa jadi centil gitu sih" protes Adinata yang tak suka dengan sikap Ghufa barusan
"Hus, anak kecil ga usah ikut ikutan" jawab Nanda menempelkan jari telunjuk dibibirnya.
"Kamu sebenarnya mau nganterin Ghufa kan?" tanya Ayah to the point.
Ryan hanya menoleh dan tersenyum.
"Tolong maafin anak tante ya Yan, Tante juga ga tau, kenapa tadi Ghufa memilih berbohong" ucap Mama mengambil alih ucapan Ayah.
Mama meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas susu coklat kesukaan Ryan didepannya.
"Makasih tante, ga ada yang perlu dimaafkan tante, Ghufa ga salah kok, mungkin malah salah Ryan yang masuk ditengah tengah mereka."
"Om bangga sama sikap kamu" ucap Ayah sambil menepuk lembut bahu Ryan.
"Ayo nak" ajak Ayah kepada Adinata.
"Ayah berangkat dulu ya Ma"
__ADS_1
"Hati-hati Yah" ucap Mama mengantar kepergian Ayah dan Adinata. Tak lupa Ayah mencium kening Mama. Mereka masih terlihat mesra walaupun sudah memiliki anak yang sudah beranjak dewasa.
Sementara di meja makan, "kalau sudah selesai sarapan, bisa anterin gw ke kampus? ada yang mau gw bahas soal Ghufa" kata kak Nanda kepada Ryan.