Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Kata Bijak Kakak


__ADS_3

Ghufa mencari kak Nanda di kamarnya.


Tok tok tok, "kak, Ghufa masuk ya" ucap Ghufa meminta izin.


"Masuk aja dek" saut kak Nanda dari dalam.


Ghufa berjalan mendekati kakaknya yang sibuk dengan laptopnya.


"Tunggu bentar ya Dek, nanggung sebentar lagi selesai" ucap kak Nanda yang masih fokus pada layar monitor didepannya.


"Santai aja kak" ucap Ghufa menuju tempat tidur yang terletak disudut ruangan. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Ia memandang sekeliling ruangan. "Berubah lagi" gumamnya.


"Kak, kakak ga capek ya tiap bulan dekor ulang kamar?" tanya Ghufa heran melihat kebiasaan kakaknya yang selalu merubah letak tata ruang kamarnya.


"Ga tuh dek, biasa aja" jawab kak Nanda singkat.


"Memangnya ga berat kak, geser-geserin barang-barangnya? lagian buat apa sih kak, nambahin kerjaan aja" ucap Ghufa heran.


"Memangnya kakak kayak kamu, melihara sifat males" ucap kak Nanda menyindir adiknya.


"Ghufa bukannya males kak, cuma enggan untuk neko-neko"


"Alesan aja kamu dek"


"Kakak aja yang ga ada kerjaan kali, makanya dari pada bosen jadi ngobrak ngabrik kamar"


"Itu namanya seni dek, mungkin saja dengan suasana baru, kita akan mendapatkan energi positif untuk menyempurnakan hari kita. Dan dapat menimbulkan semangat untuk meraih mimpi" ucap kak Nanda yang sudah ikutan rebahan disamping Ghufa.


"Sejak kapan kak Nanda jadi puitis" tanya Ghufa yang memperhatikan raut wajah kakaknya yang akhir-akhir ini terlihat lebih ceria.


"Kakak lagi jatuh cinta ya? sama siapa kak? ganteng gak? liat dong fotonya" cerca Ghufa penasaran hingga melupakan tujuan awal menemui kakaknya.


"Kamu kesini bukan mau ngepoin kakak kan!" ucap kak Nanda mengingatkan Ghufa.


"Oiya" tanpa sadar Ghufa menepuk jidatnya sendiri.


Agar lebih nyaman Ghufa membalikkan badannya menjadi tengkurap dan meraih boneka teddy bear besar untuk dipeluknya.


"Kak, kata Mama tadi pagi kakak minta anterin Ryan ke kampus? bukannya kakak ga ada kelas pagi ya hari ini?" tanya Ghufa dengan muka serius.

__ADS_1


Kak Nanda tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya, ia memperhatikan mimik wajah adiknya, dengan senyum jailnya ia berkata, "kepo yaa?"


" iihhhhh, kakak nyebelin banget sih!" ucap Ghufa kesal dan memukul-mukul badan kakaknya dengan boneka tedy bear.


"Hahahaha" tawa kak Nanda menggema dikamarnya.


"Ghufa serius kak" ucap Ghufa merajuk meminta kakaknya untuk tidak menjahilinya.


"Oke oke, kakak memang sengaja minta diantar Ryan karena ada yang mau kakak bahas."


"Bahas apa? emang kakak ada masalah apa sama Ryan. Kenapa Ghufa ga tahu" tanya Ghufa memotong dan menganalisa sendiri.


"yaaa yaaa yaaa, jangan dipotong dulu, kakak kan belum selesai ngomong, ga sabaran banget sih kamu dek."


Dengan cengiran kuda, Ghufa memberikan senyuman dan tanda peace kepada kakaknya.


"Kakak tahu dari Mama kalau kemarin Ryan ngungkapin perasaannya ke kamu."


"Hah? kok Mama bisa tahu" tanya Ghufa panik karena malu. Ia menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Haduhhh, malu-maluin aja sih."


"Kenapa Ghufa yang mesti malu, yang ngungkapin kan Ryan. Lagi pula siapa suruh bikin keributan di depan rumah. Mengundang rasa penasaran Mama lah. Sifat kepo Ghufa kan warisan dari Mama" jelas kak Nanda mengingatkan.


Ghufa hanya manggut-manggut mengiyakan perkataan kakaknya. "Terus kak" pinta Ghufa.


Ghufa berasa bersalah dan sedih mendengar penjelasan kakaknya. Ia juga melihat betapa kecewanya Ryan akan dirinya. Tapi ia tak mau Dhika kecewa jika ia tau yang sebenarnya. Ia takut Dhika mengganggapnya perempuan berhati dua. Walaupun kenyataannya memang seperti itu. Ia ingin Ryan di sisinya namun disisi satunya ia juga menginginkan Dhika. Apakah terlalu egois keinginannya?


"Apa aku tanya pendapat kak Nanda aja ya?" batin Ghufa.


"Kak jawaban Ryan gimana? Apa Ghufa terlalu egois kak, jika Ghufa menginginkan keduanya."


Kak Nanda menutup matanya sebentar, mencoba mengerti pola pikir adiknya, namun ia tetap tak dapat mengerti. Dibukanya mata yang terpejam dengan perlahan yang diiringi tarikan nafas yang berhembus dengan berirama.


"Dek, berusahalah jangan bersikap egois, jangan hanya mementingkan keinginan kamu sendiri. Kalau kamu mau keduanya. Itu artinya kamu mendua. Memangnya kamu mau di duain atau dimadu?"


"Ya enggak lah kak, pertanyaan kakak aneh banget."


"Nah itu kamu tahu, kalau kamu gak mau diduain lalu apa yang kamu lakukan ke mereka? Cobalah mengerti posisi Ryan atau Dhika, jika kamu diposisi mereka, apa yang kamu harapkan."


"Hubungan yang jelas dong kak. Tapi masalahnya Ghufa masih bingung mau pilih siapa?"

__ADS_1


"Kamu sukanya sama siapa?" tanya kak Nanda mencoba membantu adiknya menentukan pilihan hatinya.


"Kakak kan tahu, klo Ghufa pernah ngungkapin perasaan Ghufa ke Ryan. Cuma kan Ryannya nolak Ghufa kak. Mana alesannya cuma nganggep Ghufa adiknya lagi, klise banget kan kak. Bikin patah hati aja. Sekarang waktu Ghufa udah bisa move on, dia dateng lagi. Ghufa kan jadi bingung sendiri. Wajar dong kak, jika Ghufa masih ingin meyakinkan diri Ghufa sendiri."


Nanda mengelus-elus rambut adiknya dengan lembut." Cinta itu rumit. Ga ada rumus untuk memecahkan persoalan yang berhubungan dengan cinta. Kalau sudah dikuasai oleh hati, logika dan otak cerdas pun akan kalah darinya."


***


Ghufa merenungkan kata-kata kakaknya.


Ia memikirkan jawaban dari Ryan akan pertanyaan kakaknya. Ia tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Ryan.


"Gw sayang banget sama Ghufa, dari dulu hanya ada dia, perlahan-lahan dengan pasti dia mengisi penuh hati gw. Walaupun gw terlambat menyadarinya. Setidaknya Ghufa sekarang udah tau.


Kalau ditanya gimana perasaan gw tadi pagi, pasti gw kecewa banget, gadis kecil gw bukan hanya bertambah besar tapi juga berhati cabang. Langkah gw selanjutnya, tergantung keputusannya."


Ghufa pun tak membuang-buang waktu, ia langsung bergegas ke rumah Ryan.


Disana ia disambut Bunda Karina dengan hangat.


"Anak gadis Bunda sudah pulang" sapa bunda Karina yang memeluk Ghufa dengan penuh kerinduan. "Bunda kangen banget sama kamu sayang" ucapnya sambil melepas pelukan.


"Kamu sudah makan sayang? kita makan bareng ya?" ajak Bunda Karina.


"Ghufa sudah makan Bun" tolak Ghufa halus.


Raut kecewa jelas terlihat di wajah Bunda Karina, Ghufa melihatnya dan berjanji akan sering main kesini lagi seperti dulu.


Ucapan Ghufa membuat hati Bunda Karina senang, ia sangat merindukan kehadiran Ghufa setahun belakangan ini, ia tahu permasalahan Ghufa dam anak laki-lakinya, jadi ia tak memaksa Ghufa untuk main kerumahnya.


"Ryannya dimana Bun" tanya Ghufa setelah berhasil menyakinkan Bundanya.


"Di kamarnya sayang, naik aja, nanti Bunda bawain cemilan kesukaan kamu" kata Bunda kemudian berlalu menuju dapur.


Ghufa naik keatas menuju kamar Ryan, selangkah demi selangkah ia nikmati kenangannya di rumah ini, yang sudah tak terhitung jumlahnya. Tata letak dan dekorasi pun masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah.


Di depan kamar Ryan, Ghufa ragu, ia hanya berdiri tanpa ada gerakan sedikitpun. Sampai akhirnya pintu itu terbuka.


Ceklek, Ryan dan Ghufa sama-sama terkejut. Saling diam untuk sesaat. Tak ada yang mau memulai pembicaraan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2