
Keheningan terjadi sesaat ketika kedua sisi terlihat saling memandang dan menilai seberapa besar kekuatan lawan hanya lewat tatapan mata. Dengan senyum menungging, Dhika melepaskan tangannya yang dia letakkan di pucuk kepala Ghufa. "Fa, anterin gw sampai depan ya?" minta Dhika dengan sengaja.
"Hmm, iya" jawab Ghufa polos tanpa tahu ada maksud tersembunyi.
Mereka pun berjalan melewati Ryan yang berdiri tak jauh dari pintu masuk. Dari dalam Ryan memperhatikan tindak tanduk Dhika yang secara jelas sudah mengibarkan bendera perang untuknya.
"Dasar bocah" gumamnya dengan suara pelan setelah melihat adegan perpisahaan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan tapi mampu membuat hatinya panas.
"Jangan ngebut bawa motornya" ucap Ghufa mengingatkan.
Senyum tipis Dhika cukup mewakili perhatian yang Ghufa berikan. Sebelum beranjak ia sembat menggengam tangan Ghufa dan mengatakan kalimat yang membuat Ghufa tercengang.
"Fa, gw tahu dihati lo sekarang ada dua hati, izinin gw ya untuk tetap ada disana."
Ryan menyusul kedepan karena melihat Ghufa yang masih berdiri terpaku ditempatnya padahal Dhika sudah pergi.
"Kenapa bengong? habis ditembak ya?" ucap Ryan menebak apa yang terjadi.
Bukannya menjawab, Ghufa malah menangis, dilihatnya Ryan yang berdiri tepat didepannya, dipeluknya Ryan untuk sandaran hatinya yang dilanda kebimbangan, ia butuh kekuatan untuk menguatkan hatinya saat ini.
"Fa, klo perasaan aku ke kamu buat kamu bingung dan rasa sayang aku ke kamu hanya buat kamu tertekan, izinkan aku untuk mundur, supaya kamu ga ada beban dengan Dhika nantinya" ucap Ryan yang merasa bersalah akan perasaannya yang membuat Ghufa mengeluarkan air mata. Ia memang ingin memenangkan hati Ghufa kembali. Namun kalau hanya membuat Ghufa bersedih, ia rela mengalah untuk kebahagian Ghufa.
Bagai terkena letupan minyak panas, kaget dan sakit, itulah yang dirasakan Ghufa saat mendengar izin Ryan untuk mundur. Namun ia hanya diam, tak ingin mendengar alasan dan tujuan Ryan mengatakannya karena ia sendiri juga tak tahu kemana hatinya ingin berlabuh.
"Sekarang kamu masuk kedalam, bersih bersih, aku akan telpon Resti buat nemenin kamu dirumah."
"Nanti aku aja yang ke rumah Resti" ucap Ghufa lesu.
"Yaudah, masuk sana kedalam, aku tunggu disini. Nanti aku antar."
***
"Kamu nanti ikut acara Resti yang di Pulau Umang?" tanya Ghufa disela-sela perjalanan menuju rumah Resti.
"Jika kamu menginginkannya, aku akan ikut" ucap Ryan yang tetap melanjutkan langkahnya, namun tiba tiba ia berhenti dan mengatakan "Begitu pula jika kamu tak menginginkannya" imbuhnya sembari membalikkan tubuh dan menatap Ghufa yang tertinggal sejak ucapan Ryan di awal.
"Kalau kamu mau ikut, ya ikut aja, kenapa harus terpengaruh sama keinginan aku. Atau gak, kamu takut kan ketahuan kalah saing sama kak Bimo" ucap Ghufa mengalihkan suasana.
"Harus Bimo yaa, yang dijadiin tameng."
"Ya masa, si bucin Rendi, gak mungkin kan?" ujar Ghufa dengan sedikit senyum.
"Klo senyum tu yang ikhlas, jangan pelit gini" ucap Ryan mencubit gemas pipi gempil Ghufa.
"Ihhh, sakit tau" rintih Ghufa agar Ryan berhenti mencubit pipinya.
"Maksud kamu apa bilang aku takut kalah saing sama Bimo" tanya Ryan setelah puas mencubit pipi Ghufa.
__ADS_1
"Ya, kita kan pergi ke pantai, main voli pantai, banana boat, snorkling, berenang, pasti nanti kak Bimo ada adegan buka bajunya, hadehhh itu roti sobeknya pasti enak banget dilihat" ucap Ghufa sembari membayangkan beberapa potong adegan drama korea yang menampilkan Ji Chang Wook dengan perut roti sobeknya.
Alhasil Ghufa mendapatkan sentilan keras dikeningnya untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Aduh" teriak Ghufa karena kesakitan.
"Ga usah ngehayal makanya, lagian tahu dari mana Bimo perutnya kayak gitu?" tanya Ryan penasaran.
"Ya karena pernah liat lah" jawab Ghufa sembari mengelus elus keningnya.
"Ngintip?" selidik Ryan
"Ya kali Yan aku semesum itu, orang liatnya pas kak Bimo selesai nge gym" ucap Ghufa membela diri.
"Jadi menurut kamu karena perut Bimo bagus dan aku enggak, jadi aku malu gitu ya? lagi pula tau dari mana klo perut aku ga sebagus Bimo, kamu kan ga pernah liat" kata Ryan yang tidak terima dengan pernyataan Ghufa.
"Emang ga pernah liat, cuma pernah merasakan tindiannya" jawab Ghufa yang tanpa sadar mengingatkan momen malam itu.
Pandangan mata Ryan membuat Ghufa menyadari kesalahannya, ia merutuki dirinya yang sering berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu.
"Yan" panggil Ghufa menyadarkan Ryan akan kebisuan yang terjadi sesaat, bukannya menjawab Ryan malah mengelus bibir merah Ghufa yang sedikit bengkak, yang membuat sang pemilik merasakan ada sesuatu yang menjalar ditubuhnya.
"Ini kenapa? di cium Dhika?" tanya Ryan yang masih melakukan aktifitasnya
"Enggaklah, emang aku cewek apaan ngebiarin disosor orang gitu aja, ini tadi makan bakso kepedesan terus Dhika ngeliatin mulu jadi ga sengaja kegigit bibirnya" jawab Ghufa menjelaskan yang terjadi.
Ryan tersenyum senang mendengar penjelasan Ghufa, namun ia tetap tidak menghentikan aktifitasnya.
"Ganggu aja lo" kata Ryan tanpa melihat wajah orang yang menegurnya.
"Masuk gih" perintah Ryan kepada Ghufa yang langsung dituruti.
"Permisi ya kak Bimo" sapa Ghufa sebelum masuk kedalam. Malu seperti ketahuan berbuat mesum.
"Lama banget sih lo, jalan jongkok emangnya?" tanya Resti yang sudah menanti kehadiran Ghufa.
"Maaf maaf, banyak insiden tadi" jawab Ghufa membela diri.
"Bibir lo kenapa? anjrit dicipok siapa? ganas banget" tanya Resti kepo karena melihat bibir Ghufa yang bengkak.
"Sembarangan klo ngomong" jawab Ghufa menjitak kepala Resti karena pernyataan ngawurnya.
"Ga bisa ya klo tangan ga bertindak, cukup mulut aja yang kerja" omel Resti karena jitakan Ghufa.
"Gak bisa, satu paket soalnya"
"One question one story" ucap Resti memberikan pilihan untuk Ghufa sekaligus balas dendam karena jitakan yang diterimanya.
__ADS_1
"Wah, teman apaan tuh!"
"Teman yang memiliki rasa kepo yang tinggi" jawab Resti berusaha memperdayai Ghufa.
"One story for all my questions, deal?" ucap Ghufa nego.
"Oke deal" jawab Resti yang membalas jabatan tangan Ghufa.
Mereka berdua tengah asyik dengan berbagai rumus untuk memecahkan soal-soal yang ada di buku ataupun soal yang ada di aplikasi belajar online.
Sampai tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.
Ghufa dijemput ayahnya, namun ternyata Ghufa sudah tertidur pulas di ranjang Resti yang masih berantakan dengan layar laptop yang masih menyala dan beberapa buku yang berserakan disekitarnya.
Karena tidak mau membangunkan, Bimo membantu untuk menggendong Ghufa ke mobil.
"Maaf ya sudah merepotkan" kata Ayah Ghufa kepada Bimo.
"Ga repot kok Om, Ghufa sudah dianggap keluarga sendiri disini" jawab Bimo sopan.
"Terima kasih klo begitu dan salam untuk orang di rumah" pamit Ayah Ghufa kemudian.
***
"Yah, semalam kok Ghufa udah di kamar aja, Ayah ya yang gendong Ghufa? kenapa ga dibangunin aja, Ghufa kan berat yah" kata Ghufa ketika sedang di meja makan.
"Makanya klo tidur tuh jangan kayak orang mati, heran bisa bisanya pules begitu. Klo ada gempa atau kebakaran gimana coba?" ucap kak Nanda yang mengomentari cara tidur adiknya yang luar biasa.
"Ihhh, kakak kok gitu sih ngomongnya" ucap Ghufa.
"Untung aja Bimo kuat gendong karung beras kayak kamu" ucap kak Nanda lagi. Ia mengomentari adiknya yang bertambah gembil.
"Hah,kak Bimo? bukannya ayah yang gendong Ghufa?"
"Ayah cuma gendong kamu dari mobil ke kamar aja" jelas Ayah yang sedang menikmati kopi sembari membaca koran.
"Berarti yang gendong gw dari kamar Resti ke mobil, kak Bimo dong, haduhhh gw tidurnya ngiler gak yaa, nih mulut mingkem apa manggap? ngorok ga yaa? banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri, haduh malu dong gw" batin Ghufa yang penuh dilema.
"Ni susunya diminum dulu sayang" ucap Mama yang menyadarkan Ghufa dari lamunannya.
"Iya ma, makasih ma."
"Ma, memangnya Ghufa gemuk yaa?"
Pertanyaan Ghufa membuat kak Nanda dan adiknya Adinata tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kak Ghufa baru sadar klo gemuk setelah di gendong kak Bimo? malu yaa" ledek Adinata yang mudah sekali menebak jalan pemikiran kakaknya.
__ADS_1
"Mulutmu dek" ucap Ghufa yang menjejalkan roti panggang kemulut adiknya yang comel.
"Udah udah, ayo berangkat" ajak Ayah agar debat anak anaknya berhenti.