
Suasana kantin yang hiruk-pikuk tidak sebanding dengan kehebohan yang terjadi di taman sekolah. Ghufa, Resti, Queen dan Jenika memilih menghabiskan waktu istirahat mereka disana agar lebih leluasa dan bebas dalam berekspresi. Jenika membawakan beberapa roti dan sandwich untuk pengganjal perut. Dengan tambahan jus alpukat cukup untuk bertahan sampai bel pulang sekolah.
"Gimana tadi try out bahasa inggris lo Fa?" tanya Jenika.
"Lancar-lancar aja Jen" jawab Ghufa sembari mengunyah roti.
"Lo terlalu mengkhawatirkan nilai Ghufa Jen, orangnya sendiri aja cuek bebek begitu. Bikin sakit hati aja" ucap Queen sewot. Ia kesal karena Ghufa sudah memiliki kaos berwarna unggu terang.
"Gw kemarin emang ga belajar, bukan berarti gw ga pernah belajar kan. Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan gw Jen, gw bukan anak kecil yang berbuat sesukanya tanpa ada rasa tanggung jawab. Dan terima kasih atas perhatiannya. Lo nanti pasti akan jadi ibu yang hebat."
"Jangan terlalu tinggi muji gw nya, klo gw sampe lupa daratan gimana?"
"Ya kelaut aja" jawaban Queen membuat Jenika mendelik.
"Res, sebelum kocokan kedua dimulai, gw boleh cancelkan soal persetujuan pertukaran warna?" tanya Jenika yang membuat Queen langsung meminta maaf dan merayunya agar menarik kembali perkataannya. "Jenika sayang sejak kapan kamu jadi pendendam? ga bagus ah untuk kesehatan, dendam itu mengalirkan aura negatif ke seluruh tubuh. Nanti bikin cepat keriput" rayu Queen yang membuat Resti dan Ghufa tertawa terbahak-bahak. Jenika pun menikmati momen tersebut dengan lebih mendramatisir keadaan. Setelah puas ia pun meminta Resti untuk mengabaikan permintaannya.
"Udah puas nih, ngerjain gw nya?" tanya Queen kepada Jenika. Jenika pun hanya mangut-mangut tanda setuju.
"Jangan main-main dulu makanya sebelum mendapatkan tujuan" saran Ghufa membuat Queen membuang mukanya. Ia sangat kesal, "kenapa gw yang dikerjai, yang ulang tahun kan Resti" gerutu Queen yang hanya didengar Ghufa dan Jenika, karena Resti sedang mengangkat teleponnya dan dapat dipastikan itu dari Rendi, dilihat dari nada bicara Resti tentunya.
"Tentu aja dia bakal kena bagian, lo lupa rencana kita?" bisik Ghufa ditelinga Queen. Ucapan Ghufa membuat Queen mengingat akan rencana yang sudah mereka susun dan melupakan apa yang barusan terjadi dan kembali bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Lo ngomong apaan Fa, Queen sampai kayak kerbau dicocok idungnya?" tanya Resti setelah selesai menjawab panggilan teleponnya.
"Cuma sugesti positif aja" jawab Ghufa secuek mungkin, berusaha agar tidak dicurigai Resti.
"Yaudah, yuk mulai kocokan keduanya" semua pun bersiap menerima kertas kocokan dari Resti. Dan hasilnya pun membuat Queen senang bukan kepalang, tak sia-sia ia tadi merayu Jenika, warna violet diperolehnya setelah bertukaran dengan Jenika.
Dan hasil akhir dari dua kocokannya adalah
Resti : neon dan peach
Ghufa : unggu terang dan mint
Queen : kuning stabilo dan lavender
Jenika : orange dan baby blue
__ADS_1
"Balik ke kelas yuk" ajak Jenika setelah urusan mereka selesai. "Gw ketoilet sebentar ya" pamit Ghufa meninggalkan mereka. Di toilet Ghufa merapikan rambutnya dan memoles lip gloss dibibirnya. "Perfect" gumamnya puas dengan hasil pantulan dirinya dikaca.
Ketika keluar dari toilet ia tak sengaja berpapasan dengan Dhika, Dhika menatap lekat Ghufa yang terlihat sangat fresh walaupun tanpa make up, polesan dibibir cukup untuk menonjolkan aura kecantikannya, meskipun Ghufa selalu rendah hati tidak pernah mengakui kecantikannya. Tidak seperti wanita lain yang selalu merasa dirinya cantik dengan tampilan full make up mereka. Padahal tampil dengan make up sederhana saja sudah cukup.
"Kamu makan dimana Fa, aku ga lihat kamu di kantin?" tanya Dhika yang memang tadi mencari keberadaan Ghufa.
"Makan di taman sama anak-anak, kamu nyariin aku?"
"Iya"
"Ada apa?"
"Kangen"
Ghufa tersenyum lebar sehingga menampakkan lesung pipitnya, "singkat banget sih jawabannya, kayak disuruh bayar aja klo ngomong agak panjangan dikit."
"Aku sengaja"
"Sengaja? kenapa?" tanya Ghufa tidak mengerti.
"Dari kemarin kamu kelihatan sibuk banget, aku jadi kehilangan arah."
"Dokternya sibuk terus sih, jadi belum sempat dikasih resep sama obatnya" ucap Dhika dengan cenggirannya.
"Barusan kan udah dikasih obatnya, kenapa belum sembuh?"
"Umumnya obat dimakan tiga kali sehari, klo belum sesuai dosis, bagaimana bisa sembuh!"
"Berarti dua kali senyuman lagi bisa sembuhin penyakit gombal kamu nih!" tanya Ghufa yang dibalas Dhika dengan mengherdikkan bahunya. "Kalau belum dicoba mana tahu?"
Secara otomatis Ghufa melebarkan bibirnya sebanyak dua kali, seperti sedang latihan senyum untuk foto ijazah.
Dhika menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak puas, "terlalu kaku, kurang alami."
Ghufa mengulang senyumannya dengar memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Fa, kita lagi ga syuting pasta gigi. Ga usah sampai nyegir kuda begitu" ucap Dhika yang membuat Ghufa langsung mengatumkan bibirnya. "Kamu ngerjain aku yah?" tuduh Ghufa yang merasa terpedaya oleh permintaan Dhika.
__ADS_1
"Sedikit."
"Sedikit?" ulang Ghufa yang tampak hendak memukul Dhika, namun Dhika sudah menghindar dengan berlari menjauh. Ghufa pun mengejar dengan melangkahkan kakinya lebar-lebar agar tidak tertinggal jauh.
Di depan kelas ia sudah ditunggu Dhika yang membawa susu kotak rasa coklat ditangannya.
"Dasar curang" omel Ghufa saat sudah berdiri didepan Dhika, nafasnya masih tersengal-sengal akibat lari sprint yang baru saja ia lakukan. "Kenapa ga lari ngiterin pohon aja sih kayak film India klo lagi main kejar-kejaran, kan gampang ngenangkepnya."
Ucapan Ghufa membuat Dhika tertawa, "mau diulang adegannya?" tanya Dhika sembari menyodorkan susu kotak yang dibawanya.
"Gak lah, nih aja capeknya belum hilang, lagi pula bisa terkenal dadakan kita klo ngelakuinnya, judulnya "kekonyolan siswa sma dalam mendekatkan hubungan antar lawan jenis" jawab Ghufa yang langsung menyedot habis susunya.
"Judul yang bagus, aku suka."
"Suka? trus ini kenapa susu?"
"Kenapa baru protes setelah susu nya habis?"
"Ya karena kamu nyodorinnya susu, oiya lupa bilang terima kasih."
"Sama-sama, biar kamu tambah tinggi" ucap Dhika memberi alasan.
"Please deh, tinggi aku tuh 163, ukuran pas untuk perempuan Indonesia. Klo kurang tinggi tinggal pakai sepatu atau sendak hak. Simple dan mudahkan solusinya."
"Nih minum air mineralnya" ucap Dhika menyodorkan air mineral yang didapatkannya dari Dimas.
"Kenapa Dimas tiba-tiba bawa air mineral?" tanya Ghufa heran karena tadi melihat Dimas memberikan dua botol air mineral kepada Dhika.
"Tadi aku wa, nitip beliin air mineral sebelum kamu sampai sini."
"Kamu jelmaan cheetah apa aku yang terlalu lambat. Perasaan aku dah lari sekenceng-kencengnya tadi, tapi kamu masih bisa-bisanya ambil susu dikelas dan wa Dimas?"
"Gak usah terlalu dipikirkan, nanti aku kasih rumus fisikanya supaya kamu ga bingung."
"Fisika? kamu ngeledek ya? kamu kan tahu aku lemah difisika."
"Ngomong-ngomong soal fisika jadi keingat tarian hula hula kamu" ujar Dhika mengingat awal mula ia mulai memperhatikan Ghufa.
__ADS_1
"Ah, sudahlah" kata Ghufa meninggalkan Dhika dan masuk ke kelas. Ia malu jika menginggat hukuman yang diberikan Bu Ester kepadanya.