Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Permainan Kata


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke sekolah, hati Ghufa gelisah, ia merasa bersalah atas sikap dan perbuatannya tadi pagi. Padahal mereka baru saja berdamai.


Sepertinya semesta tak mendukung perdamaiannya dengan Ryan.


"Apa ini sebuah petanda?"


Dugaannya membuat tekad untuk memilih Dhika menjadi lebih kuat.


Ghufa tersenyum dengan analisa yang dibuatnya.


"Lagi mikirin apa?" tanya Dhika sesekali melirik Ghufa. Ia senang sekaligus penasaran akan perubahan mimik wajah Ghufa yang tadinya terlihat gelisah menjadi tersenyum. Kemunculan Ryan dan dirinya tadi disaat yang bersamaan pasti membuat Ghufa terkejut. Ia tak tahu alasan Ryan datang berkunjung disaat jam berangkat sekolah Ghufa. "Apa ia ada niat untuk mengantar Ghufa juga?" pikirnya tadi pagi. Namun perkataan Ghufa yang memberi tahu apa yang terjadi, membuatnya mengenyahkan pikiran yang sempat terlintas dipikirannya.


Ghufa tersadar dari lamunannya, ia tersenyum gugup, malu ketahunan sedang melamun.


"Oh, gw cuma penasaran aja sama lo, sikap lo ke gw akhir-akhir ini beda, kenapa?" tanya Ghufa tiba-tiba mengubah jalan pikirannya. Ia tidak mau fokus memikirkan Ryan. Saatnya ia menata kembali hatinya. Kepada pilihan yang sudah ia tetapkan.


Dhika tak siap dengan pertanyaan Ghufa barusan, untungnya suara merdu Ed Sheeran yang melantunkan lagu Perfect memecahkan kesunyian yang tiba-tiba terjadi.


"Mungkin karena gw penasaran sama cewek yang suka diam-diam ngeliatin gw" jawab Dhika setelah bisa menguasai dirinya


Blush, rona merah menjalar perlahan dipipi Ghufa. Dengan sedikit canggung, Ghufa berkata, "ketauan ya," ucapnya yang sudah tidak mau bersikap malu-malu lagi.


"Tahu dong" goda Dhika dengan kerlingan matanya. Puas dengan jawaban Ghufa yang sudah mulai terbuka.


"Sejak kapan?"


"Entah, mungkin sejak awal" jawab Dhika yang sekarang mempunyai hobi baru menggoda Ghufa.


"Hah, serius? kenapa lo diem aja" tanya Ghufa tak berani memandang Dhika lagi, ia alihkan pandangannya ke jendela yang menyuguhkan kepadatan lalu lintas ibukota.


"Apa yang bagus diluar, mending ngeliatin gw aja kayak biasanya dari pada jalanan yang macet."


"Wah kepandaian lo kayaknya bertambah satu ya" ujar Ghufa yang mulai menimpali permainan kata Dhika. Ia berpikir sudah tersiram air apa salahnya basah sekalian.


"Perkataan gw memang benerkan? di kelas lo diam-diam suka ngelirik kearah gw? Nah sekarang gw ada disamping lo, kenapa malah liat yang lain."


"Wah, bener-bener pintar bikin malu orang juga ya lo!"


"Kenapa harus malu. Normal kan kalau suka sama cowok ganteng."


Ckckckc, "ga nyangka gw, tingkat kepedean lo tinggi juga ya?"


"Bukan hanya tingkat kepedaan gw aja yang tinggi. Kualitas gw juga tinggi."


"Dilihat dari mana?"


"Kenapa malah tanya? bukannya lo yang tahu jawabannya?"


"Apa sampai membuat lo diperebutkan?"

__ADS_1


"Gw ga peduli yang terjadi diluar sana. Yang penting apa yang gw lakuin tidak merugikan orang lain."


"Bikin patah hati orang apa termaksud?" tanya Ghufa dengan memandang Dhika.


"Cintakan tak bisa dipaksakan" jawab Dhika senang karena Ghufa sudah memandangnya lagi.


Obrolan mereka harus berhenti karena mereka sudah sampai di sekolah.


Mereka berjalan cepat menuju kelas karena bel memang sudah berbunyi dari tadi, koridor yang mereka lewati juga sudah sepi. Untungnya Bu Dian belum hadir, jadi mereka dengan mudah duduk dikursi masing-masing.


"Kenapa lo bisa bareng Dhika" tanya Resti penasaran.


"Dia jemput gw" jawab Ghufa sambil mengeluarkan buku dan alat tulis.


"Kok bisa? tapi tadi gw liat mobil Ryan ada di halaman lo juga"


"Ceritanya panjang."


"Ahhh, pelit banget lo, gw punya waktu kok buat dengerin" ujar Resti merajuk.


Ghufa pun akhirnya menceritakan kisah paginya yang seperti drama yang sering ditontonnya.


"Gila, sumpah gila banget lo Fa, tega banget lo sama Ryan. Lo dah minta maaf belum?" bisik Resti karena Bu Dian sudah datang.


"Belum, niatnya nanti pulang sekolah gw mau kerumahnya. Udah lama ga kesana kan. Kangen juga sama Bunda Karina."


Bel istirahat baru saja berbunyi,


Ghufa dan Resti tak menyia-nyiakan waktu untuk segera ke kantin. Saat berselisih jalan dikoridor, Ghufa merasa ada yang menatapnya tajam. Perasaan itu ia abaikan begitu saja. Di kantin Queen dan Jenika sudah menunggu.


"Pada pesen apa?" tanya Ghufa kepada mereka.


"Soto, yang kuah-kuah aja biar hangat perutnya" jawab Jenika memberi saran.


"Yaudah deh, gw juga, lo apa Res?"


"Sama juga deh"


"Mang, nambah dua ya sotonya" ucap Ghufa kepada Mang Ujang.


"Minumannya air mineral aja ya" ucap Queen meletakkan empat botol minuman.


"Fa, tadi lo berangkat bareng Dhika ya?" tanyanya.


"Kok lo bisa tau sih" tanya balik Ghufa.


"Ada yang liat dan panas" ujar Queen memberi tahu dan mempraktekkan seseorang yang diliputi api cemburu.


Sontak mereka pun saling tertawa dengan alasan yang berbeda.

__ADS_1


Kasian banget sih lo Fa, belum juga jadian, udah punya musuh aja.


"Pantesan aja tadi gw ngerasa ada yang melototin gitu, kenapa kisah gw ga ada yang lancar kayak jalan tol ya" ucap Ghufa yang tidak puas akan kisahnya yang selalu berliku-liku.


"Siapa yang bilang jalan tol lancar?


Sama aja, padat merayap" jawab Queen membenarkan.


"Ini sotonya neng" ucap Mang Ujang meletakkan empat buah mangkok soto.


"Makasih Mang"


***


Sepulang sekolah, Ghufa langsung mencari Mamanya, ia mau bertanya tentang Ryan, ia penasaran apakah Ryan membocorkan kebohongannya, setelah ia kabur begitu saja.


"Ma, Mama, Mama" panggil Ghufa menuju dapur dan mencium tangan Mamanya


"Gak usah teriak-teriak gitu sayang. Ga baik anak perempuan teriak-teriak" kata Mama menasehati.


"Iya Ma, maaf"


"Ganti baju dulu sana" perintah Mama


"Nanti dulu ya Ma. Ma, tadi Ryan ada ngomong sesuatu ga setelah Ghufa jalan?" tanya Ghufa sambil bergelayut manja.


Mama tersenyum mendengar pertanyaan anaknya, Mama pun mengajak Ghufa untuk duduk di ruang tamu.


Dengan lembut Mama mengelus rambut Ghufa, "ada yang mau kamu ceritain ke Mama?" tanya Mama langsung kepokok permasalahan, ia ingin anaknya berkata jujur.


"Mama udah tahu ya" tebak Ghufa sambil membenamkan tubuhnya dipelukan Mama.


"Ma, Ghufa ga ada maksud bohong kok, Ghufa cuma lupa info aja ke Ryan. Makanya tadi pagi Ghufa panik nyariin ponsel. Mama sama Ayah pasti kecewa ya sama Ghufa" ucapnya sedih karena sudah berani berbohong, apalagi didepan kedua orang tuanya.


"Ghufa sudah minta maaf sama Ryan?" tanya Mama


Ghufa menggelengkan kepalanya, "Niatnya Ghufa mau kerumah Ryan aja Ma, minta maaf langsung. Ghufa juga kangen sama Bunda Karina"


"Mama tadi Ryan gimana?" tanya Ghufa lagi penasaran.


"Ryan ga ngomong apa apa sayang, dia pamit nganter kuliah kakak kamu setelah sarapan."


"Nganter kuliah? kak Nanda kan ga ada kelas pagi Ma" tanya Ghufa heran kakaknya berangkat kuliah pagi.


"Klo penasaran kamu tanya kakakmu atau Ryan aja langsung, kakakmu ada di kamar" jelas Mama memberitahu.


"Makasih ya Ma" ucap Ghufa memeluk dan mencium pipi Mama. "I love you full" imbuhnya yang langsung beranjak ke kamarnya.


Mama hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri keduanya.

__ADS_1


__ADS_2