
"Nih, dimakan dulu" ucap Dhika menyodorkan roti isi pisang keju coklat dan sekotak susu coklat. Ia pun duduk di samping Ghufa yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Ada apa?" tanyanya bingung melihat Ghufa yang dari tadi pagi sudah terlihat seperti ini.
"Ga kenapa-napa" jawab Ghufa singkat.
"Kalau kamu ga mau cerita, aku ga akan maksa, cuma kalau kamu begini karena ada hubungannya dengan omongan aku kemarin, maka kamu lupakan aja. Maaf udah buat kamu menjadi begini, aku pergi, jangan lupa dimakan rotinya, aku ga mau kamu sakit" ucap Dhika panjang lebar sebelum beranjak pergi.
"Jangan pergi, please" ucap Ghufa dengan pandangan memohon.
Dhika menghentikan langkahnya dan kembali duduk disamping Ghufa, ia hanya menemani tanpa bertanya kembali.
"Maaf udah buat kamu khawatir" ucap Ghufa mengikuti gaya bicara Dhika yang merubah sebutan mereka. "Ada sesuatu, yang belum bisa aku ceritain ke kamu, aku cuma minta waktu, kamu ga marah kan?" tanya Ghufa yang menatap Dhika penuh harap.
Dhika tersenyum lega ketika melihat bola mata Ghufa yang sudah tampak lebih ceria, tidak seperti tadi yang terlihat kosong, ia memang tidak mengetahui apa yang dikatakan Resti yang membuat Ghufa seperti syok terhadap sesuatu. Namun sepertinya dugaan akan keterlibatan dirinya dalam masalah itu adalah benar.
"Aku akan nunggu kamu, lagi pula kita itu masih muda, bukan waktunya untuk galau atau bersedih diusia kita, kamu harus membuat dirimu bahagia, ambillah keputusan yang menurutmu baik dan benar, lakukan apa yang kamu inginkan selagi itu tidak merugikan orang lain" ucap Dhika sembari membuka bungkusan roti yang dibelinya tadi dan menyuapkan potongan roti itu ke mulut Ghufa. Secara refleks, Ghufa membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Dhika. Suapan demi suapan Dhika lakukan dengan hati-hati, ia takut menyentuh luka pada bibir Ghufa yang semakin tambah bengkak. "Sepertinya kemarin enggak sebengkak ini" batin Dhika heran akan luka gigit di bibir Ghufa. Dilihatnya luka di bibir itu dengan lebih seksama, bibir yang sejak kemarin menggoda imannya, karena penasaran ia mengelus elus daging kenyal yang seperti jelly itu dengan lembut, terus berputar putar disekitar area yang luka yang membuat sang pemilik membuka sedikit bibirnya karena perasaan tergeletik dan karena harus mengunyah sebanyak 32 kali sebelum menelan potongan roti tersebut. Gerakan yang terus menerus itu hampir membuat Dhika lupa diri, dengan segera dia menarik tangannya dan langsung pergi begitu saja.
"Untung dia pergi, hampir aja gw khilaf" gumam Ghufa didalam hatinya. Ia pun melanjutkan memakan roti dan susu pemberian Dhika dengan perasaan campur aduk, antara senang dengan tindakan lembut tangan Dhika dibibirnya dan gelisah karena takut khilaf.
Untung saja kelas sedang sepi, karena kebiasaan teman-temannya yang tidak mau menghabiskan waktu istirahat di ruang kelas. Walaupun tidak terjadi apa-apa, namun jika ada yang melihat apa yang mereka lakukan, pastinya asumsi mereka sudah berkonotasi negatif.
Tak lama kemudian Resti datang membawakan jus alpukat untuknya, "sorry lama" ucap Resti setelah duduk ditempatnya.
"Ga papa, gw juga udah makan ini" tunjuk Ghufa pada bungkusan bekas roti dan susunya.
"Dari siapa? Dhika?" tanya Resti yang sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri.
"Iya"
"Kayaknya udah lebih ceria nih! habis diapain sama Dhika?" tanya Resti yang melihat perubahan mimik wajah sabahatnya itu.
__ADS_1
"Habis dapat vitamin E" jawab Ghufa memberi kode teka-teki.
"Apaan tuh E?" tanya Resti sangsi.
"Ecium" ucap Resti mencoba peruntukan awal yang dibalas gelengan kepala Ghufa.
"Ekiss" coba Resti lagi yang mendapat toyolan di kepala, "apa bedanya ekiss ma ecium" ujar Ghufa senang berhasil mempermainkan Resti.
"Everything for you? "
"No"
"E kamu mau ga jadi pacar aku?"
"No"
"E aku cinta kamu loh?"
"Gw tau, elusan tangan dibibir jontor lo" ucap Resti dengan senyum kemenangan. Ghufa hanya melirik senyum licik yang tampak sengaja ditorehkan pada wajah cantik yang memiliki IQ diatas rata-rata itu.
"Ada bakat juga lo jadi cenayang" ucap Ghufa tanpa membenarkan jawaban Resti.
"Gw gitu loh, apa sih yang ga gw bisa" ucap Resti bangga akan kamampuan dirinya, padahal ia hanya lebih cermat dan teliti melihat keadaan sekitar sehingga ketika melihat petunjuk sedikit saja, otaknya sudah bekerja dengan sendirinya untuk memberikan jawaban kepada bibir untuk mengungkapkannya.
"Ngendaliin Rendi" jawab Ghufa yang langsung tepat sasaran.
"Ah lo ma gitu" ucap Resti yang langsung menciut kalau sudah berhubungan dengan kekasihnya itu. Seperti burung yang bangga bisa terbang tinggi di angkasa, kepakan sayapnya yang kuat mampu membuatnya mengarungi luasnya langit yang seakan tidak akan pernah tergapai namun tiba tiba burung itu berubah menjadi seekor ayam yang dengan perlahan namun pasti ia akan terjun kebawah karena sayapnya tidak mampu membuatnya bertahan di hamparan udara tanpa adanya pijakan yang pasti.
"Gimana tanggapan anak anak soal kelakuan gw?" tanya Ghufa sembari menyedot jus alpukatnya, waktu istirahat masih 5 menit lagi, sangat cukup untuk mengkonfirmasi atau memastikan lebih lanjut cerita kekonyolannya, namun hal itu tidak dilakukan kedua sahabat yang beda kelas itu.
"Mereka mau kita kumpul-kumpul bareng, nanti pulang sekolah kita main ke toko rotinya Jenika, sekalian nyobain roti-roti keluaran terbaru" ucap Resti yang tampak tidak sabar menanti bel pulang.
__ADS_1
"Masih dua jam lagi Res, sabar, itu iler coba tolong dikondisikan" ucap Ghufa sudah mulai usil kembali.
"Sudah izin lo sama pangeran kuda kelana?"
"Ga usah bahas dia, males gw"
"Berantem lagi? ga cape apa lo kerjaannya berannnnntemmmm mulu" tanya Ghufa yang sengaja memperpanjang intonasi kata berantem.
"Karena terlalu sering, jadi udah jadi kebiasaan, jadi pengen selingkuh" gumam Resti.
"Seorang Resti selingkuh? it's imposible"
"Klo gw beneran selingkuh, lo berani ga nyium Kakak gw didepan Ryan? gw sih pengennya lo nyium Dhika didepan Ryan, cuma kan agak sulit menempatkan mereka dalam satu tempat"
Ghufa terlihat memikirkan permintaan gila sahabatnya itu, yang menjadikan kakaknya bahan taruhan.
"Siapa takut, jadi kapan waktunya?"
"Saat acara sweet seventeen gw, disana gw akan minta putus"
"Itu namanya ga selingkuh dodol, namanya selingkuh tu lo punya affair selagi status lo masih ada kepemilikan" ucap Ghufa merasa terjebak oleh permainan konyol Resti.
"Dengerin gw dulu sampe selesai makanya, nanti saat ke Pulau Umang, gw bakal ajak Andre, selingkuh kan namanya klo begitu?" kata Resti dengan alis yang dinaik turunkan.
"Wah parah lo, udah lo rencanain mateng-mateng ternyata, gw merasa sebagai umpan segar yang sudah disiapkan sejak awal"
"Jangan ngambek gitu, jelek tahu, gw kan cuma nyuruh lo nyium doang, ga spesifik harus cium bibir, lo bisa nyium tangan, pipi, rambut atau apapun. Lo kan pernah ngambil ekskul teater, coba lo tunjukin kemampuan akting lo dong didepan kita-kita"
"Deal?" ucap Resti menyodorkan tangannya.
"Siapa takut, gw juga dah bosen dengerin curhatannya lo soal keposesifan Rendi yang terlalu over"
__ADS_1